Search

Bye AI! Ujian Lisan Kembali Tren Demi Jaga Integritas Akademik Kampus

Senin, 22 Desember 2025

Ilustrasi mahasiswi (ist)

Kecerdasan buatan alias AI memang sudah jadi asisten andalan mahasiswa zaman sekarang buat mengerjakan tugas. Tapi, fenomena ini bikin para dosen di seluruh dunia mulai putar otak buat menjaga kualitas pendidikan.

Catherine Hartmann, seorang profesor studi agama dari Universitas Wyoming, Amerika Serikat, memutuskan untuk “back to basic” dengan menerapkan kembali ujian lisan sejak tahun lalu.

Metode yang usianya sudah setua filsuf kuno ini mewajibkan mahasiswa berhadapan langsung dengan dosen selama 30 menit.

Di dalam kantornya, Hartmann memberikan pertanyaan mendalam yang harus dijawab secara spontan tanpa bantuan gadget.

Langkah ini diambil karena gempuran ChatGPT makin sulit dibendung dan mulai mengancam kejujuran akademik di lingkungan kampus.

Analogi Gym dan Tantangan Cognitive Off-loading

Penggunaan AI dalam dunia pendidikan sering kali memicu fenomena cognitive off-loading atau pelimpahan beban berpikir ke pihak ketiga. Hartmann memberikan analogi yang sangat menohok bagi para mahasiswanya yang malas berpikir.

Menurutnya, menggunakan AI untuk belajar itu ibarat membawa alat berat forklift ke tempat gym padahal tujuannya adalah untuk membangun otot tubuh sendiri.

Hartmann menegaskan bahwa kelas adalah tempat berlatih, dan dosen bertindak sebagai pelatih pribadi yang ingin mahasiswanya sanggup “mengangkat beban” intelektual secara mandiri.

Meskipun awalnya banyak mahasiswa seperti Lily Leman (20) yang merasa ciut nyali dan ketakutan, namun setelah menjalaninya, mereka justru merasa metode ini jauh lebih efektif untuk benar-benar memahami materi kuliah.

Bangkitnya Metode Kuno di Tengah Dominasi Teknologi

Sejak ChatGPT meledak pada 2022, survei menunjukkan sekitar 85 persen mahasiswa sudah menggunakan AI dalam perkuliahan mereka.

Menariknya, sekitar 30 persen mahasiswa justru menyarankan agar kampus merancang metode penilaian yang “tahan AI”.

Selain ujian tulis di kelas dengan buku kertas tradisional, ujian lisan menjadi senjata paling ampuh untuk memverifikasi kemampuan asli seorang mahasiswa.

Ujian lisan sebenarnya punya sejarah panjang dari zaman Romawi, Yunani, hingga India kuno, dan sempat jadi standar di Oxford serta Cambridge hingga abad ke-18.

Kini, metode ini mendapatkan “kehidupan kedua” tidak hanya di jurusan humaniora, tapi merambah ke kelas bisnis besar hingga teknik.

Di Universitas Western Ontario, metode ini bahkan sukses diterapkan pada kelas besar yang berisi 600 mahasiswa.

Manfaat Karir dan Masa Depan Penilaian Akademik

Tricia Bertram Gallant dari Universitas California menyebutkan bahwa ujian lisan bukan sekadar cara menangkap mahasiswa yang curang.

Metode ini menawarkan manfaat tambahan berupa latihan keterampilan berbicara dan berpikir kritis yang sangat berharga untuk karier di masa depan.

Mahasiswa dipaksa untuk menunjukkan pengetahuan mereka secara langsung melalui komunikasi verbal yang meyakinkan.

Dengan kemunculan perangkat AI yang makin canggih bahkan hingga berbentuk kacamata, ujian lisan menjadi benteng terakhir integritas pendidikan.

Setiap departemen di universitas kini didorong untuk mewajibkan mahasiswanya menempuh ujian lisan minimal sekali selama masa studi.

Langkah ini diharapkan bisa mengembalikan marwah belajar yang sesungguhnya: mengasah otak, bukan sekadar perintah prompt ke layar monitor.

Statement:

Catherine Hartmann dan Tricia Bertram Gallant

“Kelas adalah gym, dan saya adalah pelatih pribadi Anda. Saya ingin Anda mengangkat beban. Setiap departemen seharusnya mewajibkan mahasiswa mereka pada suatu saat untuk menunjukkan pengetahuan mereka secara lisan.”

3 Poin Penting:

  1. Ujian lisan kembali populer di berbagai universitas dunia sebagai solusi untuk menghadapi kecurangan akademik yang dipicu oleh teknologi AI generatif.

  2. Penggunaan AI secara berlebihan dianggap sebagai cognitive off-loading yang menghambat pertumbuhan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara mandiri.

  3. Selain menjaga integritas, ujian lisan melatih mahasiswa memiliki kemampuan komunikasi verbal dan kepercayaan diri yang penting bagi dunia kerja profesional.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan