Musisi Andien Aisyah kembali menunjukkan bahwa kontribusi figur publik tidak harus berhenti di panggung hiburan.
Ia meresmikan cabang kelima Sekolah Anak Percaya di Kampung Apung, Jakarta, kawasan yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai pengupas kerang.
Kehadiran sekolah gratis ini menjadi upaya membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang menghadapi keterbatasan ekonomi dan sosial.
Namun, persoalan yang ingin dijawab tidak sesederhana menyediakan ruang belajar, sebab akses pendidikan juga berkaitan dengan kondisi keluarga, administrasi kependudukan, dan dukungan lingkungan sekitar.
Berawal dari Royalti Lagu, Kini Hadir di Kampung Apung
Sekolah Anak Percaya pertama kali diinisiasi Andien pada 2022 di Kampung Pemulung, Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Menariknya, pendanaan awal gerakan ini berasal dari penjualan royalti aset digital salah satu lagunya, Percaya, melalui skema token nonfungibel (NFT).
Hasil penjualan tersebut kemudian digunakan sebagai modal untuk membangun ruang belajar gratis bagi anak-anak.
Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana karya kreatif dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Perjalanan program ini menjadi contoh bahwa aksi sosial bisa dimulai dari sumber daya yang dimiliki.
Meski begitu, keberlanjutan sekolah tetap membutuhkan pendanaan jangka panjang, tenaga pengajar, fasilitas memadai, serta evaluasi agar manfaatnya tidak berhenti pada seremoni peresmian.
Pendekatan Setahun, Kepercayaan Warga Jadi Kunci
Pendirian Sekolah Anak Percaya di Kampung Apung ternyata tidak berlangsung secara instan.
Tim Andien membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat, sejak Oktober tahun sebelumnya, sebelum kegiatan belajar mengajar dapat diselenggarakan.
Proses ini menunjukkan bahwa membangun program pendidikan di lingkungan yang menghadapi berbagai persoalan membutuhkan lebih dari sekadar niat baik.
Kepercayaan warga perlu dibangun agar sekolah benar-benar diterima dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak setempat.
Pendekatan tersebut patut menjadi perhatian bagi pihak lain yang ingin menjalankan program sosial. Bantuan yang datang tanpa memahami kehidupan masyarakat berisiko tidak tepat sasaran.
Karena itu, keterlibatan orang tua, tokoh masyarakat, dan warga setempat penting untuk menentukan metode belajar, jadwal kegiatan, serta dukungan yang dibutuhkan agar anak-anak bisa mengikuti pendidikan secara berkelanjutan.
Anak Putus Sekolah Bukan Cuma soal Biaya
Keprihatinan terhadap tingginya angka anak putus sekolah menjadi salah satu alasan Andien menghadirkan fasilitas belajar di Kampung Apung.
Ia menyadari bahwa keterbatasan akses pendidikan di kawasan permukiman padat tidak selalu bisa diselesaikan dengan menyediakan tempat belajar gratis.
Sebagian keluarga juga menghadapi persoalan administrasi kependudukan dan hambatan birokrasi yang dapat mempersulit anak memperoleh akses terhadap layanan pendidikan formal.
Situasi ini memperlihatkan bahwa masalah pendidikan memiliki kaitan erat dengan persoalan sosial yang lebih luas.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan yang menyeluruh.
Selain menyediakan ruang belajar, solusi yang memungkinkan antara lain pendampingan pengurusan dokumen kependudukan, kerja sama dengan sekolah formal, dukungan pembelajaran dasar, serta komunikasi rutin dengan orang tua.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan lembaga pendidikan juga diperlukan agar anak-anak tidak hanya memperoleh kesempatan belajar, tetapi memiliki jalur yang lebih jelas untuk melanjutkan pendidikan.
Sekolah Gratis Perlu Dukungan Jangka Panjang
Andien menegaskan bahwa dirinya ingin ikut mencari jalan keluar ketika masyarakat menghadapi persoalan yang belum terselesaikan. Sikap tersebut menggambarkan pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai mitra, bukan sekadar penerima bantuan.
Namun, keberhasilan Sekolah Anak Percaya pada akhirnya perlu dilihat dari dampak nyata, seperti konsistensi kehadiran anak, perkembangan kemampuan belajar, dan bertambahnya kesempatan mereka untuk mengakses pendidikan lanjutan.
Ke depan, model seperti Sekolah Anak Percaya akan lebih kuat jika didukung sistem pendanaan yang transparan, tenaga pendidik yang berkelanjutan, serta kemitraan dengan pemerintah dan komunitas lokal.
Masyarakat juga dapat berkontribusi melalui dukungan perlengkapan belajar, kegiatan pendampingan, atau bantuan yang sesuai kebutuhan sekolah.
Bagi pemerintah, inisiatif semacam ini seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan anak putus sekolah perlu ditangani secara sistematis, bukan hanya bergantung pada gerakan individu.
Pendidikan gratis merupakan langkah awal yang penting, tetapi memastikan setiap anak dapat terus belajar adalah pekerjaan bersama yang membutuhkan komitmen jangka panjang.
Statement:
Andien
“Waktu itu lagi zaman COVID, terus aku menjual lagu ini royaltinya secara NFT. Hasil dari NFT tersebut kemudian kami jadikan modal untuk mendirikan Sekolah Anak Percaya.”
“Dari tahun lalu itu PDKT-nya setahun untuk kita bisa menyelenggarakan proses belajar mengajar di kampung tersebut.”
“Masalahnya sangat berlapis, bukan hanya kemauan akan mengenyam pendidikannya saja, tapi juga ada banyak masalah mengenai misalnya administrasi kependudukan dan lain-lain.”
“Ya udah kalau memang belum ada solusinya, justru aku yang ingin jadi solusinya. Yuk kita cari solusinya bareng.”
3 Poin Penting:
- Cabang kelima Sekolah Anak Percaya: Andien Aisyah meresmikan fasilitas belajar gratis di Kampung Apung, Jakarta, untuk membantu memperluas akses pendidikan bagi anak-anak setempat.
- Hambatan pendidikan bersifat kompleks: Selain keterbatasan ekonomi, anak-anak dapat menghadapi persoalan administrasi kependudukan, birokrasi, dan kurangnya dukungan untuk melanjutkan pendidikan formal.
- Solusi membutuhkan kolaborasi: Pendampingan dokumen, kerja sama dengan sekolah formal, keterlibatan orang tua, dan pendanaan berkelanjutan dapat membantu memastikan manfaat program bertahan dalam jangka panjang.



