China selama beberapa dekade terakhir dikenal agresif menjalankan program penghijauan, mulai dari penanaman pohon hingga pemulihan padang rumput.
Salah satu program paling besar adalah Great Green Wall yang dimulai pada 1978. Upaya tersebut ikut mendorong tutupan hutan China hingga lebih dari 25%.
Selain Great Green Wall, pemerintah China juga menjalankan program Grain for Green dan Natural Forest Protection.
Keduanya mendorong perubahan penggunaan lahan, termasuk mengonversi sebagian lahan pertanian menjadi kawasan hijau sekaligus membatasi penebangan hutan.
Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa upaya membuat China semakin hijau ternyata ikut mengubah distribusi air tawar.
Air Tawar Ikut Bergeser
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Earth’s Future menemukan adanya perubahan tutupan vegetasi sepanjang 2001–2020 yang berdampak terhadap ketersediaan air.
Dampak paling terasa berada di wilayah monsun timur dan kawasan kering barat laut yang mencakup sekitar 74% daratan China serta menjadi lokasi penting bagi permukiman, pertanian, dan pembangunan.
Di sisi lain, kondisi berbeda terjadi di Dataran Tinggi Tibet. Ketersediaan air di wilayah tersebut justru mengalami peningkatan.
Para peneliti mengaitkannya dengan meningkatnya evapotranspirasi, yaitu proses ketika air menguap dari permukaan sekaligus dilepaskan tanaman melalui transpirasi seiring bertambahnya tutupan hutan dan padang rumput.
Pohon Bertambah, Air yang Menguap Juga Naik
Penelitian tersebut menganalisis berbagai data beresolusi tinggi, termasuk evapotranspirasi, presipitasi, perubahan penggunaan lahan, serta model yang digunakan untuk melacak pergerakan uap air di atmosfer.
Hasil analisis menunjukkan evapotranspirasi meningkat lebih besar dibandingkan presipitasi di sejumlah wilayah.
Temuan ini bukan berarti penghijauan merupakan langkah yang keliru. Masalahnya, efek terhadap siklus air ternyata tidak seragam.
Ketika tutupan vegetasi bertambah, tanaman membutuhkan lebih banyak air dan meningkatkan evapotranspirasi. Sebagian air tersebut kemudian kembali ke atmosfer dalam bentuk uap.
Uap Air Bisa Menempuh Ribuan Kilometer
Menariknya, efek perubahan siklus air tidak berhenti di lokasi tempat pohon ditanam atau padang rumput dipulihkan. Para peneliti menyebut angin dapat membawa uap air hingga sekitar 7.000 kilometer dari sumbernya.
Artinya, perubahan vegetasi di satu kawasan berpotensi memengaruhi ketersediaan air di wilayah lain.
Peningkatan evapotranspirasi terutama tercatat pada perluasan hutan di wilayah monsun timur dan pemulihan padang rumput. Sementara itu, peningkatan presipitasi lebih menonjol di Dataran Tinggi Tibet.
Ketimpangan inilah yang membuat sebagian wilayah China berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air meski siklus hidrologinya secara keseluruhan menjadi lebih aktif.
Tantangan Baru di Balik China yang Makin Hijau
Arie Staal menegaskan bahwa peningkatan aktivitas siklus air tidak otomatis berarti semua wilayah mendapatkan lebih banyak air.
Justru pada skala lokal, sebagian kawasan dapat kehilangan lebih banyak air dibandingkan sebelumnya akibat meningkatnya evapotranspirasi.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa program penghijauan berskala besar perlu memperhitungkan hubungan antara vegetasi, atmosfer, dan sumber daya air.
Distribusi air di China memang sudah tidak merata; wilayah yang dihuni sekitar 46% populasi dan mencakup 60% lahan hanya memiliki sekitar 20% sumber daya air.
Karena itu, kebijakan penghijauan yang tidak memasukkan dampak redistribusi air berpotensi menghadirkan tantangan baru di masa depan.
3 Poin Penting:
- Program penghijauan China mengubah siklus air. Great Green Wall, Grain for Green, dan Natural Forest Protection meningkatkan tutupan vegetasi, tetapi juga memengaruhi distribusi air tawar.
- Ketersediaan air tidak berubah secara merata. Wilayah monsun timur dan barat laut cenderung mengalami penurunan ketersediaan air, sementara Dataran Tinggi Tibet mengalami peningkatan.
- Penghijauan perlu memperhitungkan kebutuhan air. Peningkatan evapotranspirasi membuat sebagian air lebih banyak kembali ke atmosfer, sehingga kebijakan penghijauan perlu diselaraskan dengan pengelolaan sumber daya air.



