Search

Cuma Nunggak Rp300 Ribu, Dua Siswa Panti di Padang Nyaris Putus Sekolah

Rabu, 13 Mei 2026

pelajar nunggak bayar seragam di padang [dok. web]
pelajar nunggak bayar seragam di padang [dok. web]

Dunia pendidikan kita kembali dihebohkan dengan kabar pilu yang datang dari Kota Padang.

Dua remaja tangguh penghuni LKSA Panti Asuhan Nur Ilahi, Dio Patuta (18) dan Afil Mulyadi (17), mendadak terancam kehilangan masa depan hanya karena masalah biaya yang tergolong kecil bagi sebagian orang.

Keduanya sempat diminta untuk mencari sekolah lain oleh pihak instansi pendidikan mereka akibat tunggakan biaya seragam sebesar Rp300 ribu yang belum sanggup dilunasi oleh pihak panti.

Masalah ini bermula ketika pihak sekolah menagih pelunasan seragam yang sebenarnya sudah lama digunakan oleh Dio dan Afil.

Namun, karena kondisi finansial panti asuhan tempat mereka bernaung sedang tidak stabil, pembayaran tersebut terpaksa tertunda.

Alih-alih mendapatkan keringanan atau solusi bersama, instruksi yang diterima justru terasa sangat menyesakkan dada bagi kedua siswa yang sedang berjuang meniti cita-cita tersebut.

Dilema Finansial dan Ancaman Drop Out

pelajar nunggak bayar seragam di padang [dok. web]
pelajar nunggak bayar seragam di padang [dok. web]

Ketua Panti Asuhan Nur Ilahi, Renol Putra, mengungkapkan bahwa tekanan tidak hanya datang dari tunggakan seragam Dio yang senilai Rp300 ribu tersebut.

Beban finansial semakin membengkak karena adanya biaya pindah untuk Afil yang menyentuh angka Rp2,5 juta.

Situasi ini tentu sangat memberatkan pihak panti yang sehari-harinya harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan pokok banyak anak asuh lainnya di tengah keterbatasan donasi.

Kabar mengenai siswa yang diminta berhenti sekolah ini pun langsung menjadi perbincangan hangat setelah kisahnya mencuat ke permukaan.

Banyak pihak menyayangkan sikap kaku dari oknum sekolah yang seolah-olah menutup mata terhadap latar belakang sosial ekonomi siswa.

Padahal, akses pendidikan seharusnya menjadi hak dasar yang dilindungi, terutama bagi anak-anak yang tinggal di lembaga kesejahteraan sosial.

Kekuatan Netizen dan Solusi Pasca Viral

Untungnya, kekuatan solidaritas masyarakat digital atau yang sering kita sebut sebagai “The Power of Netizen” kembali menunjukkan taringnya.

Setelah kasus ini viral dan mendapatkan perhatian luas, berbagai bantuan dari donatur mulai mengalir deras untuk membantu melunasi tunggakan tersebut.

Kini, beban biaya seragam dan dana pindah yang sempat menghantui Dio dan Afil telah berhasil diselesaikan berkat kebaikan hati para dermawan yang tergerak melihat ketidakadilan ini.

Meskipun masalah administrasi sudah tuntas, luka psikologis dan rasa canggung di sekolah lama nampaknya sulit untuk dihindari.

Oleh karena itu, saat ini pihak panti asuhan sedang mengupayakan proses perpindahan Dio dan Afil ke sekolah baru yang lebih suportif.

Tujuannya jelas, agar kedua remaja ini bisa kembali fokus belajar tanpa perlu merasa terbebani oleh stigma atau bayang-bayang masalah keuangan yang pernah menimpa mereka.

Evaluasi Sistem Pendidikan dan Kepekaan Sosial

Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih memiliki celah besar terkait kepekaan sosial.

Seharusnya, tidak ada satu pun anak yang harus berhenti sekolah hanya karena masalah biaya seragam, apalagi bagi mereka yang sudah memiliki status sosial rentan.

Diperlukan pengawasan yang lebih ketat dari Dinas Pendidikan setempat agar kasus serupa tidak kembali terulang dan mencoreng citra dunia pendidikan nasional.

Bagi anak muda sekarang, kisah Dio dan Afil adalah pelajaran tentang pentingnya empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Melalui media sosial, kita punya kekuatan untuk menyuarakan ketidakadilan dan membantu mereka yang membutuhkan solusi cepat.

Semoga ke depannya, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat bisa lebih solid dalam menjamin keberlangsungan pendidikan bagi setiap anak bangsa, tanpa pandang bulu.

Statement:

Renol Putra (Ketua Panti Asuhan Nur Ilahi)

“Anak disuruh berhenti dan mencari sekolah baru karena nunggak biaya seragam. Jika sebelumnya biaya seragam Dio sebesar Rp300 ribu, kali ini masuk pula biaya pindah Afil sebesar Rp2,5 juta. Namun Alhamdulillah, sekarang sudah dilunasi lewat bantuan donatur setelah kasus ini viral.”

3 Poin Penting:

  • Dua siswa panti asuhan di Padang terancam putus sekolah karena tunggakan biaya seragam sebesar Rp300 ribu dan biaya pindah Rp2,5 juta.

  • Pihak panti asuhan sempat kesulitan melunasi biaya tersebut hingga diminta oleh pihak sekolah untuk mencari tempat pendidikan lain.

  • Setelah kasusnya viral, seluruh tunggakan telah dilunasi oleh donatur, dan kedua siswa kini dalam proses pindah ke sekolah baru.

[gas/man]

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan