Sebuah aliansi strategis yang mengguncang pasar teknologi global terjalin antara raksasa cip Amerika Serikat, Nvidia, dengan perusahaan telekomunikasi asal Finlandia, Nokia.
Nvidia mengumumkan pembelian 2,9% saham Nokia senilai USD 1 miliar (sekitar Rp16,6 triliun), sebuah kesepakatan yang bukan hanya tentang investasi, tetapi juga tentang ambisi besar di balik pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur data center masa depan.
Kabar kesepakatan ini sontak membuat harga saham Nokia melonjak ke level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Kolaborasi ini akan difokuskan pada pembangunan solusi jaringan yang terintegrasi dengan AI, serta mencari peluang untuk menyertakan produk-produk data center Nokia ke dalam infrastruktur AI global milik Nvidia.
Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Nvidia sebagai pemain kunci yang tak terhindarkan dalam memenuhi kebutuhan data center dunia, yang menurut McKinsey, belanja modalnya diperkirakan akan melampaui USD1,7 triliun pada tahun 2030, didorong oleh ekspansi AI yang masif.
Membawa Teknologi Telekomunikasi Kembali ke Amerika
CEO Nvidia, Jensen Huang, secara terbuka mengungkapkan ambisi yang lebih besar dari kesepakatan ini: membantu Amerika Serikat (AS) menjadi pusat revolusi teknologi 6G.
Dalam pidatonya di Washington, Huang secara khusus berterima kasih kepada CEO Nokia, Justin Hotard, yang baru bergabung pada April lalu dari Intel.
Justin Hotard sendiri, yang kini memimpin Nokia untuk mengalihkan fokus ke bisnis data center, melihat investasi Nvidia sebagai kunci.
Dalam wawancara dengan Reuters, Hotard menyatakan bahwa kesepakatan ini didasari pada “teknologi Amerika memberikan kapabilitas dasar, yaitu platform komputasi dari Nvidia, kini dibangun khusus untuk mobile.”
Kemitraan ini menjadikan Nvidia sebagai pemegang saham terbesar kedua di Nokia, menunjukkan besarnya kepercayaan terhadap arah baru perusahaan Finlandia tersebut.
5G, 6G, dan Dompet yang Menguntungkan Pelanggan
Kerja sama antara dua raksasa ini memiliki target waktu yang jelas. Peralatan jaringan berbasis AI yang dikembangkan bersama Nokia dan Nvidia ditargetkan untuk rilis komersial pada tahun 2027, mencakup evolusi teknologi 5G dan lompatan ke 6G.
Saat ini, Nokia bersama Ericsson (Swedia) mendominasi pasar peralatan konektivitas data center, dan lonjakan permintaan AI telah mendongkrak permintaan atas produk mereka.
Meskipun saat ini Nokia mayoritas menggunakan cip dari Marvell—dan cip buatan Nvidia diprediksi akan lebih mahal—analisis pasar tetap optimistis.
Mads Rosendal dari Danske Bank Credit Research menyatakan bahwa Nokia justru akan sangat diuntungkan oleh dominasi Nvidia di pasar data center AS.
Lebih dari itu, kedua perusahaan juga telah bermitra dengan operator telekomunikasi AS, T-Mobile, untuk menguji coba teknologi radio berbasis AI dan 6G yang ditargetkan mulai diuji coba pada tahun 2026.
Investasi AI yang Mendefinisikan Ulang Jaringan
Kesepakatan ini bukan sekadar transaksi keuangan, melainkan sebuah pertaruhan besar pada masa depan infrastruktur jaringan global.
Nvidia, yang sudah menguasai pasar cip AI melalui kemitraan dengan perusahaan super-major seperti OpenAI dan Microsoft, kini memperluas cengkeramannya ke dalam inti jaringan telekomunikasi.
Integrasi AI yang mendalam ke dalam jaringan akan meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan kapasitas, yang sangat penting untuk mendukung beban kerja AI yang semakin berat.
Dengan fokus baru Nokia di bawah kepemimpinan Hotard dan dukungan finansial serta teknologi dari Nvidia, kedua perusahaan berpotensi menciptakan standar baru dalam industri telekomunikasi, mendefinisikan ulang bagaimana jaringan akan bekerja di era 6G.
Ini adalah sebuah sinergi yang diharapkan akan mempercepat inovasi dan membawa teknologi telekomunikasi maju ke fase berikutnya.
Statement:
Jensen Huang, CEO Nvidia
“Terima kasih telah membantu AS membawa teknologi telekomunikasi kembali ke Amerika.”
Justin Hotard, CEO Nokia
“Kunci dari kesepakatan adalah teknologi Amerika memberikan kapabilitas dasar, yaitu platform komputasi dari Nvidia, kini dibangun khusus untuk mobile. Kami berharap hal ini akan membantu AS membawa teknologi telekomunikasi kembali ke Amerika.”



