Search

Mangrove Digital Sungai Kupah, Inovasi Anak Pesisir yang Menginspirasi Indonesia

Senin, 9 Maret 2026

Mangrove Digital Sungai Kupah (ist)

Di tepian muara Sungai Kapuas yang menghadap Selat Karimata, sore itu angin laut berhembus pelan, rimbun bakau berdiri kokoh seperti pagar alami yang menjaga daratan.

Di antara lumpur dan akar yang mencengkeram tanah, seorang pria menunduk menanam bibit mangrove. Namanya Rudi Hartono, tetapi warga mengenalnya sebagai Rudi Bacok, dari Desa Sungai Kupah, dan kisah inspiratif ini tumbuh perlahan namun pasti.

Rudi Hartono lahir di Sungai Kupah pada 6 Februari 1995. Sejak kecil, ia tumbuh bersama debur ombak dan bau asin laut, alam pesisir bukan sekadar latar hidupnya, tetapi bagian dari jiwanya, menumbuhkan kepeduliannya pada lingkungan sudah sejak usia muda. Ia percaya, desa kecilnya punya potensi besar kalau dijaga bersama.

Nama Bacok melekat karena ia keturunan Bugis. Di kampungnya, banyak yang bernama Rudi, jadi panggilan itu jadi pembeda, Bacok berarti anak laki-laki dalam bahasa Bugis. Sederhana, tetapi penuh makna identitas.

Tahun 2017 jadi titik balik hidupnya, pantai tempat ia bermain sejak kecil mulai terkikis abrasi. Garis pantai perlahan mundur, mengancam rumah dan perahu nelayan, ia sadar, kalau dibiarkan, Sungai Kupah bisa kehilangan masa depan, dari kegelisahan itu, tekadnya makin menguat.

Kerap Dicemoohkan

Ia mulai merintis penanaman mangrove bersama segelintir pemuda desa, langkah kecil itu awalnya dipandang sebelah mata, tidak sedikit yang meragukan mimpinya membangun ekowisata. Bahkan, ia pernah diolok karena dianggap terlalu ambisius, namun Rudi memilih tetap jalan meski sendirian.

Perlahan, kawasan itu diberi nama Desa Wisata Mangrove Telok – pun berdiri. Bersama warga, ia membangun harapan dari akar-akar bakau, ibu-ibu desa diajak membuat wadah tanam dari daun nipah. Hasil laut diolah menjadi abon ikan dan stik udang bernilai jual, ekonomi kreatif mulai tumbuh dari lumpur pesisir.

Kini kawasan itu berkembang hingga 15 hektare. Dulu diremehkan, sekarang jadi destinasi ekowisata unggulan, ratusan wisatawan datang setiap akhir pekan, mereka menyusuri jembatan kayu selebar satu meter, Bekantan dan burung raja udang jadi saksi perubahan itu.

Rudi tidak berhenti pada penanaman konvensional, ia menciptakan sistem penanaman mangrove berbasis digital, setiap wisatawan yang menanam mendapat kartu digital. Mereka bisa memantau pertumbuhan pohon dari jauh, wisata ini bukan sekadar jalan-jalan, tetapi edukasi lingkungan.

Platform itu dikenal sebagai Mangrove Digital, lewat situs mangrovedigital.org, siapa pun bisa mengadopsi bibit mangrove. Biayanya mulai Rp5.000 per pohon, data pertumbuhan dan lokasi penanaman bisa dipantau secara real time, gotong royong kini hadir dalam versi digital.

Perjuangan itu berbuah manis pada 2022. Rudi menerima Penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan, penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup di Indonesia.

Ia mengaku tidak pernah menyangka akan meraihnya, “saya tidak mungkin mendapat penghargaan mulia ini, kalau tidak dibantu warga dan penghargaan ini milik mereka, melalui saya.” Baginya, itu hasil kerja bersama warga Sungai Kupah.

Di balik pencapaian itu, jalan yang dilalui tidak selalu mulus, ia pernah merasa sakit hati karena kurang didukung. Terlebih lagi jalan menuju desa rusak dan jauh dari kota, banyak yang bertanya, siapa mau datang ke sini. Namun ia percaya, perubahan butuh kesabaran.

Upaya Mulai Berbuah Manis

Sebagai Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Sungai Kupah, ia memilih memberi contoh, ia mengajak teman-temannya bergerak lebih dulu dan perlahan, warga mulai melihat keseriusannya, kepercayaan tumbuh seiring hasil yang terlihat nyata dari sinilah solidaritas desa menguat.

Kisahnya menarik perhatian banyak pihak, salah satunya PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, melalui Aviation Fuel Terminal Supadio, dukungan diberikan. Program CSR Destana Patra Berdikari hadir mendampingi, kolaborasi ini memperkuat konservasi mangrove Sungai Kupah.

Pendampingan itu fokus pada pelestarian lingkungan dan pengelolaan limbah desa, Rudi dan tim mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat. Mereka juga membuat paving block ramah lingkungan, limbah yang dulu terbuang kini bernilai ekonomi, konservasi dan kewirausahaan berjalan beriringan.

Mangrove Digital menjadi simbol inovasi anak pesisir, teknologi dimanfaatkan untuk mempercepat restorasi ekosistem. Individu, komunitas, hingga perusahaan bisa terlibat, semua transparan dan berbasis data terbuka, inilah cara baru menjaga bumi secara kolektif.

Ekowisata Sungai Kupah kini jadi ruang belajar ekologi, pengunjung tidak hanya berfoto, tetapi memahami fungsi mangrove. Akar-akar bakau melindungi pesisir dari abrasi, daunnya jadi habitat berbagai satwa, dan buahnya bisa dijadikan kuliner, alam dan manusia kembali saling menjaga.

Nama Sungai Kupah kini dikenal sebagai desa wisata hijau berbasis masyarakat, perubahan itu lahir dari keberanian seorang pemuda desa, Rudi menunjukkan bahwa usia muda bukan alasan untuk ragu. Ia membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari kampung dan dampaknya bisa terasa hingga tingkat nasional.

Di tengah ancaman perubahan iklim, langkah kecilnya terasa besar. Mangrove bukan sekadar pohon, tetapi benteng kehidupan, ia melindungi pesisir sekaligus menyerap karbon. Konservasi menjadi investasi masa depan dan Sungai Kupah kini punya harapan baru.

Bagi Rudi, menjaga lingkungan adalah panggilan hati, ia ingin generasi berikutnya tetap melihat pantai yang utuh, ia ingin nelayan tetap punya ruang mencari nafkah dan ia ingin desa kecilnya berdiri tegak menghadapi zaman.

Kisah Rudi Bacok adalah bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari satu orang, dari lumpur pesisir, lahir gerakan digital yang menginspirasi Indonesia.

Abrasi yang dulu mengancam, kini berubah jadi ekowisata berdaya, Sungai Kupah tidak lagi sekadar desa, tetapi simbol harapan, dan semua itu dimulai dari keberanian untuk peduli.

3 Poin Penting:

  1. Rudi Hartono berhasil mengubah pesisir terancam abrasi menjadi Ekowisata Mangrove Telok Berdiri seluas 15 hektare berbasis masyarakat.
  2. Platform adopsi mangrove memungkinkan siapa pun berkontribusi mulai Rp5.000 per pohon dengan sistem pemantauan transparan.
  3. Dukungan CSR Pertamina melalui program Destana Patra Berdikari memperkuat konservasi dan pemberdayaan ekonomi desa.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan