Bencana banjir yang melanda sejumlah daerah di Provinsi Bali sejak Selasa (9/9) tidak hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, tetapi juga menjadi peringatan serius akan kerusakan ekologis yang telah terjadi di pulau ini.
Akibat banjir, sembilan orang meninggal dunia, dua orang hilang, serta 202 kepala keluarga atau 620 jiwa terdampak di enam kabupaten dan kota.
Pemicu Banjir: Tata Ruang dan Penyempitan Lahan
Menurut pegiat lingkungan Bali, IGNA Agus Norman Sasono–dalam Greeners, bencana ini dipicu oleh beberapa faktor, yaitu tata ruang yang semrawut, penyempitan daerah resapan air, dan pembangunan masif yang mengabaikan lingkungan.
Ia menjelaskan bahwa banyak lahan hijau di Bali yang beralih fungsi menjadi kawasan komersial, perumahan, atau vila di tebing.
Perubahan fungsi ini menyebabkan air hujan langsung mengalir ke sungai dan selokan yang tidak mampu menampung volume air.
Pertumbuhan Pembangunan yang Pesat
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tren pembangunan di Bali terus meningkat pesat.
Jumlah hotel bintang, misalnya, melonjak drastis dari 113 unit pada tahun 2000 menjadi 593 unit pada tahun 2024.
Peningkatan ini juga sejalan dengan berkurangnya lahan produktif. Sebuah penelitian dari Universitas Udayana mencatat bahwa lahan persawahan di Kota Denpasar dan Kuta mengalami penyusutan hingga 41 persen dalam dua dekade terakhir.
Kearifan Lokal Terabaikan
Selain itu, Agus juga menilai bahwa pembangunan yang berlebihan telah mengabaikan kearifan lokal Bali, seperti konsep Tri Hita Karana dan sistem Subak, yang seharusnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Ia menambahkan bahwa kebijakan saat ini lebih sering berpihak pada kepentingan ekonomi jangka pendek daripada kelestarian lingkungan, bahkan mengabaikan aturan tradisional yang melarang pembangunan di area-area sensitif.
Respons Cepat Pemerintah Pusat
Menanggapi bencana ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, langsung memimpin rapat koordinasi dan meninjau lokasi terdampak.
Suharyanto menyatakan bahwa banjir ini disebabkan oleh fenomena alam seperti Gelombang Rossby dan Gelombang Kelvin.
Kerusakan dan Korban Jiwa
Suharyanto menambahkan bahwa bencana ini telah menyebabkan kerusakan infrastruktur dan menelan korban jiwa.
Tim gabungan yang terdiri dari 400 hingga 600 personel terus berupaya mencari korban yang hilang dan membersihkan sisa-sisa banjir.
Saat ini, beberapa warga juga terpaksa mengungsi karena tempat tinggal mereka masih terendam.
Statement:
IGNA Agus Norman Sasono, pegiat lingkungan Bali
“Banyak lahan hijau di Bali yang sekarang ini berubah fungsi menjadi perumahan, vila di tebing, atau kawasan komersial karena dorongan investor dan lemahnya pengawasan. Hal ini membuat air hujan tidak lagi meresap ke tanah, melainkan langsung mengalir ke sungai dan selokan yang kapasitasnya terbatas.”
![banjir kampung cogreg [dok. tribun]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/BANJIR-TANGERANG-6H8.jpg-300x169.webp)
![Banjir di U-turn Samsat Jakarta Barat [dok. X/@TMCPoldaMetro]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/full_1772943230180953_806b21a990_berita_pusat-pemberitaan-300x168.webp)
![bantargebang tim sar [Metrotvnews.com/Antonio]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/a_69ad6b9a64b72-300x225.jpg)
![sungai dengkeng [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/KALI-DENGKENG-MELUAP-1-300x200.webp)