Search

Emas Menuju Puncak: Morgan Stanley Proyeksi Harga Sentuh USD4.500 per Ons pada 2026

Senin, 3 November 2025

Ilustrasi emas keping (rri.co.id)

Emas, aset safe haven klasik, diperkirakan akan melanjutkan reli fantastisnya di tahun mendatang. Bank investasi global Morgan Stanley memproyeksikan bahwa harga logam mulia ini berpotensi melonjak hingga mencapai USD4.500 per ons (setara Rp73 juta, dengan kurs Rp16.200 per dolar AS) pada pertengahan 2026.

Sekadar info, 1 ons setara dengan 28,3 gram.

Proyeksi bullish ini didorong oleh gelombang permintaan fisik yang tak terhindarkan, terutama dari institusi keuangan raksasa di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Laporan dari Morgan Stanley, yang dikutip Reuters, Sabtu (1/11/2025), menjelaskan bahwa pendorong utama kenaikan ini adalah meningkatnya permintaan dari bank sentral dan dana investasi berbasis emas (Exchange-Traded Funds/ETF).

Mereka mengakui bahwa pergerakan harga emas sempat memasuki zona overbought berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI), tetapi koreksi harga terbaru justru membuatnya lebih “sehat” dan menata ulang posisi pasar untuk lonjakan berikutnya.

Suku Bunga Turun, Permintaan Institusional Naik

Morgan Stanley memperkirakan bahwa pembelian emas oleh ETF akan terus berlanjut seiring dengan tren penurunan suku bunga global.

Ketika suku bunga menurun, daya tarik aset yang tidak menawarkan imbal hasil seperti emas biasanya meningkat. Ini mendorong investor besar untuk mengalihkan dananya ke aset yang dianggap paling aman.

Di sisi lain, bank sentral di seluruh dunia juga diperkirakan akan terus membeli emas, meskipun lajunya mungkin sedikit lebih moderat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Permintaan dari sektor perhiasan diperkirakan akan tetap stabil. Kombinasi faktor ini—permintaan investasi yang didorong oleh ETF dan pembelian strategis bank sentral—menjadi fondasi kuat bagi kenaikan harga di masa depan.

Reli Historis dan Faktor Geopolitik

Sepanjang tahun 2025 ini, harga emas telah menunjukkan kekuatan yang luar biasa, melonjak lebih dari 54% dan menembus sejumlah rekor tertinggi. Puncaknya tercatat pada 20 Oktober lalu di posisi USD4.381 per ons (sekitar Rp71 juta).

Kenaikan masif ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketegangan geopolitik global yang tidak mereda, ekspektasi pemangkasan suku bunga, hingga aliran dana masuk yang konsisten ke ETF berbasis emas.

Meskipun saat ini harga terkoreksi sekitar 8% dari puncaknya, koreksi tersebut dilihat oleh Morgan Stanley sebagai fase yang diperlukan untuk membangun momentum.

Namun, bank asal AS ini juga mengingatkan adanya risiko penurunan harga, seperti potensi volatilitas pasar yang dapat membuat investor beralih ke aset lain, atau perubahan kebijakan bank sentral yang tiba-tiba mengurangi cadangan emas mereka.

Emas Sebagai Penjaga Nilai di Era Ketidakpastian

Proyeksi Morgan Stanley ini memperkuat narasi bahwa emas semakin dipandang sebagai alat pertahanan nilai yang tak tertandingi di tengah lingkungan ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Permintaan fisik, terutama dari institusi negara, menunjukkan hilangnya kepercayaan terhadap mata uang fiat di tengah tingginya utang dan inflasi.

Dengan ancaman perang dagang, konflik regional, dan kebijakan moneter yang berubah-ubah, aset yang secara historis terbukti mempertahankan nilainya seperti emas akan terus dicari.

Proyeksi USD4.500 bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari meningkatnya kebutuhan global akan aset yang menawarkan stabilitas di tengah badai ekonomi.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan