Peta politik Tanah Air kembali dihangatkan oleh sorotan hangat dari pimpinan relawan nasional.
Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, secara terbuka melemparkan pujian kepada sosok Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM, saat mendiskusikan kombinasi ideal kepemimpinan populis dan teknokratis.
Budi Arie menilai bahwa pendekatan personal yang hangat kepada masyarakat merupakan modal krusial bagi seorang figur politik untuk mengamankan kepercayaan publik.
Gaya komunikasi yang luwes serta menyatu dengan masyarakat bawah dianggap menjadi daya tarik utama dari karakter politik yang melekat pada diri KDM.
Perbandingan Langgam Politik KDM dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo
Dalam pandangannya, Budi Arie tidak ragu membandingkan gaya politik yang diusung Dedi Mulyadi dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Ia menyebut keduanya memiliki kemiripan yang cukup mencolok, terutama dalam cara berinteraksi serta mendengarkan aspirasi warga di lapangan.
Selain menyoroti kemiripan gaya kepemimpinan, Budi Arie juga mengonfirmasi adanya jalinan hubungan komunikasi yang baik antara Dedi Mulyadi dan Jokowi.
Kehadiran langgam politik yang merakyat ini dinilai menjadi jawaban atas kerinduan masyarakat akan sosok pemimpin yang inklusif dan mudah dijangkau.
Analisis Pengamat Politik Terkait Pujian Tak Biasa dari Ketum Projo
Pernyataan apresiatif Budi Arie tersebut mendadak menyita perhatian pengamat politik nasional sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno.
Adi menilai pujian yang dilontarkan Ketum Projo bukanlah sekadar basa-basi politik biasa di ruang publik.
Menurut analisis Adi, sosok Budi Arie dikenal sangat selektif dan terbilang jarang memberikan sanjungan terbuka kepada tokoh politik di luar Jokowi.
Oleh karena itu, ketika label “Jokowi versi Jawa Barat” tersemat pada Dedi Mulyadi, hal tersebut mengandung makna politik yang cukup signifikan terkait persepsi kepemimpinan.
Kombinasi Unsur Populisme dan Teknokrasi Tanpa Klaim Dukungan Resmi
Diskusi mengenai profil Dedi Mulyadi mencuat saat publik menyoroti kebutuhan akan figur pemimpin yang sanggup mengawinkan keahlian teknokratis dengan keluwesan populis.
KDM dipandang memenuhi kriteria populisme tersebut berkat konsistensi gaya komunikasinya yang membumi.
Meski demikian, ulasan Budi Arie maupun penafsiran Adi Prayitno ditegaskan belum menjadi sinyal dukungan atau keputusan politik resmi terkait kontestasi tertentu.
Penilaian tersebut murni merupakan bentuk analisis terhadap dinamika gaya kepemimpinan serta model komunikasi politik yang tengah berkembang.
Statement:
Budi Arie Setiadi, Ketua Umum Projo
“Rakyat butuh populisme. Nah, itu kan didapat dari KDM. Dan kalau mau jujur langgamnya atau gayanya Pak Kang Deni Mul ini agak mirip-mirip Pak Jokowian, rakyat-rakyat bicara padanya, mendekati rakyat begitu loh.”
Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia
“Makanya Budi Arie itu bilang KDM itu ya ini adalah Jokowi versi Jawa Barat. Itu kan nyata. Enggak gampang loh Budi Arie itu muji orang, Mang. Enggak gampang, Bang Budi itu yang dipuji cuma satu, Pak Jokowi.”
3 Poin Penting:
-
Pujian Budi Arie ke KDM: Ketum Projo Budi Arie Setiadi menilai Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (KDM) memiliki gaya kepemimpinan populis yang mirip dengan gaya politik Jokowi.
-
Analisis Parameter Politik: Pengamat politik Adi Prayitno menyebut julukan “Jokowi versi Jawa Barat” bagi KDM menarik karena Budi Arie dikenal sangat jarang memuji figur selain Jokowi.
-
Kombinasi Populis & Teknokratis: Penilaian ini berfokus pada gaya komunikasi publik KDM dan bukan merupakan bentuk pengusungan atau dukungan politik resmi.



