Gak Perlu Validasi, Inilah Kisah Para Guru-Guru Hebat di Pelosok Negeri, Berjuang Demi Pendidikan dengan Hati

Selasa, 25 November 2025

Guys, pernah nggak sih kalian bayangin, bagaimana rasanya jadi guru yang harus mengajar di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)?

Tantangannya nggak cuma soal materi pelajaran, tapi juga soal medan ekstrem, sinyal, dan bahkan bahasa! Tapi, semangat para guru ini nggak pernah padam.

Yuk, kita kenalan sama Ana Paji Jiara, S.Pd., seorang guru di SD Inpres Wunga, Sumba Timur, NTT, yang punya jurus ampuh: mengajar pakai Bahasa Ibu!

Bu Ana, yang kini berusia menginjak 40 tahunan, memulai kariernya dengan modal nekat. Lulus SMA tahun 2000, ia sempat bertani dan beternak babi.

Namun, melihat hanya ada dua guru di sekolah dan kasihan melihat anak-anak yang sudah datang jauh-jauh, ia tergerak untuk mengajar di tahun 2004.

Awalnya, ia dan tiga temannya hanya dibayar “uang sabun” Rp20–50 ribu per bulan oleh kepala sekolah. Ini namanya dedikasi tanpa melihat nominal!

Start dari Nol: Dari ‘Uang Sabun’ Hingga Sarjana

Meskipun hanya lulusan SMA dan sama sekali nggak punya dasar-dasar mengajar, ia punya keyakinan: “Asal mau belajar.”

---
"Waktu itu saya mau mengajar karena saya lihat hanya ada dua guru di sini. Saya kasihan juga lihat anak-anak,"

Ana Paji Jiara

Guru di Pedalaman Sumba Timur, NTT

Setelah 16 tahun berstatus honorer, Bu Ana akhirnya berhasil menyandang gelar Sarjana Pendidikan dari Universitas Terbuka, diwisuda pada tahun 2016.

Perjalanan ini membuktikan bahwa semangat belajar dan pengabdian nggak kenal latar belakang. Ia berjuang keras demi meningkatkan kompetensinya.

Guru Ana dari Sumba Timur, NTT (Inovasi)

Jurus Jitu: Mengajar Pakai Bahasa Kambera

Di SD Inpres Wunga, rata-rata siswanya datang dari kampung-kampung seperti Walakari, Tanarara, bahkan Desa Talicu yang jaraknya 5 km.

Mayoritas mereka menggunakan Bahasa Kambera sebagai komunikasi sehari-hari, terutama di kelas bawah (sekitar 70% siswa).

Bu Ana menyadari, nggak nyambung kalau ia langsung mengajar pakai Bahasa Indonesia. Di sinilah ia mempraktikkan metode revolusioner: pembelajaran dengan Bahasa Ibu.

Ia mendesain kelasnya menjadi “zona membaca” dengan menempelkan gambar dan abjad yang dihubungkan dengan kata-kata dalam Bahasa Kambera.

Transformasi Berkat Pendampingan INOVASI

Bu Ana mengaku, ia baru merasa menjadi “guru yang sesungguhnya” setelah mendapat pendampingan dari INOVASI (Program Kemitraan Australia dan Indonesia untuk Pendidikan Dasar).

Sebelum ada INOVASI, Bu Ana dan guru lain hanya mengajarkan abjad ‘a-i-u-e-o’ setiap hari. “Anak-anak bosan dan lambat mengerti karena pakai Bahasa Indonesia waktu mengajar,” kenangnya.

Strategi yang diajarkan INOVASI adalah menggunakan gambar sebagai pemantik, kemudian mengeja huruf dalam Bahasa Kambera.

Ia bilang, kalau pakai bahasa Kambera anak-anak lebih berani menjawab. Faktor bahasa tidak lagi menjadi kendala. Bahasa Ibu ini digunakan untuk memahamkan konsep, kemudian bertransisi ke Bahasa Indonesia.

Memecahkan Masalah Belajar Ganda

Pendampingan INOVASI ini ternyata memberi hasil positif. Anak-anak menjadi lebih percaya diri, dan hasil belajar mereka pun meningkat.

Padahal, awalnya banyak guru mitra yang ragu menggunakan Bahasa Ibu karena khawatir melanggar kurikulum yang wajib menggunakan Bahasa Indonesia.

Untungnya, Anindito Aditomo, Kepala BSKAP Kemendikbudristek, mendukung praktik baik ini. Ia menyatakan, penggunaan transisi Bahasa Ibu seharusnya diterapkan sejak lama.

Kesulitan itu adalah belajar mengenal huruf latin/membaca dan mempelajari bahasa yang asing (Bahasa Indonesia).

Dedikasi Lintas Batas di Ujung Negeri

Guru Khadijah dari pedalaman Kalimantan (Antara foto)

Kisah Bu Ana ini sejalan dengan perjuangan guru-guru hebat di daerah terpencil lainnya. Di Flores Timur, ada Usman Ahmad yang sudah 21 tahun mengabdi dan setiap hari berjalan kaki 5 km melalui hutan.

Di Manggarai Barat, ada Sefrianus Jemandu yang harus mendaki bukit 2 km demi mendapat sinyal internet untuk pelatihan.

Juga ada Khadijah (53), yang sudah 23 tahun menembus Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, demi mengajar di SDN Juhu.

Khadijah berpesan kepada guru muda: “Apabila dari kota ditempatkan di pedalaman, ilmu yang didapat itu harus disampaikan. Masyarakat di pedalaman perlu dibuka wawasannya. Dari siapa lagi, kalau tidak dari guru, demi mencerdaskan anak-anak bangsa.”

Pendidikan adalah Kunci Perubahan

Para guru honorer, guru PNS, atau bahkan mereka yang dibayar ‘uang sabun’ ini adalah pilar sejati kemajuan bangsa. Mereka menghadapi tantangan luar biasa—mulai dari infrastruktur minim hingga hambatan bahasa dan budaya—demi memastikan hak setiap anak untuk belajar terpenuhi.

Perjuangan Bu Ana dan rekan-rekan membuktikan bahwa inovasi sekecil apa pun, seperti menggunakan Bahasa Ibu, bisa menjadi kunci untuk membuka potensi besar anak-anak di daerah terpencil.

Kolaborasi multi-pihak, seperti yang dilakukan INOVASI, sangat diperlukan untuk mendukung dan menyebarkan praktik baik ini ke seluruh pelosok negeri.

3 Poin Penting

  1. Revolusi Bahasa Ibu di Sumba: Guru Ana Paji Jiara berhasil meningkatkan kepercayaan diri dan hasil belajar siswa SD Inpres Wunga (Sumba Timur) dengan menerapkan metode pembelajaran transisi menggunakan Bahasa Kambera (Bahasa Ibu), terutama di kelas awal yang mayoritas siswanya tidak berbahasa Indonesia.

  2. Transformasi dan Dukungan: Ana Paji Jiara berjuang dari guru lulusan SMA yang dibayar ‘uang sabun’ hingga menjadi sarjana. Transformasi metode mengajarnya didukung penuh oleh program pendampingan INOVASI yang memperkenalkan ilmu pedagogi dan pentingnya pengantar Bahasa Ibu.

  3. Dukungan Regulasi: Praktik penggunaan Bahasa Ibu ini didukung oleh Kemendikbudristek (BSKAP), yang menegaskan bahwa metode ini sangat penting untuk mengatasi “kesulitan ganda” siswa di daerah terpencil, yaitu belajar membaca sekaligus mempelajari bahasa yang asing (Bahasa Indonesia).

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir