Gelombang Musisi Cabut dari Spotify Akibat Investasi Militer CEO

Rabu, 15 Oktober 2025

Daniel Ek, CEO Spotify (getty images)

Gelombang kekecewaan melanda komunitas musisi global, mendorong sederet artis Indonesia dan internasional mengambil langkah drastis: mencabut seluruh katalog musik mereka dari platform streaming raksasa, Spotify.

Aksi boikot ini merupakan respons langsung terhadap sikap CEO Spotify, Daniel Ek, yang diketahui telah melakukan investasi signifikan ke Helsing, sebuah perusahaan teknologi drone dan Artificial Intelligence (AI) yang fokus pada pengembangan militer.

Bagi banyak seniman, afiliasi antara platform musik yang seharusnya merayakan kehidupan dan kebebasan dengan teknologi perang adalah sebuah kontradiksi yang tak dapat diterima.

Di Indonesia, sikap tegas ini diambil oleh band cadas Seringai. Manajer mereka, Wendy Putranto, menjelaskan bahwa keputusan ini didasari prinsip penolakan untuk terlibat—bahkan secara tidak langsung—dalam dukungan terhadap peperangan.

Seringai menolak keras karya-karya mereka terafiliasi dengan kegiatan yang mendukung kekerasan. Mereka menegaskan, penarikan katalog hanya dilakukan dari Spotify, sementara lagu-lagu mereka tetap tersedia di platform streaming musik lainnya.

Solidaritas Global Melawan Genosida dan Perang

Aksi boikot Seringai disambut oleh seniman-seniman lain di Tanah Air. Band asal Yogyakarta, Majelis Lidah Berduri, juga mengumumkan pengunduran diri dari Spotify.

Mereka secara gamblang menilai Spotify berpihak pada pihak yang mendukung genosida Palestina melalui investasi teknologi perang, seraya mengkritik normalisasi sistem ekonomi neoliberal yang merugikan pekerja seni.

Begitu pula musisi Leilani Hermiasih atau Frau, yang telah lebih awal hengkang sejak September 2025. Ia menyuarakan keheranannya, “Ironis banget, kok seseorang yang mengembangkan platform musik, yang seharusnya merayakan kehidupan dan kebebasan, malah ikut nyumbang ke teknologi perang.”

Solidaritas ini bergema hingga ke panggung internasional. Pionir trip-hop Inggris, Massive Attack, menjadi salah satu penarik katalog yang paling vokal, dan mereka langsung bergabung dengan gerakan No Music for Genocide.

Gerakan ini, yang diikuti oleh lebih dari 400 artis dan label rekaman, secara spesifik memblokir musik mereka dari layanan streaming di Israel.

Band indie-rock Amerika, Deerhoof, dan band rock Australia, King Gizzard & The Lizard Wizard, juga mengambil sikap serupa, menolak kekayaan hasil musik mereka digunakan untuk membiayai konflik dan kekerasan.

Prinsip Kemanusiaan Melampaui Bisnis

Keputusan para musisi ini didasari oleh landasan prinsip kemanusiaan yang kuat. Musisi senior Australia, David Bridie, misalnya, menarik karyanya karena alasan yang sangat mendasar, “Ini bukan tentang bisnis, ini tentang kemanusiaan.”

Daftar musisi internasional yang hengkang juga bertambah panjang, termasuk Godspeed You! Black Emperor, Hotline TNT, Wu Lyf, dan Skee Mask, yang semuanya menolak kebijakan investasi Daniel Ek di Helsing.

Para seniman menggunakan platform mereka untuk menyampaikan pesan etika yang jelas, bahwa seni dan musik harus berdiri di sisi kehidupan, bukan kehancuran.

Aksi kolektif ini menunjukkan bahwa bagi banyak pekerja seni, idealisme tidak bisa dikompromikan demi keuntungan finansial semata.

Ini menjadi pengingat yang menyentuh hati tentang kekuatan kolektif musisi dalam menentang kekerasan negara dan investasi militer.

Tanggapan Pihak Perusahaan

Menanggapi gelombang protes dan boikot ini, pihak Spotify memberikan respons dengan mencoba meredakan situasi dan memisahkan diri dari isu militer.

“Spotify dan Helsing adalah dua perusahaan yang benar-benar terpisah,” kata seorang juru bicara Spotify, seraya menambahkan bahwa kegiatan Helsing “tidak terlibat di Gaza” dan upaya mereka “difokuskan pada upaya Eropa untuk mempertahankan diri di Ukraina.”

Pernyataan senada juga dirilis oleh Helsing: “Saat ini kami melihat misinformasi yang menyebar bahwa teknologi Helsing digunakan di zona perang selain Ukraina. Ini tidak benar. Teknologi kami digunakan di negara-negara Eropa hanya untuk pencegahan dan pertahanan terhadap agresi Rusia di Ukraina.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir