Search

Ular Laut Purba Berkulit Alga Terekam di Kedalaman Pulau Komodo

Senin, 3 November 2025

Ular laut purba Pulau Komodo (iG @roneydives)

Sebuah fenomena langka dan memukau berhasil diabadikan oleh seorang penyelam malam di perairan eksotis Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Dalam rekaman video yang diunggah ke Instagram, terlihat seekor ular laut berwarna hijau kusam meluncur perlahan di dasar laut, dengan kulitnya yang kasar dilapisi alga, membuatnya hampir tak terbedakan dari potongan rumput laut atau karang.

Hewan ini diidentifikasi sebagai ular file laut (marine file snake)—spesies purba yang terkenal dengan kemampuan kamuflasenya yang luar biasa.

Videografer bawah air, John Roney, yang merekam momen tersebut, memberi caption menarik: “An algae-covered ambush predator.” I

a menjelaskan bahwa kekasaran unik pada kulit ular ini berfungsi menjebak alga, menciptakan tampilan hijau berbintik-bintik yang berpadu sempurna dengan mangrove dan padang lamun.

Lapisan penyamaran alami ini terbentuk karena kebiasaan ular yang menghabiskan waktu lama dalam keadaan diam, dengan sabar menunggu ikan lewat untuk disergap.

Spesies Purba yang Menjaga Jati Diri Akuatik

Meskipun kerap disebut ular laut, marine file snake—yang memiliki nama ilmiah Acrochordus granulatus—bukanlah bagian dari keluarga Hydrophiinae, kelompok ular laut sejati.

Spesies ini adalah hewan purba yang sepenuhnya akuatik, namun seperti mamalia laut, ia tetap harus sesekali muncul ke permukaan untuk mengambil udara karena bernapas menggunakan paru-paru.

Satu lagi keunikan dari ular file laut adalah tekstur kulitnya. Tidak seperti ular lain yang umumnya licin, kulit Acrochordus granulatus justru terasa kasar seperti amplas.

Kulit yang kasar ini berfungsi ganda: sebagai media pertumbuhan alga untuk kamuflase, dan sebagai alat cengkeraman yang kuat saat ular membelit mangsanya di bawah air, menjadikannya pemangsa penyergap yang efisien.

Ular laut purba Pulau Komodo (iG @roneydives)

Komodo: Bukti Keseimbangan Ekosistem Pesisir

Penampakan ular purba ini terjadi di sekitar Taman Nasional Komodo, kawasan warisan dunia UNESCO yang diakui secara global karena kekayaan keanekaragaman hayatinya, yang mencakup ikan pari manta hingga penyu hijau.

Kemunculan ular file laut di kawasan ini memberikan penegasan penting bahwa ekosistem pesisir Nusa Tenggara Timur masih mendukung kehidupan spesies langka.

Spesies ini, yang menurut data IUCN Red List dikategorikan sebagai Least Concern (Risiko Rendah), memiliki habitat yang sangat bergantung pada padang lamun dan hutan mangrove.

Keberadaannya di Komodo menjadi indikasi bahwa meskipun ancaman dari penangkapan ikan berlebih dan pencemaran laut mengintai, kawasan ini masih mampu menjaga keseimbangan alamnya, memberikan perlindungan vital bagi spesies-spesies unik.

Jinak dan Penting: Peran Ular File Laut dalam Rantai Makanan

Secara sifat, ular file laut cenderung menghindari kontak dengan manusia dan dilaporkan tidak berbisa. Gerakannya yang lamban dan sifatnya yang jinak membuatnya menjadi bagian penting dari rantai makanan di ekosistem laut dangkal.

Ular ini berperan sebagai regulator populasi ikan-ikan kecil, menjaga kesehatan dan keragaman biologis kawasan pesisir.

Kisah penemuan ini, yang diabadikan oleh John Roney, berfungsi sebagai pengingat visual yang kuat tentang betapa rentan dan berharganya ekosistem laut Indonesia.

Keberadaan ular file laut dengan kamuflase sempurnanya adalah bukti kecanggihan evolusi alam yang harus kita lindungi agar keindahan dan keunikan hayati Indonesia tidak hilang di tengah arus modernisasi.

Statement:

John Roney, Videografer Bawah Air

“Salah satu hal favorit saya dari ular file laut adalah kamuflase uniknya. Kulitnya yang kasar menjebak alga, memberikan tampilan hijau berbintik-bintik yang berpadu sempurna dengan mangrove dan padang lamun. Lapisan ini terbentuk karena ular menghabiskan waktu lama dalam keadaan diam, menunggu ikan lewat untuk disergap.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan