Guys, dengerin nih. Tragedi banjir bandang dan longsor yang ngehancurin Sumatra (Aceh, Sumut, Sumbar) tuh gak bisa lagi dijadiin kambing hitam nasib buruk doang.
Peneliti Hatma Suryatmojo dari UGM udah ngasih clue jelas: fenomena ini adalah kombinasi faktor alam (curah hujan ekstrem karena Siklon Tropis Senyar) dan ulah manusia!
Hutan yang seharusnya jadi pelindung udah raib, diganti deforestasi buat lahan komoditas ekstraktif. Ending-nya? Ratusan nyawa melayang dan kita semua ikut nanggung dampaknya.
Deforestasi Gila-Gilaan: 1,4 Juta Hektar Hutan Hilang dalam 9 Tahun!
Data Walhi bikin kita geleng-geleng kepala. Antara tahun 2016-2025, seluas 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumut, dan Sumbar udah terdeforestasi!
Bayangin deh, itu semua gara-gara aktivitas 631 perusahaan pemegang izin tambang, HGU sawit, PLTA, dan lainnya!
Bencana paling parah di Sumut tuh nimpah wilayah di Ekosistem Batang Toru—yang udah kehilangan 72.938 hektare tutupan hutan (2016-2024) akibat operasi 18 perusahaan. Di Aceh, DAS Krueng Trumon kehilangan 43% tutupan hutan dalam enam tahun!
Hilangnya hutan ini bikin fungsi hutan sebagai pengendali daur air (infiltrasi, pengendali erosi) hilang total. Gak ada benteng, ya ambyar!
Sawit Gak Bisa Gantikan Hutan Tropis Premium
Manager Kampanye Tata Ruang Walhi, Dwi Sawung, negasin satu hal penting: hutan gak bisa digantikan dengan lahan sawit.
Kenapa? Hutan tropis itu punya macem-macem jenis tanaman (campuran) dengan akar yang panjang dan dalam, serta serasah daun yang tebal—semuanya berfungsi maksimal buat nyerap air hujan.
Lahan sawit tuh monokultur (cuma satu jenis) dan akarnya gak sepanjang akar hutan. Akibatnya, penyerapan air di kebun sawit jauh lebih rendah.
Dwi ngasih clue, kebun sawit tuh paling cuma 40 persen doang nyerap airnya. Kalau tanahnya miring, ya makin parah gak keserap!
Deforestasi Bikin Iklim Ngaco dan Run-off Tinggi
Guru Besar IPB, Herry Purnomo, senada. Secara ekologi, hutan lebih penting daripada kebun sawit karena mampu nginfiltrasi hujan lebih baik.
Tanah hutan itu gembur dan banyak akar, bikin runoff (aliran air di permukaan) rendah, otomatis risiko banjir kecil.
Herry juga negasin kalau bencana di Sumatera ini emang hasil dari deforestasi yang udah terjadi puluhan tahun, dengan rata-rata puluhan ribu hektar hutan hilang setiap tahun.
Saking parahnya, lho, deforestasi ini bikin suhu meningkat dan siklus tropis yang seharusnya gak terbentuk di Selat Malaka, malah bisa terbentuk!
Rakyat Gak Boleh Diam: Lawan Kepentingan Segelintir Orang
Lantas, gimana solusinya? Dwi Sawung minta pemerintah menghentikan pembabatan hutan di seluruh Indonesia dan mengurangi pengalihfungsian hutan jadi kebun monokultur. Dia yakin, kalau gak ada perubahan, bencana Sumatera bakal terulang lagi.
Herry Purnomo ngasih pesen ke masyarakat: kita harus melawan kepentingan segelintir orang yang pengen babatin hutan.
Masyarakat tuh perlu ikut aktif, misalnya dengan ngebentuk komunitas dan ngedukung masyarakat adat yang nolak pembabatan hutan. Ini tuh bukan cuma soal nyelametin alam, tapi nyelametin nyawa kita semua!
Statement:
Hatma Suryatmojo, Peneliti Hidrologi Hutan UGM
“Namun, cuaca ekstrem hanyalah pemicu awal. Dampak merusak banjir bandang tersebut sesungguhnya diperparah oleh rapuhnya benteng alam di kawasan hulu.”
Dwi Sawung, Manager Kampanye Tata Ruang Walhi
“Kalau satu jenis, itu enggak bisa menggantikan hutan tropis yang campuran [jenis tanaman] itu.”
Herry Purnomo, Guru Besar IPB
“[Kalau] kebun, runoff lebih tinggi, terutama kalau kebunnya itu sudah ada pengolahan lahan. Memang berbeda banget secara ekologi.”
“Pemerintah itu mengikuti kehendak rakyat. Kalau masyarakat yang benar ini diam, itu terlupa. Nanti tahun depan lupa lagi.”
3 Poin Penting Deforestasi dan Bencana Sumatra
-
Kombinasi Alam dan Uluran Tangan Manusia: Bencana banjir bandang diperparah oleh rapuhnya benteng alam di kawasan hulu DAS. Total 1,4 juta hektare hutan di tiga provinsi (Aceh, Sumut, Sumbar) terdeforestasi (2016-2025) akibat operasi 631 perusahaan.
-
Monokultur Sawit Tidak Ideal: Pakar (Dwi Sawung) menegaskan kebun sawit tidak dapat menggantikan fungsi hutan tropis dalam menahan air karena ekosistem monokultur, akar pendek, dan rendahnya kemampuan serapan air (runoff tinggi, maksimal 40%).
-
Ancaman Iklim dan Peran Rakyat: Deforestasi puluhan tahun bikin siklus iklim ngaco (bisa ngebentuk badai tropis di Selat Malaka). Pakar meminta masyarakat melawan kepentingan pembabatan hutan secara elegan karena pemerintah akan mengikuti kehendak mayoritas rakyat.



