Bank Lokal Masuk Ekosistem Merah Putih! OJK Siapkan Aturan Main Baru RBB

Kamis, 9 April 2026

Ojk (ist)

Kabar segar datang buat kamu yang peduli sama arah pembangunan ekonomi kita! Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lagi sibuk menggodok Rancangan Peraturan OJK (RPOJK) terbaru soal penyesuaian Rencana Bisnis Bank (RBB).

Bukan sekadar urusan administratif, aturan baru ini dirancang supaya industri perbankan nasional makin “gercep” dalam mendukung program-program prioritas pemerintah.

Bayangkan saja, mulai dari urusan perut lewat Makan Bergizi Gratis (MBG) sampai urusan atap lewat program 3 juta rumah, perbankan bakal didorong buat ambil peran lebih besar.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, atau yang akrab disapa Kiki, menjelaskan kalau langkah ini bertujuan memperluas peran sektor jasa keuangan.

Jadi, fungsi bank nggak cuma buat jaga stabilitas duit doang, tapi juga jadi mesin penggerak pembangunan nasional.

Program seperti Koperasi Desa Merah Putih juga masuk dalam bidikan OJK agar perbankan bisa memberikan suntikan modal yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat di pedesaan.

Strategi Dorong Kredit Tanpa Paksaan tapi Penuh Insentif

Meski terdengar ambisius, OJK menegaskan kalau skema ini sifatnya nggak wajib alias “enggak maksa”. Kiki menyebutkan bahwa setiap bank tetap punya kendali penuh atas manajemen risiko dan risk appetite mereka sendiri. Artinya, perbankan tetap bisa selektif memilih debitur supaya kesehatan keuangan bank tetap terjaga.

OJK hadir lebih sebagai fasilitator yang memberikan lampu hijau dan arahan agar bank merasa lebih percaya diri untuk masuk ke sektor-sektor prioritas yang selama ini mungkin dianggap berisiko tinggi.

Supaya bank makin semangat, OJK juga berencana memberikan berbagai kemudahan, terutama bagi bank yang mau membantu UMKM naik kelas.

Kiki menekankan kalau butuh keberpihakan nyata buat pelaku usaha kecil supaya angkanya nggak jalan di tempat. Strategi ini dikerjakan bareng-bareng alias kolaborasi lintas pihak, karena urusan membangun ekonomi rakyat memang nggak bisa dikerjakan sendirian.

Intinya, ada insentif dan pelatihan yang bakal disiapkan supaya ekosistem ini makin solid.

Inovasi Pembiayaan 3 Juta Rumah dan Strategi Survive Kabinet

Sektor perumahan jadi salah satu panggung utama kolaborasi ini. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait alias Bang Ara, terus memutar otak di tengah efisiensi anggaran pemerintah.

Kreativitas dan inovasi jadi kunci supaya program 3 juta rumah tetap jalan terus.

Dengan menggandeng bank Himbara, Bank Pembangunan Daerah (BPD), hingga BP Tapera, pemerintah ingin memastikan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) bisa punya rumah lewat skema KPR yang lebih fleksibel.

Dukungan ini makin kuat berkat intervensi Bank Indonesia (BI) yang royal kasih insentif likuiditas buat bank yang menyalurkan kredit konstruksi dan real estate.

Nggak cuma itu, BI bahkan melonggarkan aturan Loan To Value (LTV) sampai 100 persen! Ini artinya, kamu bisa saja beli rumah dengan DP alias uang muka 0%.

Masalah backlogperumahan di Indonesia diharapkan bisa kelar lebih cepat berkat sinergi maut antara kebijakan moneter BI dan kreativitas pembiayaan dari kementerian terkait.

Suntikan Dana SAL Rp100 Triliun Biar Sektor Riil Makin Kencang

Tugas perbankan, terutama Himbara, makin bertambah setelah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ikut “menitipkan” dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) negara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru saja menambah penempatan dana SAL sebesar Rp100 triliun ke perbankan plat merah bertepatan dengan momen Idul Fitri 2026.

Dana jumbo ini sengaja diparkir di bank supaya bisa diputar kembali ke sektor produktif, sehingga roda ekonomi rakyat di akar rumput bisa berputar lebih kencang.

Purbaya menegaskan kalau dana ini bukan buat disimpan doang di brankas bank. Karena ada cost alias biaya dana sekitar 4% yang harus dibayar bank ke negara, pihak bank dipastikan bakal “mikir keras” buat menyalurkannya dalam bentuk kredit produktif.

Kalau dana itu nggak disalurkan, bank malah bakal rugi sendiri. Dengan likuiditas yang melimpah ini, diharapkan pelaku usaha makin mudah dapat modal, lapangan kerja tercipta, dan pertumbuhan ekonomi nasional bisa tetap stabil di atas jalur yang benar.

Statement:

Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK

“Kita sedang merancang RPOJK untuk penyesuaian ketentuan RBB. Itu di dalamnya bagaimana kita mendukung bank juga bisa lebih masuk kepada program-program prioritas pemerintah. Enggak wajib, tapi kita dorong untuk itu. Kan semuanya harus sesuai dengan manajemen risiko dan risk appetite dari mereka.”

3 Poin Penting:

  1. OJK menyusun RPOJK baru terkait penyesuaian RBB untuk mendorong perbankan aktif membiayai program 3 juta rumah, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Koperasi Desa Merah Putih.

  2. Bank Indonesia mendukung program perumahan melalui insentif likuiditas dan kebijakan DP 0 persen untuk mengatasi masalah backlog hunian nasional.

  3. Kemenkeu menempatkan dana SAL tambahan sebesar Rp100 triliun di Himbara agar perbankan lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor produktif dan UMKM.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir