Media sosial, yang awalnya diciptakan sebagai jembatan untuk menjalin hubungan dan berbagi kabar dari jarak jauh, kini telah bertransformasi menjadi sumber kecemasan masif di kalangan anak muda.
Ironisnya, platform yang seharusnya mendekatkan justru menciptakan jarak. Kita menjadi semakin asing dengan orang yang kita kenal, karena kepribadian mereka di dunia maya seringkali jauh berbeda—sebuah pertunjukan yang melelahkan dan tiada henti.
Kelelahan digital ini bukan sekadar perasaan sepele. Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial telah kehilangan fungsinya sebagai “pelarian yang menyenangkan,” dan kini dianggap sebagai sarang algoritma yang kejam.
Fungsi awal sebagai sarana komunikasi dengan teman telah tergantikan, bertransformasi menjadi mesin penghasil dopamin yang memicu adiksi melalui fitur infinite scrolling.
Fenomena scrolling tanpa batas ini, yang secara konstan menyajikan informasi baru, menjadi titik balik utama (downfall) yang merusak kesehatan mental.
Algoritma Kejam dan Jebakan Doomscrolling
Fenomena adiksi ini dieksploitasi dengan cerdik oleh pengembang platform seperti Meta dan Google. Otak manusia yang secara alamiah haus akan informasi baru terus disuapi konten secara konstan.
Parahnya, tidak jarang konten yang disajikan didominasi oleh berita depresi dan mengkhawatirkan, yang kemudian melahirkan istilah baru yang meresahkan: doomscrolling.
Media sosial juga menjadi arena drama politik dan sensasionalisme yang tiada akhir. Isinya adalah pertunjukan dramatis dari pejabat negara dan tontonan yang mengutamakan engagement di atas ketenangan.
Lambat laun, hidup terasa tidak tenang karena media cenderung menyajikan berita yang paling sensasional. Kesadaran bahwa candu ini bertindak seperti racun bagi mental, dan pengembang tampaknya membiarkannya, membuat langkah terakhir yang paling logis menjadi: pergi atau meninggalkan media sosial seutuhnya.
Pertunjukan Kemewahan yang Menyita Perhatian
Selain doomscrolling, media sosial kini berfungsi sebagai panggung non-stop untuk mempertontonkan kemewahan dan kesuksesan yang seringkali tidak realistis, terutama oleh para influencer.
Mereka menampilkan kehidupan yang dramatis, penuh petualangan, dan kesenangan tiada henti—sebuah kontras tajam dengan realitas hidup kebanyakan orang yang diisi rutinitas sederhana.
Kehidupan yang dramatis ini, ironisnya, seringkali hanyalah settingan atau ilusi. Tuntutan konten memaksa influencer untuk memutar otak menciptakan daya tarik buatan.
Lebih lanjut, pertunjukan sesama pengguna yang memamerkan hasil akhir (mobil baru, liburan mewah) tanpa memperlihatkan proses perjuangan hanya menciptakan perasaan tertinggal atau gagal pada diri orang lain, yang cepat atau lambat menimbulkan kelelahan mental yang akut.
Ambil Kembali Kendali: Detoks Mental dan Mencari Keseimbangan
Tren meninggalkan media sosial, atau setidaknya mengurangi intensitasnya, adalah upaya kolektif untuk melakukan detoks mental.
Waktu yang sebelumnya terbuang sia-sia untuk scrolling di Instagram atau TikTok kini dapat dialihkan untuk kegiatan yang jauh lebih produktif, seperti membaca, berkreasi, atau memperbaiki diri.
Ketika kesadaran ini muncul, jawabannya menjadi mudah: media sosial tidak boleh lagi menjadi kekangan. Ini bukan soal berhenti sepenuhnya, melainkan tentang bagaimana menjaga keseimbangan agar teknologi buatan manusia ini tidak berbalik merugikan penggunanya.
Tujuan utamanya adalah mengambil kembali kendali atas waktu dan fokus diri.
Statement:
Dr. Aditia Pratama, Sosiolog Digital dan Praktisi Kesehatan Mental
“Media sosial kini bukan lagi pelarian yang menyenangkan, melainkan sumber kecemasan karena menampilkan pertunjukan yang melelahkan. Kami melihat adanya pergeseran, di mana anak muda memilih untuk mengurangi interaksi digitalnya. Mereka menyadari bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali ketenangan mental dan mengendalikan hidup adalah dengan menempuh langkah terakhir yang mutakhir: pergi dari platform tersebut atau setidaknya menjaga jarak yang sangat seimbang.”
![olahraga padel [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Turnamen-Padel-Pertama-Di-Bandung-080225-agr-3-300x200.jpg)


