Kabar duka kembali menyelimuti wilayah Sumatra di penghujung tahun 2025. Berdasarkan pembaruan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban jiwa akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi sekaligus kini telah mencapai angka 1.112 orang.
Penambahan enam korban jiwa dalam kurun waktu 24 jam terakhir menunjukkan betapa dahsyatnya dampak bencana ekologis yang menerjang wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat tahun ini.
Situasi di lapangan masih sangat mencekam karena proses pencarian korban yang belum ditemukan terus dipacu oleh waktu.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa tim di lapangan masih berjibaku mencari 176 orang yang dinyatakan hilang.
Tim SAR Gabungan dari berbagai unsur terus dikerahkan ke titik-titik paling terisolasi guna memberikan kepastian bagi keluarga korban yang masih menunggu kabar di tengah puing-puing sisa bencana.
Tim SAR Gabungan Terus Berjibaku Mencari Korban Hilang
Upaya pencarian dan pertolongan (SAR) menjadi prioritas utama pemerintah saat ini di tiga provinsi terdampak. Penambahan satu nama dalam daftar korban hilang hari ini membuat total pencarian mencapai 176 jiwa.
Medan yang sulit akibat timbunan material longsor dan sisa-sisa banjir bandang menjadi tantangan berat bagi para petugas.
Namun, komitmen untuk terus melakukan operasi pencarian tetap membara demi mengevakuasi seluruh korban yang masih tertimbun atau terseret arus.
Konferensi pers yang digelar secara virtual pada Selasa, 24 Desember 2025, menjadi pengingat bagi publik bahwa solidaritas nasional sangat dibutuhkan.
Kondisi geografis Sumatera yang sedang tidak stabil memerlukan koordinasi super ketat antar-lembaga.
BNPB memastikan bahwa segala sumber daya, mulai dari teknologi pemetaan hingga personel ahli, telah diterjunkan secara maksimal guna mempercepat proses penanganan darurat di wilayah-wilayah yang paling parah terdampak.
Ratusan Ribu Pengungsi Masih Bertahan di Posko Darurat
Beralih ke kondisi para penyintas, data BNPB mencatat sebanyak 498.447 jiwa hingga hari ini masih terpaksa tinggal di posko-posko pengungsian.
Meskipun angka ini menunjukkan penurunan karena sebagian warga mulai kembali ke rumah atau menumpang di tempat kerabat, jumlah tersebut tetap menjadi angka yang sangat besar untuk dikelola.
Fasilitas kesehatan dan sanitasi di titik-titik pengungsian terus dipantau agar tidak muncul wabah penyakit pascabencana.
Pemerintah menjamin bahwa kebutuhan logistik, baik makanan maupun bantuan non-permakanan seperti selimut dan pakaian layak pakai, akan terus disuplai tanpa henti.
Dukungan ini tidak hanya ditujukan bagi mereka yang berada di posko resmi, tetapi juga bagi warga yang sudah mencoba bangkit dan kembali ke rumah masing-masing.
Fokus utama adalah memastikan tidak ada warga yang kelaparan atau kekurangan kebutuhan dasar selama masa pemulihan darurat ini.
Layanan Pengaduan Dibuka demi Kepastian Data Korban
Merespons banyaknya warga yang kehilangan kontak dengan anggota keluarganya, Pemerintah Aceh secara khusus telah membuka layanan pengaduan hilang kontak.
Langkah ini diambil untuk sinkronisasi data lapangan agar informasi yang diterima masyarakat tetap akurat dan tidak simpang siur.
Layanan ini menjadi jembatan penting bagi warga untuk melaporkan detail anggota keluarga yang belum ditemukan sehingga mempermudah tugas Tim SAR Gabungan dalam memetakan lokasi pencarian.
Harapannya, seiring dengan surutnya air dan stabilnya kondisi cuaca, proses pemulihan infrastruktur dasar bisa segera dimulai.
Namun, fokus saat ini tetap pada urusan kemanusiaan dan penyelamatan nyawa. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan mengingat curah hujan yang masih fluktuatif.
Doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia kini tertuju pada Sumatera agar segera bangkit dari masa-masa sulit ini.
Statement:
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB
“Hari ini jumlah korban jiwa menjadi 1.112 jiwa dari tiga provinsi, yang artinya bertambah enam jiwa dari hari kemarin. Untuk korban hilang terdapat 176 jiwa yang masih terus dilakukan pencarian oleh Tim SAR Gabungan. Kami terus mendukung kebutuhan makanan dan non-permakanan bagi 498.447 jiwa yang masih mengungsi.”
3 Poin Penting:
-
Korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar) per 24 Desember 2025 resmi mencapai 1.112 jiwa.
-
Sebanyak 176 orang masih dalam status hilang dan sedang dalam proses pencarian intensif oleh Tim SAR Gabungan.
-
Hampir setengah juta warga (498.447 jiwa) masih bertahan di pengungsian dan membutuhkan dukungan logistik serta bantuan dasar secara berkelanjutan.
![banjir kampung cogreg [dok. tribun]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/BANJIR-TANGERANG-6H8.jpg-300x169.webp)
![Banjir di U-turn Samsat Jakarta Barat [dok. X/@TMCPoldaMetro]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/full_1772943230180953_806b21a990_berita_pusat-pemberitaan-300x168.webp)
![bantargebang tim sar [Metrotvnews.com/Antonio]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/a_69ad6b9a64b72-300x225.jpg)
![sungai dengkeng [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/KALI-DENGKENG-MELUAP-1-300x200.webp)