Search

Ancaman Rabies Masih Mengintai! Dinkes Dompu Catat Ratusan Kasus Gigitan Hewan Hingga Juli

Kamis, 13 Agustus 2026

Ilustrasi anjing rabies (shutterstock)

Kabar kurang menyenangkan datang dari Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Kasus gigitan Hewan Pembawa Rabies (HPR) di wilayah tersebut dilaporkan masih tergolong cukup tinggi dan membutuhkan kewaspadaan ekstra dari masyarakat.

Berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Dompu, tercatat sudah ada 488 kasus gigitan hewan potensi rabies yang terjadi sepanjang periode awal tahun hingga bulan Juli.

Kendati angkanya cukup fantastis, pihak otoritas kesehatan memastikan seluruh korban gigitan telah mendapatkan respons medis yang cepat dan tepat di puskesmas setempat.

Prosedur penanganan darurat langsung diterapkan oleh tim medis, mulai dari tindakan sterilisasi mencuci luka menggunakan sabun di air mengalir, pemberian obat-obatan pendukung, hingga penyuntikan Vaksin Anti Rabies (VAR) sesuai dengan indikasi klinis masing-masing pasien.

Pentingnya Sinergi Lintas Sektor untuk Tekan Populasi Hewan

Pihak Dinas Kesehatan menegaskan bahwa penanganan ancaman rabies tidak bisa hanya mengandalkan sisi medis atau kuratif semata setelah jatuhnya korban.

Penanganan yang efektif membutuhkan kerja sama terpadu yang melibatkan berbagai pihak lintas instansi, terutama instansi yang memegang kewenangan langsung dalam mengendalikan populasi hewan pembawa rabies seperti anjing liar di lingkungan pemukiman.

Sinergi yang kuat antara Dinas Peternakan, aparat TNI, Polri, hingga kesadaran aktif dari seluruh lapisan masyarakat menjadi kunci mutlak dalam mencegah terjadinya kasus gigitan sejak dini.

Pihak dinkes berfokus pada penanganan medis korban, sementara porsi pencegahan serangan hewan menjadi ranah utama Dinas Peternakan dan penegak ketertiban wilayah.

Stok Vaksin Aman namun Pencegahan Tetap Jadi Prioritas Utama

Mengenai ketersediaan sarana medis pendukung, Dinkes Dompu memastikan bahwa stok obat-obatan serta pasokan Vaksin Anti Rabies saat ini masih dalam kondisi aman dan mencukupi.

Distribusi logistik medis tersebut didapatkan secara berkala melalui program dropping pasokan dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kendati stok vaksin terjamin, masyarakat diimbau keras untuk tidak bersikap sepele atau sekadar mengandalkan keberadaan vaksin tersebut.

Langkah antisipasi serta tindakan pencegahan dinilai jauh lebih krusial untuk diterapkan, mengingat harga operasional vaksin rabies tergolong relatif mahal dan membutuhkan pengadaan khusus dari pemerintah.

Gerakan Bersama Demi Mewujudkan Wilayah Bebas Rabies

Keberhasilan menekan angka kasus gigitan hewan di Kabupaten Dompu sangat bergantung pada kepedulian masyarakat dalam menjaga hewan peliharaan mereka.

Para pemilik anjing atau hewan peliharaan lainnya diharapkan aktif melakukan vaksinasi hewan secara berkala serta tidak membiarkan hewan peliharaan berkeliaran bebas di tempat umum tanpa pengawasan.

Dengan adanya komitmen bersama antara jajaran pemerintah daerah, aparat keamanan, dan kesadaran masyarakat, angka kasus gigitan HPR di Dompu diharapkan dapat dipangkas secara signifikan.

Prinsip pencegahan sejak dini harus terus digaungkan demi menciptakan lingkungan masyarakat yang aman, sehat, serta bebas dari ancaman bahaya fatal rabies.

Statement:

Hj. Maria Ulfah, S.ST., M.Kes., Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu

“Kasus gigitan HPR sampai Juli ini ada 488 kasus. Semuanya sudah ditangani di puskesmas, mulai dicuci pakai sabun, diberikan obat dan vaksin. Namun tingginya kasus tidak bisa hanya ditangani dari sisi kesehatan, melainkan harus terpadu. Kita di Dinas Kesehatan tugasnya menangani ketika ada kasus gigitan, kalau mencegah itu ranahnya Dinas Peternakan.”

“Stok vaksin saat ini aman dari pusat dan provinsi. Tapi kita tidak bisa hanya mengandalkan itu, harus ada upaya pencegahan bersama karena vaksin harganya mahal dan mencegah tentu jauh lebih baik daripada mengobati.”

3 Poin Penting:

  • Ratusan Kasus Gigitan HPR: Dinkes Kabupaten Dompu mencatat 488 kasus gigitan Hewan Pembawa Rabies (HPR) hingga Juli, dengan seluruh korban telah mendapat penanganan medis di puskesmas.

  • Perlu Kolaborasi Lintas Sektor: Penanganan rabies dinilai tidak cukup dari sisi medis saja, melainkan butuh keterlibatan Dinas Peternakan, TNI, Polri, dan masyarakat untuk mengontrol populasi hewan.

  • Stok Vaksin Aman & Fokus Pencegahan: Meski pasokan Vaksin Anti Rabies (VAR) dipastikan aman dari pemerintah, pencegahan gigitan tetap menjadi prioritas utama karena biaya vaksinasi yang relatif mahal.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan