Search

Akhirnya Muncul! Nuri Dahi-Biru yang Hilang Seabad Ditemukan Kembali di Pulau Buru

Kamis, 25 Juni 2026

Nuri Dahi biru (Dok. James Eaton/Birdtour Asia & John C Mittermeier/American Bird Conservancy)

Sebuah kabar gembira dan bersejarah datang dari dunia konservasi Indonesia!

Setelah nyaris seratus tahun lamanya menghilang tanpa jejak dari radar catatan ilmiah, keberadaan nuri dahi-biru, burung perkici endemik Pulau Buru yang melegenda, akhirnya terkuak kembali.

Satwa indah berbulu hijau dengan aksen dahi berwarna biru mencolok ini ditemukan secara tak terduga oleh sebuah tim ekspedisi yang tengah menyusuri wilayah Gunung Kapalatmada.

Kisah penemuan kembali Blue-fronted Lorikeet ini benar-benar epik dan menguras tenaga.

Tim peneliti harus menghabiskan waktu enam hari penuh untuk mendaki medan yang sangat menantang, mulai dari hamparan batu kapur dengan tumbuhan berduri tajam dan serangga, hingga masuk ke dalam hutan kabut yang berlumut.

Di tengah keriuhan kicau burung di area terbuka, tiba-tiba pandangan mereka tertuju pada dua individu burung kecil yang tengah terbang rendah menuju sebuah pohon.

Ekspidisi Epik ke Jantung Hutan Kabut

Momen bersejarah ini terjadi ketika John Mittermeier, Direktur Search for Lost Birds dari American Bird Conservancy (ABC), segera mengambil binokularnya untuk memastikan jenis burung tersebut.

Burung kecil tersebut beberapa kali berhasil terlihat, bahkan dipotret dan direkam suaranya, menjadikannya catatan kedua sejak spesies ini pertama kali dideskripsikan seratus tahun yang lalu.

Penemuan kembali nuri dahi-biru ini sekaligus memberikan konfirmasi penting bagi dunia ilmu pengetahuan dan konservasi.

Menurut Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Burung Indonesia, penemuan ini membuktikan bahwa satwa yang selama ini dianggap nyaris punah ternyata masih mampu bertahan hidup.

Selain itu, kondisi habitatnya yang masih sangat alami diyakini terjaga bukan karena kebijakan, melainkan karena letak geografisnya yang ekstrem dan sulit dijangkau manusia.

Habitat Tersembunyi di Puncak Tertinggi

Gunung Kapalatmada, yang merupakan puncak tertinggi di Pulau Buru, memang dikenal sebagai wilayah paling sulit diakses di Indonesia bagian timur selama bertahun-tahun.

Jalur menuju puncaknya baru berhasil dipetakan secara jelas oleh para pendaki lokal dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelum pemetaan ini, sebagian besar wilayahnya praktis tidak pernah menjadi lokasi penelitian intensif, yang diduga menjadi penyebab utama mengapa nuri dahi-biru bisa begitu lama “menghilang” dari radar para ilmuwan.

Jenis satwa endemik ini pertama kali dideskripsikan dari tujuh spesimen yang berhasil dikumpulkan oleh para peneliti pada dekade 1920-an. Setelah masa itu, catatan mengenai keberadaannya hampir tidak pernah ditemukan lagi.

Menariknya, status konservasi nuri dahi-biru pernah masuk kategori Kritis (Critically Endangered), namun pada tahun 2024, statusnya secara resmi berubah menjadi Data Deficient atau Kekurangan Data, yang mencerminkan minimnya informasi ilmiah yang tersedia.

Sinyal Bahaya dan Momentum Konservasi

Kondisi tersebut menyoroti tantangan terbesar bagi konservasi di Indonesia, di mana masih banyak spesies endemik yang hidup di wilayah terpencil tanpa dukungan data ilmiah yang memadai.

Temuan kembali nuri dahi-biru harus dijadikan momentum untuk memperkuat upaya penelitian dan konservasi di wilayah-wilayah yang luput dari perhatian.

Tiga langkah mendesak yang perlu dilakukan adalah survei populasi yang sistematis, perlindungan habitat yang ketat, dan pengelolaan ancaman berbasis masyarakat.

Meskipun sekitar 70% bentang alam Pulau Buru masih berupa hutan alami, ancaman terhadap kelangsungan hidup satwa liar endemik di pulau ini tetap nyata.

Benny Siregar, Koordinator Kepulauan Maluku Burung Indonesia,mengingatkan bahwa aktivitas pertambangan, ekspansi lahan pertanian, dan perburuan satwa liar tetap menjadi risiko besar.

Wal Walid Rumblat, Dosen Biologi dari UIN Syarif Hidayatullah, juga menekankan kerentanan spesies ini terhadap perubahan iklim jangka panjang yang bisa membuat habitat spesifik mereka semakin bergeser ke daerah tinggi gunung.

Statement:

Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Burung Indonesia

“Perubahan status ini bukan berarti kondisi spesies membaik atau populasinya meningkat. Justru, karena kita hampir tidak mengetahui apa-apa tentang spesies ini. Informasi tentang ukuran populasi, tren populasi, hingga kondisi habitatnya masih sangat minim.”

3 Poin Penting:

  • Ditemukan Kembali Setelah 100 Tahun: Nuri dahi-biru (Blue-fronted Lorikeet), burung perkici endemik Pulau Buru, berhasil ditemukan kembali di Gunung Kapalatmada pada April 2026 setelah satu abad dianggap hilang.

  • Konfirmasi Habitat Alami: Penemuan ini mengonfirmasi bahwa habitat spesies endemik di wilayah ekstrem masih terjaga, namun status konservasi satwa ini masih Kekurangan Data (Data Deficient).

  • Ancaman Masih Nyata: Kelangsungan hidup nuri dahi-biru masih terancam oleh pertambangan, perluasan lahan pertanian, perburuan ilegal, dan risiko perubahan iklim di kawasan Wallacea.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan