Sehari setelah peringatan seremoni kenegaraan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, gelombang gerakan mahasiswa kembali memadati pusat ibu kota.
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi unjuk rasa berskala besar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Aksi yang mengusung tagar #MerebutKemerdekaan ini menjadi panggung lantang mahasiswa dalam mempertanyakan hakikat kemerdekaan yang dirasakan oleh masyarakat luas.
Gerakan demonstrasi ini diinisiasi sebagai bentuk refleksi kritis atas berbagai persoalan sosial, ekonomi, serta hukum yang dinilai makin menghimpit kehidupan masyarakat.
BEM UI secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada publik Jakarta apabila jalannya aksi unjuk rasa tersebut menimbulkan simpul kemacetan di sejumlah ruas jalan protokol.
Mereka menegaskan bahwa kemacetan sementara di jalan raya jauh lebih ringan dibandingkan kemacetan keadilan struktural yang sudah terlalu lama diderita rakyat.
Makna Hakiki Kemerdekaan dan Kritik Terhadap Kemacetan Struktural
Ketua BEM UI, Yatalatof Imawan, menyoroti realitas sosial yang dinilainya belum mencerminkan cita-cita luhur pendiri bangsa.
Menurutnya, seremoni tahunan tidak secara otomatis memberikan kemerdekaan sejati jika masalah mendasar seperti ketersediaan lapangan kerja, stabilitas harga kebutuhan pokok, serta keadilan hukum masih menjadi beban berat yang membelenggu masyarakat sehari-hari.
Aksi lapangan ini dirancang tidak hanya melibatkan elemen mahasiswa saja, tetapi juga merangkul aliansi dari berbagai lapisan elemen masyarakat sipil.
Elemen buruh, petani, guru, hingga pedagang diajak untuk bersatu membulatkan suara demi menuntut perbaikan tata kelola negara.
Pendekatan ini dilakukan guna menegaskan bahwa perjuangan menuntut hak-hak sipil merupakan kebutuhan bersama seluruh rakyat Indonesia.
Delapan Tuntutan Utama Mulai dari Harga BBM Hingga Status Bencana
Dalam aksi unjuk rasa #MerebutKemerdekaan ini, BEM UI menyuarakan delapan poin tuntutan utama yang ditujukan langsung kepada pihak pemerintah.
Poin-poin tersebut mencakup desakan untuk menghentikan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), mewujudkan reforma agraria sejati, serta menuntut penurunan harga bahan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM) demi meringankan beban ekonomi warga.
Selain itu, mahasiswa meminta evaluasi total terhadap Program Strategis Nasional (PSN) serta penghentian program MBG dan KDMP.
Tuntutan lain menggarisbawahi perlunya penghentian pemusatan kekuasaan, pengembalian otonomi daerah, penetapan status bencana nasional untuk wilayah Sumatra dan Flores, hingga penghentian represivitas aparat serta intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil.
Konsistensi Gerakan Mahasiswa dan Imbauan Ketertiban dari Kampus
Aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak pagi hari ini mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian guna menjaga stabilitas keamananan lalu lintas di jantung kota.
Kendati memicu penumpukan kendaraan di sekitar Bundaran HI, arus massa aksi tetap berupaya menjaga situasi agar dapat menyampaikan aspirasi secara tertib dan kondusif.
Di sisi lain, Pimpinan Universitas Indonesia memberikan respons terhadap jalannya aksi lapangan para mahasiswanya.
Rektor UI berpesan agar seluruh mahasiswa yang turun ke jalan tetap menjaga almamater, mengenakan jaket kuning (jakun) sebagai identitas resmi, serta mematuhi batas waktu aksi dengan pulang secara tertib sebelum malam hari tiba.
Momentum Penentu Perubahan Tata Kelola Negara
Seruan aksi #MerebutKemerdekaan ini menjadi pengingat penting bahwa suara kritis mahasiswa dan masyarakat sipil tetap bergulir di tengah perayaan kemerdekaan.
Konsistensi BEM UI dalam mengawal isu-isu strategis nasional mencerminkan fungsi kontrol sosial yang terus hidup di lingkungan kampus.
Melalui penyerahan delapan poin tuntutan tersebut, publik kini menantikan bagaimana langkah konkret pemerintah dalam merespons gelombang aspirasi rakyat.
Aksi ini diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi perbaikan kebijakan publik serta pemulihan keadilan sosial bagi seluruh warga negara di masa depan.
Statement:
Yatalatof Imawan, Ketua BEM UI
“Hari ini, sehari setelah seremoni kenegaraan itu digelar, kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang: kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan? Kepada warga Jakarta, kami mohon maaf atas kemacetan hari ini. Namun ingat: kemacetan lalu lintas ini hanya beberapa jam, sedangkan kemacetan struktural, kemacetan lapangan kerja, dan kemacetan keadilan yang dipaksakan sudah delapan puluh satu tahun dan terus memburuk.”
3 Poin Penting:
-
Aksi #MerebutKemerdekaan di Bundaran HI: BEM UI bersama elemen masyarakat menggelar demonstrasi di Bundaran HI pada 18 Agustus 2026 untuk mengkritik masalah keadilan struktural dan lapangan kerja.
-
Delapan Tuntutan Rakyat: Tuntutan mencakup penurunan harga BBM/kebutuhan pokok, pemberantasan KKN, reforma agraria, evaluasi PSN, pengembalian otonomi daerah, penanganan bencana Sumatra/Flores, hingga penolakan represivitas TNI-Polri.
-
Pesan Rektor dan Ketertiban Aksi: Mahasiswa diimbau menggunakan jaket almamater (jakun) dan membubarkan diri secara tertib sebelum malam hari sesuai arahan rektorat UI.



