Dunia maya mendadak gempar usai beredarnya cuplikan video berdurasi 16 detik yang memperlihatkan terjangan gelombang raksasa menghantam kawasan pesisir pantai.
Video yang diunggah oleh akun Facebook “Ruang Bertumbuh” serta disebarkan ulang oleh berbagai akun media sosial lainnya itu diklaim sebagai rekaman detik-detik peristiwa tsunami dahsyat usai bencana gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sontak saja, unggahan tersebut langsung menyedot ribuan respons, tanda suka, hingga pembagian masif dari para warganet yang panik dan mempercayai narasi tersebut.
Padahal, penyebaran informasi yang tidak tervalidasi semacam ini sangat berbahaya karena berpotensi memicu kepanikan massal di tengah situasi darurat pascabencana.
Warganet diimbau untuk selalu kritis dan tidak membagikan konten visual secara mentah-mentah sebelum dipastikan kebenarannya secara mendalam.
Keterangan narasi yang mencantumkan doa dan simpati pada video viral tersebut terbukti digunakan sebagai sarana untuk mendulang simpati serta memperluas jangkauan hoaks di platform digital.
Hasil Penelusuran Fakta dan Jejak Asli Rekaman
Berdasarkan hasil penelusuran cek fakta dengan metode pencarian gambar terbalik (reverse image search), terungkap bahwa rekaman gelombang tinggi tersebut sama sekali tidak berlokasi di wilayah NTT atau Indonesia.
Video identik itu rupanya merupakan rekaman peristiwa terjangan gelombang badai akibat Topan Super Fung-wong (secara lokal dikenal sebagai Topan Uwan) yang memporak-porandakan kawasan pesisir Dinalungan, Provinsi Aurora, Filipina.
Peristiwa alam yang mengerikan di Filipina tersebut tercatat terjadi pada pertengahan November 2025 lalu dan telah melumpuhkan berbagai akses jalan serta pemukiman warga setempat.
Fakta ini diperkuat oleh laporan media kredibel internasional dan nasional yang mengonfirmasi bahwa amukan gelombang dalam video merupakan dampak terjangan badai tropis berkecepatan angin tinggi di Filipina utara, bukan dipicu oleh gempa bumi tektonik di wilayah Flores.
Penyebaran ulang video lama bencana luar negeri dengan narasi baru ini menjadi modulasi hoaks yang sangat sering dipakai oleh pihak tak bertanggung jawab demi mendulang engagementinstan.
Realita Kondisi Pascagempa M7,7 di Wilayah NTT
Meski video viral tersebut terbukti hoaks, BMKG memang mencatat adanya guncangan gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang berpusat di laut pada jarak 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 km.
Gempa dangkal yang bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust tersebut sempat memicu dikeluarkannya peringatan dini tsunami setinggi 0,5 hingga 3 meter untuk beberapa wilayah pesisir berstatus siaga di NTT.
Namun, dari pemantauan pemodelan serta pemutakhiran parameter di lapangan, BMKG mengidentifikasi bahwa gelombang tsunami kecil yang muncul di sepuluh titik pesisir seperti Sikka, Flores Timur, hingga Labuan Bajo hanya berketinggian di bawah satu meter.
Peringatan dini tsunami pun secara resmi diakhiri dalam hitungan jam setelah dipastikan bahwa dinamika permukaan air laut sudah kembali aman dan terkendali.
Literasi Digital Kunci Utama Mencegah Kepanikan
Fenomena maraknya penyebaran video palsu di saat bencana menegaskan pentingnya meningkatkan literasi digital dan sikap skepticism yang sehat dalam ber-medsos.
Kepanikan yang timbul dari narasi palsu tsunami di Labuan Bajo hanya akan mengganggu proses evakuasi dan kesiapsiagaan tim tanggap darurat yang sedang bekerja keras di lokasi kejadian.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak mudah terprovokasi oleh potongan video pendek ber-caption bombastis yang berseliweran di media sosial tanpa konfirmasi resmi.
Selalu jadikan kanal komunikasi BMKG, BNPB, dan lembaga berita terverifikasi sebagai rujukan utama guna memastikan kebenaran informasi seputar bencana alam demi keselamatan bersama.
-
Video Viral Terbukti Hoaks: Rekaman gelombang tinggi yang diklaim sebagai tsunami pascagempa M7,7 di NTT faktanya merupakan dampak Topan Super Fung-wong di Filipina.
-
Kondisi Riil Gempa NTT: Gempa dangkal M7,7 memang melanda Nagekeo, NTT, namun gelombang tsunami yang terdeteksi BMKG tergolong kecil (di bawah 1 meter) dan ancaman sudah resmi berakhir.
-
Imbauan BMKG: Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama meminta masyarakat tidak panik dan hanya mengacu pada saluran resmi terverifikasi terkait pemutakhiran data bencana.





