Guys, ada laporan yang bikin miris dari The Lancet Countdown! Ternyata, polusi udara yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar energi fosil telah menyebabkan 2,52 juta kematian secara global di tahun 2022.
Angka segini tuh bener-bener ngeri, ya. Kematian ini dipecah lagi: 1 juta nyawa melayang karena pembakaran batu bara, 1,2 juta kematian gara-gara penggunaan fosil untuk perjalanan darat, dan 740 ribu kematian karena sektor kelistrikan masih pakai bahan bakar kotor itu.
Marina Romanello, Direktur Eksekutif The Lancet Countdown, ngasih peringatan keras. Katanya, krisis energi global malah bikin keuntungan bahan bakar fosil naik dan mendorong ekspansi industri ini lebih luas.
Parahnya, meskipun udah ada Perjanjian Paris, investasi batu bara tetap jalan terus. Nilai aset sektor pembangkit listrik batu bara global yang diprediksi terbengkalai pada 2030 juga naik dari USD16 miliar (2023) jadi USD22,4 miliar (2024).
Duh, kok gak kapok-kapok?
Kerugian USD4,85 Triliun yang Bikin Gak Adil buat Negara Miskin
Marina Romanello bilang, ekspansi energi fosil ini menghambat upaya pengurangan gas rumah kaca, nyebabin kematian akibat polusi udara, dan memperparah kerugian ekonomi.
Kematian akibat polusi udara ini hanyalah satu dari 12 indikator yang memburuk bahkan mecahin rekor baru. Gak cuma itu, laporan ini juga ngitung Kerugian Finansial Polusi yang nilainya bikin sakit kepala: mencapai USD4,85 triliun pada 2023!
Angka Kerugian Ekonomi Polusi Udara ini ngasih bukti nyata gimana degradasi lingkungan langsung ngantam keuangan global.
Yang lebih miris, dampak ini paling parah menimpa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang ujung-ujungnya memperdalam ketidakadilan global. Jadi, masalah polusi ini gak cuma soal paru-paru, tapi juga soal dompet dan ketidaksetaraan global.
Solusi Cerdas: Stop Subsidi Fosil, Gaspol Energi Terbarukan
Menurut peneliti global The Lancet Countdown, Maria Walawender, ada langkah penting buat ngontrol risiko iklim.
Intinya, pemerintah harus bikin regulasi dan insentif keuangan yang mendukung pengembangan Energi Terbarukan yang terjangkau, efisiensi energi, dan yang paling krusial: Penghapusan Bahan Bakar Fosil.
Langkah ini gak cuma nyelametin bumi, tapi juga ngurangin kemiskinan energi, menyelamatkan jutaan nyawa lewat udara yang lebih bersih, dan ngasih Manfaat Kesehatan Aksi Iklim.
Laporan ini nyaranin banget buat ngalihin subsidi bahan bakar fosil ke akses energi terbarukan yang adil, serta ngasih dana buat ngelindungin kelompok rentan dari krisis iklim.
Langkah nyata udah terlihat: peralihan dari batu bara di negara kaya udah mencegah sekitar 160 ribu kematian dini pada 2010–2022. Plus, Lapangan Kerja Energi Terbarukan juga nanjak 18,3% pada 2023!
Statement:
Marina Romanello, Direktur Eksekutif The Lancet Countdown
“Ekspansi [bahan bakar fosil] ini menghambat upaya pengurangan gas rumah kaca, menyebabkan kematian terkait polusi udara, dan memperburuk kerugian ekonomi. Risiko perubahan iklim terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup manusia telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
3 Poin Penting Laporan The Lancet Countdown
-
Angka Kematian Fantastis: Polusi udara akibat penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan 2,52 juta kematian global pada tahun 2022, termasuk 1 juta dari pembakaran batu bara.
-
Kerugian Ekonomi Besar: Kematian akibat polusi udara ini memicu biaya finansial global yang mencapai $4,85 triliun pada tahun 2023, yang secara tidak proporsional membebani negara berpenghasilan rendah.
-
Solusi dan Manfaat: Para peneliti merekomendasikan pengalihan subsidi bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Transisi ke energi bersih telah mencegah 160 ribu kematian dini dan menciptakan lebih dari 16 juta lapangan kerja pada 2023.



