Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini memunculkan ancaman baru dalam bentuk Dark AI, sebuah teknologi yang disebut sebagai dalang di balik serangan siber canggih.
Menurut perusahaan keamanan siber Kaspersky, Dark AI merujuk pada penggunaan model bahasa besar (LLM) atau sistem chatbot yang dimanfaatkan untuk tujuan berbahaya, tidak etis, atau ilegal.
Dark AI beroperasi di luar pengawasan keamanan standar, memungkinkan pelaku kejahatan siber melakukan penipuan, manipulasi, dan serangan tanpa batasan.
Bentuk yang paling umum dari teknologi ini adalah Black Hat GPT, sebuah model AI yang sengaja dirancang untuk aktivitas berbahaya seperti membuat kode malware, merancang email phishing yang sangat persuasif, dan menciptakan deepfake suara serta video.
Beberapa contoh model ini termasuk WormGPT, DarkBard, dan FraudGPT.
Tren yang Menghawatirkan
Para ahli Kaspersky juga mengamati tren yang lebih mengkhawatirkan, yakni pemanfaatan LLM oleh aktor negara dalam kampanye siber mereka.
Sebagai bukti, OpenAI baru-baru ini berhasil menggagalkan lebih dari 20 operasi siber terselubung yang menggunakan AI untuk menciptakan persona palsu yang meyakinkan serta menghasilkan konten multibahasa yang dirancang untuk menipu korban.
Sergey Lozhkin dari Kaspersky menekankan bahwa AI pada dasarnya adalah alat yang tidak memiliki moral.
Untuk menghadapi ancaman ini, ia menyarankan organisasi dan individu untuk memperkuat keamanan siber, berinvestasi dalam deteksi ancaman yang didukung oleh AI itu sendiri, dan terus mempelajari cara teknologi ini dapat disalahgunakan.



