Waduh, ada kritik pedas nih buat kesiapsiagaan bencana di Indonesia! Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Yanu Endar Prasetyo, menyebut bahwa Indonesia tidak pernah belajar dari pengalaman, termasuk saat Siklon Tropis Seroja melanda 2021 lalu.
Kritik ini makin menohok mengingat korban jiwa akibat banjir bandang di Sumatra sudah mencapai angka 1.000 lebih jiwa (laporan BNPB mencapai 1.016 jiwa).
Yanu menyesalkan bahwa kebijakan kebencanaan di Indonesia hampir tidak pernah berlandaskan hasil riset ilmiah.
Seharusnya, mengambil pelajaran dari penanganan pandemi Covid-19, Pemerintah lebih mendengarkan rekomendasi ilmuwan.
Karakteristik 3P: Pelupa, Pemaaf, Penyabar Bikin Bencana Terulang
Yanu menyoroti model pembangunan Indonesia yang keliru, di mana ekonomi menjadi “panglima” dan ekologi menjadi sub-koordinat alias nomor dua.
Menurutnya, posisi ekonomi dan ekologi harus seimbang agar manusia tidak terus menjadi korban. Sayangnya, model yang ada saat ini justru menyebabkan bencana yang kita lihat sekarang.
Kritik lain ditujukan ke karakteristik bangsa Indonesia yang disebutnya pelupa, pemaaf, dan penyabar (3P).
Yanu khawatir banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bakal menghilang dari perhatian publik dalam tiga bulan ke depan.
Apalagi, fatalisme atau keyakinan takdir masih berakar kuat di masyarakat, membuat sains nomor sekian.
Krisis Kepemimpinan: Gubernur Aceh Kunci Counter Narasi Jakarta
Bencana ini juga dilihat dari konteks krisis politik dan administrasi. Yanu menganggap persoalan kepemimpinan kepala daerah turut berdampak besar dalam penanganan banjir bandang ini.
Ia menyesalkan hanya Gubernur Aceh yang berhasil mewarnai pemberitaan dan mencari atensi serta bantuan secara aktif.
Ini menyiratkan bahwa dampak bencana menjadi berlipat-lipat ketika kapasitas kepemimpinan dan dukungan anggaran daerah tidak memadai.
Peringatan Dini Mandek: Tantangan Mengoptimalkan Hasil Riset BRIN
Padahal, potensi kemunculan siklon tropis sebenarnya bisa terdeteksi beberapa hari hingga bulan sebelumnya melalui permodelan cuaca.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Cuaca Ekstrem BRIN, Erma Yulihastin, mengatakan pihaknya sudah mengembangkan berbagai perangkat prediksi cuaca dan iklim.
Namun, upaya mengoptimalkan pemanfaatan hasil prediksi tersebut dalam sistem mitigasi masih jadi tantangan berat di Indonesia.
Ini menegaskan bahwa masalahnya bukan pada sains, tapi pada implementasi kebijakan dan komunikasi publik yang efektif.
Statement:
Yanu Endar Prasetyo, Peneliti BRIN
“Siklon tropis ini bukan hal baru… tapi kita tidak belajar ya… buktinya kita gagal memitigasi atau mengantisipasi korban jiwa (banjir bandang di Sumatera) sebanyak itu… Karena ekonomi menjadi panglima, dan ekologi menjadi sub-koordinat, maka yang terjadi adalah yang kita lihat hari ini.”
3 Poin Penting:
-
BRIN mengkritik bahwa Indonesia gagal memitigasi bencana seperti banjir bandang Sumatera (korban jiwa mencapai 1.016), menegaskan bahwa kebijakan kebencanaan hampir tidak pernah berlandaskan hasil riset.
-
Yanu Endar Prasetyo menyoroti model pembangunan di mana ekonomi menjadi panglima dan ekologi menjadi sub-koordinat, serta karakteristik 3P (pelupa, pemaaf, penyabar) yang membuat bencana cepat menghilang dari perhatian.
-
Meskipun potensi siklon tropis dapat dideteksi BRIN melalui perangkat prediksi, tantangan utama adalah mengoptimalkan peringatan dini dan kapasitas kepemimpinan daerah untuk menindaklanjuti informasi tersebut secara cepat dan tepat.
![banjir kampung cogreg [dok. tribun]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/BANJIR-TANGERANG-6H8.jpg-300x169.webp)
![Banjir di U-turn Samsat Jakarta Barat [dok. X/@TMCPoldaMetro]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/full_1772943230180953_806b21a990_berita_pusat-pemberitaan-300x168.webp)
![bantargebang tim sar [Metrotvnews.com/Antonio]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/a_69ad6b9a64b72-300x225.jpg)
![sungai dengkeng [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/KALI-DENGKENG-MELUAP-1-300x200.webp)