Search

Alarm Krisis Air Aceh Besar: Kawasan Karst Rusak, Belasan Ribu Warga Terancam Haus

Kamis, 25 Juni 2026

Ilustrasi kekeringan (ist)

Setiap pagi sejak tahun 2013, Rahmayani, seorang warga Desa Geundring berusia 35 tahun, selalu melangkahkan kaki menuju Wisata Kolam Pemandian Mata Ie.

Dengan tangan yang cekatan, ia mengucek dan membilas tumpukan pakaian rumah tangganya di area khusus mencuci yang tersedia di sana.

Bagi Rahmayani dan banyak warga lainnya, keberadaan sumber air ini sangat krusial untuk menghemat biaya pengeluaran domestik dan penggunaan air di rumah mereka.

Namun, pemandangan aktivitas domestik yang damai tersebut kini dibayangi oleh ancaman nyata yang kian mencekam. Aliran air jernih yang diandalkan warga tersebut sejatinya bersumber dari kawasan ekosistem batuan kapur atau dikenal sebagai Karst Mata Ie.

Sebagai salah satu bentang alam geologis paling krusial di Aceh Besar, kawasan ini memikul peran vital sebagai penyimpan cadangan air bawah tanah yang melimpah bagi kelangsungan hidup masyarakat luas.

Nestapa Kekeringan dan Beban Begadang Para Perempuan

Kecukupan pasokan air yang dahulu melimpah ruah, kini perlahan mulai tinggal cerita sejarah belaka seiring menyusutnya debit air secara drastis dari tahun ke tahun.

Puncaknya terjadi pada tahun 2017 ketika Mata Ie mengalami kekeringan total untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan sejak saat itu, bencana kekeringan seolah menjadi ritual tahunan.

Fenomena penurunan volume air yang sangat ekstrem ini membawa dampak buruk yang masif bagi kualitas lingkungan hidup serta stabilitas aktivitas harian warga setempat.

Kondisi kritis ini lantas memaksa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mountala untuk mengambil langkah tegas dengan membatasi suplai ke rumah-rumah pelanggan.

Aliran air keran kerap mati total atau hanya mengalir kecil saat tengah malam, yang pada akhirnya menambah beban domestik berlapis bagi kaum perempuan.

Keadaan ini memaksa mereka untuk biasa begadang semalaman demi menampung tetesan air, bahkan hingga harus membeli air dari mobil tangki komersial dengan harga yang cukup menguras kantong.

Konflik Sosial dan Ekspansi Industri di Lhoknga

Tragedi krisis air bersih nyatanya tidak hanya membelit wilayah Mata Ie, melainkan telah lebih dahulu menjerat warga yang bermukim di sekitar ekosistem Karst Lhoknga.

Di desa-desa seperti Naga Umbang dan Deah Mamplam, sumur galian warga yang biasanya melimpah kini langsung mengering kerontang jika hujan tidak turun dalam waktu sebulan.

Kualitas air yang tersisa pun ikut rusak menjadi berwarna kuning, berminyak, dan keruh, sehingga sama sekali tidak layak untuk dikonsumsi harian.

Kondisi yang kian pelik di Deah Mamplam bahkan mulai memicu terjadinya gesekan dan konflik sosial antarwarga yang saling berebut pasokan bantuan air bersih.

Sebagian warga lokal menduga bahwa krisis air berkepanjangan ini terjadi akibat masifnya penambangan batu gamping oleh pihak korporasi semen terdekat.

Aktivitas peledakan dinilai memicu getaran kuat yang meretakkan rumah warga serta merusak jalur sungai bawah tanah, meskipun dari pihak manajemen perusahaan bersikeras bahwa aktivitas mereka tidak berkaitan dengan kekeringan tersebut.

Kerusakan Ornamen Gua dan Menipisnya Suplai PDAM

Berdasarkan hasil peninjauan ilmiah, intervensi manusia yang tidak bertanggung jawab serta hilangnya etika lingkungan menjadi faktor utama rusaknya struktur endokarst bawah tanah.

Di beberapa gua besar kawasan Mata Ie, ditemukan banyak ornamen gua yang berjatuhan, kering, bahkan dipenuhi oleh lubang-lubang galian ilegal.

Eksploitasi permukaan berupa penambangan batu kapur dan pembangunan beton membuat air hujan yang turun langsung mengalir keluar tanpa sempat terserap ke dalam batuan akuifer.

Imbasnya, kapasitas produksi air bersih dari PDAM Tirta Mountala merosot tajam dari kapasitas normal 140 liter per detik menjadi hanya berkisar antara 70 hingga 80 liter per detik.

Penurunan performa suplai hingga menyentuh angka 40 persen pada kondisi krisis membuat wilayah-wilayah tinggi seperti Naga Umbang menjadi mustahil untuk terjangkau jaringan pipa.

Menghadapi situasi yang kian darurat ini, pihak otoritas kini tengah mengusulkan opsi pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) baru di wilayah Pemandian Brayeung.

Harapan Terakhir pada Status Kawasan Bentang Alam Karst

Di tengah kepungan krisis hidrologis yang semakin meluas di Aceh Besar, keberadaan Karst Pucok Krueng di Desa Mon Ikeun kini muncul sebagai benteng pertahanan terakhir.

Kawasan ini dinilai masih memiliki volume air yang relatif stabil dan potensial untuk segera diselamatkan dari ancaman eksploitasi galian C.

Otoritas terkait kini tengah bergerak cepat melakukan pemetaan intensif guna mendorong penetapan status kawasan ini menjadi Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK).

Langkah inventarisasi sebaran batuan ini menjadi sangat krusial guna memutus rantai kerusakan lingkungan dan membatasi izin operasional tambang baru yang tidak ramah ekosistem.

Walau proses birokrasi penetapan status hukum tersebut dikenal memakan waktu yang cukup panjang, langkah ini dinilai menjadi satu-satunya jalan keluar yang rasional.

Melalui sinergi regulasi yang ketat, diharapkan cadangan air masa depan untuk belasan ribu warga Aceh Besar dapat terselamatkan dari kepunahan ekologis.

3 Poin Penting:

  • Penyusutan Drastis Debit Air: Karst Mata Ie mengalami penurunan kapasitas suplai air bersih dari 140 liter per detik menjadi 70-80 liter per detik, yang memicu kekeringan tahunan sejak tahun 2017.

  • Dampak Domestik dan Konflik Sosial: Krisis air memaksa warga membeli air tangki yang mahal, menambah beban kerja domestik bagi perempuan, hingga memicu konflik sosial antarwarga akibat perebutan bantuan air bersih.

  • Kerusakan Eksosistem dan Solusi KBAK: Kerusakan gua bawah tanah dipicu oleh penambangan gamping dan aktivitas manusia tanpa etika lingkungan, sehingga pemerintah kini berupaya menetapkan status perlindungan KBAK pada Karst Pucok Krueng.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan