Search

Dampak Badai Matahari di Atmosfer Mars Terungkap, Bikin Suhu Planet Merah Melonjak Drastis

Kamis, 23 Juli 2026

Ilustrasi badai matahari (ist)

Matahari selama ini sudah sangat terkenal sebagai penggerak utama siklus cuaca dan kehidupan di Bumi. Sinar hangatnya memanaskan permukaan planet, menggerakkan siklus air, hingga menjadi mesin utama di balik sirkulasi atmosfer.

Namun, sebuah pertanyaan besar kini mulai mencuri perhatian para peneliti dunia: apakah kedahsyatan badai matahari juga sanggup memengaruhi kondisi cuaca dan atmosfer di planet lain?

Bukti-bukti ilmiah terbaru dari Planet Merah menunjukkan bahwa fenomena alam tersebut ternyata nyata terjadi.

Kisah mengejutkan ini bermula pada tahun 2018 silam, saat badai debu global berukuran raksasa melanda seluruh permukaan Mars dan mengakhiri misi jelajah rover NASA, Opportunity.

Para ilmuwan antariksa kini berhasil menemukan keterkaitan erat antara kehancuran akibat badai debu tersebut dengan peristiwa partikel energetik matahari (solar energetic particle/SEP) yang menerjang Mars di waktu bersamaan.

Temuan ini langsung mengubah cara pandang peneliti terhadap dinamika cuaca di luar angkasa.

Deteksi MAVEN dan Fenomena Aurora di Lapisan Atmosfer Atas

Dampak dari hempasan peristiwa SEP sejatinya pernah dikaitkan dengan berbagai fenomena unik di lapisan atas atmosfer Mars.

Wahana antariksa MAVEN (Mars Atmosphere and Volatile EvolutioN) milik NASA sebelumnya sempat mendeteksi kemunculan aurora samar yang tersebar di lapisan atmosfer teratas Planet Merah akibat terjangan partikel matahari.

Kendati demikian, efek dominan dari partikel energetik tersebut terhadap lapisan bawah atmosfer Mars selama bertahun-tahun masih menjadi teka-teki ilmiah yang belum terpecahkan.

Guna mengurai misteri tersebut, tim peneliti memanfaatkan instrumen canggih pada wahana Trace Gas Orbiter (TGO) milik Badan Antariksa Eropa (ESA).

Tim mengamati dampak dari lima peristiwa SEP yang terjadi di Mars sepanjang rentang tahun 2018 hingga 2021.

Hasil analisis data suhu lingkungan secara mengejutkan menunjukkan adanya lonjakan suhu yang sangat ekstrem, yang mana bertepatan langsung dengan momen terjadinya badai debu global serta hantaman partikel matahari pada 2018.

Lonjakan Suhu Ekstrem 50 Derajat Celsius di Ketinggian Mars

Berdasarkan pengisian data pengukuran TGO, tim ilmuwan mencatatkan adanya Kenaikan suhu yang sangat masif, yakni mencapai sekitar 50 derajat Celsius (90 derajat Fahrenheit) pada ketinggian 75 hingga 125 kilometer dari permukaan Mars.

Angka kenaikan suhu ini tergolong sangat drastis jika dibandingkan dengan peristiwa SEP pada Juli 2021 yang hanya memicu kenaikan suhu sangat kecil.

Lonjakan suhu yang tidak biasa pada tahun 2018 tersebut lantas menjadi fokus utama studi eksplorasi para ilmuwan antariksa.

Meskipun temuan lonjakan suhu ini sangat menjanjikan, para peneliti mengimbau publik untuk tidak langsung menarik kesimpulan yang terlalu jauh terkait hubungan kausalitas peristiwa antariksa dengan fenomena cuaca permukaan Mars.

Hambatan riset juga sempat terjadi lantaran wahana MAVEN dinyatakan hilang kontak akibat anomali pada Desember tahun lalu.

Meski demikian, tim peneliti optimistis masih banyak data mentah dari wahana TGO yang bisa diolah untuk mengungkap misteri siklus badai matahari berikutnya.

Eksplorasi Badai Matahari 2024 dan Karakter Aktif Planet Merah

Fokus riset kini diarahkan untuk menganalisis dampak badai matahari hebat yang terjadi sepanjang tahun 2024 terhadap atmosfer Mars secara menyeluruh.

Pada peristiwa tahun 2024 tersebut, kamera rover Curiosity bahkan sempat mengabadikan langsung momen hujan partikel matahari yang jatuh menghantam permukaan Mars.

Hasil analisis mendalam mengenai rentetan fenomena alam ini resmi dipresentasikan dalam ajang bergengsi National Astronomy Meeting 2026 yang diselenggarakan oleh Royal Astronomical Society di Birmingham, Inggris.

Rangkaian temuan ilmiah terbaru ini makin mempertegas bahwa Mars bukanlah sekadar planet mati yang pasif, melainkan sebuah dunia yang sangat dinamis dan terus dibentuk oleh faktor internal maupun eksternal secara bersamaan.

Pemahaman baru mengenai dampak badai matahari ini dipastikan akan membuka cakrawala baru bagi eksplorasi antariksa manusia di masa depan.

Keindahan serta keunikan cuaca di Planet Merah pun membuktikan bahwa ruang angkasa selalu menyimpan kejutan yang tak terbatas.

Statement:

Lana Williams, Peneliti PhD di Lancaster University

“Kami menemukan bahwa tidak banyak interaksi terjadi, kecuali pada satu peristiwa ini di mana kami melihat pemanasan dalam jumlah yang cukup signifikan. Saat ini kami memang belum memiliki data untuk menelusurinya lebih jauh, tapi akan menarik untuk melihat badai matahari 2024.”

Lana Williams, Pesan Mengenai Karakter Planet Mars

“Saya hanya ingin masyarakat umum tahu bahwa Mars bukan sekadar planet tandus. Ada begitu banyak hal yang terjadi dan begitu banyak yang bisa kita eksplorasi dan pelajari dari planet ini.”

3 Poin Penting:

  • Dampak Badai Matahari di Mars: Peneliti menemukan kaitan antara badai partikel energetik matahari (SEP) dengan lonjakan suhu drastis di atmosfer bawah Mars saat badai debu global 2018.

  • Lonjakan Suhu Masif 50 Derajat: Analisis data dari wahana Trace Gas Orbiter (TGO) milik ESA mencatatkan kenaikan suhu atmosfer Mars hingga 50 derajat Celsius pada ketinggian 75–125 km.

  • Presentasi di NAM 2026: Hasil studi yang membuktikan Mars sebagai planet dinamis ini resmi dipresentasikan pada National Astronomy Meeting 2026 di Birmingham, Inggris.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan