Search
Search
Search

Gempa Dangkal Gunung Salak Rusak 349 Bangunan di Bogor dan Sukabumi, Pakar Ingatkan Bahaya Rumah Tak Tahan Gempa

Senin, 19 Oktober 2026

Gunung Salak (wikipedia)

Gempa bumi yang mengguncang wilayah Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, dan Pamijahan, Kabupaten Bogor, pada Kamis sore (15/10/2026), menjadi pengingat bahwa ancaman bencana tidak selalu datang dengan magnitudo besar.

Meski hanya berkekuatan M3,5 dan M4,1, dua gempa dangkal yang berpusat di sekitar kawasan Gunung Salak tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada ratusan bangunan.

Berdasarkan laporan sementara, total 349 rumah dan lima fasilitas ibadah di Kabupaten Bogor mengalami kerusakan, sementara 96 rumah di Kabupaten Sukabumi turut terdampak.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa angka magnitudo saja tidak cukup untuk menggambarkan seberapa besar dampak gempa terhadap kehidupan masyarakat.

Dua Gempa Dangkal Mengguncang Bogor dan Sukabumi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa pertama berkekuatan M3,5 terjadi pukul 17.49.43 WIB dengan kedalaman 9 kilometer, sekitar 3 kilometer barat laut Kabandungan.

Gempa kedua berkekuatan M4,1 menyusul pada pukul 17.58.22 WIB dengan kedalaman 5 kilometer, sekitar 4 kilometer barat laut Kabandungan.

Kedua gempa tersebut dirasakan hingga intensitas IV MMI, yang berarti getaran dapat dirasakan banyak orang di dalam rumah, membuat pintu dan jendela berderik, serta menyebabkan benda-benda bergoyang.

Hingga Jumat (16/10/2026) pukul 01.00 WIB, BMKG juga mencatat lima gempa susulan dengan magnitudo M1,6 hingga M2,4.

Dampak gempa paling terasa di sejumlah wilayah permukiman. Di Kabupaten Bogor, kerusakan dilaporkan terjadi di 11 kampung di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, dan Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang.

Enam warga Kampung Muaradua dilaporkan mengungsi akibat kondisi rumah mereka. Sementara itu, di Kabupaten Sukabumi, sebanyak 96 rumah mengalami kerusakan ringan, termasuk di Desa Tugubandung dan Desa Kabandungan.

Situasi ini menjadi alarm bagi masyarakat di kawasan rawan gempa: rumah yang terlihat kokoh belum tentu memiliki ketahanan struktur yang memadai ketika menerima guncangan dari sumber gempa dangkal.

Mengapa Gempa Kecil Bisa Merusak Ratusan Rumah?

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) sekaligus pakar seismologi, Dr. Daryono, menjelaskan bahwa besarnya magnitudo gempa tidak selalu sebanding dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkan.

Menurutnya, dua kejadian tersebut termasuk shallow crustal earthquake, yakni gempa tektonik yang sumbernya berada di kerak bumi bagian dangkal.

Daryono menduga aktivitas tersebut berkaitan dengan pergerakan sesar aktif di sekitar Kabandungan.

Namun, identifikasi sesar penyebab secara pasti masih memerlukan kajian lebih lanjut terhadap lokasi hiposenter, mekanisme sumber gempa, dan kondisi tektonik setempat.

Selain kedalaman sumber gempa, kualitas konstruksi bangunan dan kondisi tanah juga berpengaruh terhadap kerusakan.

Rumah dengan sambungan struktur yang lemah, material berkualitas rendah, atau pengikat bangunan yang tidak memadai cenderung lebih rentan terhadap guncangan.

Di sisi lain, lapisan tanah tertentu dapat memperkuat getaran yang mencapai permukaan. Artinya, dampak gempa merupakan hasil interaksi antara sumber gempa, perambatan gelombang, kondisi tanah, dan ketahanan bangunan.

Ancaman Gempa Bukan Hanya dari Megathrust

Selama ini, pembahasan mengenai risiko gempa di Jawa Barat kerap berfokus pada potensi gempa besar dari zona megathrust di selatan Pulau Jawa.

Padahal, sesar aktif di daratan juga dapat menghasilkan gempa dangkal yang sumbernya relatif dekat dengan kawasan permukiman. Daryono mengingatkan bahwa wilayah Sukabumi dan Bogor berada dalam lingkungan tektonik Jawa Barat yang kompleks.

Karena itu, kesiapsiagaan bencana seharusnya tidak hanya berpusat pada skenario gempa besar, tetapi juga mempertimbangkan gempa bermagnitudo kecil yang dapat menimbulkan kerusakan lokal.

Meski demikian, rentetan gempa kecil tidak dapat dijadikan dasar ilmiah untuk memastikan bahwa gempa yang lebih besar akan terjadi setelahnya.

Daryono menegaskan bahwa waktu, lokasi, dan magnitudo gempa berikutnya belum dapat diprediksi secara tepat. Masyarakat sebaiknya tidak mudah percaya pada pesan berantai yang mengklaim dapat memastikan waktu terjadinya gempa.

Langkah yang lebih masuk akal adalah mengikuti informasi resmi BMKG, memahami jalur evakuasi, menyiapkan kebutuhan darurat, dan mengetahui tindakan perlindungan diri ketika guncangan terjadi.

Informasi yang akurat membantu masyarakat tetap waspada tanpa terjebak kepanikan akibat kabar yang belum terbukti.

Mitigasi Dimulai dari Rumah dan Lingkungan

Menurut Daryono, salah satu langkah mitigasi paling penting adalah meningkatkan ketahanan bangunan terhadap gempa.

Rumah perlu memiliki struktur yang kuat, material berkualitas, fondasi sesuai kondisi tanah, serta sambungan antarelemen bangunan yang baik.

Pembangunan maupun renovasi rumah sebaiknya mengikuti standar teknis bangunan tahan gempa yang berlaku.

Untuk rumah yang telah terdampak, pemeriksaan oleh tenaga ahli atau petugas berwenang perlu dilakukan sebelum bangunan kembali ditempati, terutama jika terdapat retakan pada elemen struktur, pergeseran dinding, atau kerusakan kolom dan balok.

Mengabaikan kerusakan karena terlihat kecil justru dapat meningkatkan risiko apabila terjadi guncangan berikutnya.

Di tingkat masyarakat, mitigasi juga perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan yang sederhana tetapi konsisten. Warga dapat mengamankan lemari dan perabot berat agar tidak mudah roboh, mengenali tempat berlindung yang aman, serta menyepakati titik kumpul keluarga.

Saat gempa terjadi, lindungi kepala dan tubuh, berlindung di bawah meja yang kokoh jika tersedia, dan jauhi kaca atau benda yang berpotensi jatuh.

Setelah guncangan berhenti, keluar dengan tertib jika bangunan berisiko dan ikuti arahan petugas. Pemerintah daerah pun perlu memperkuat edukasi kebencanaan, memetakan rumah rentan, dan membantu perbaikan hunian warga terdampak.

Pada akhirnya, gempa memang tidak dapat dicegah, tetapi risiko korban jiwa dan kerusakan dapat dikurangi melalui bangunan yang lebih aman, informasi yang benar, dan kesiapsiagaan bersama.

Statement:

Dr. Daryono, pakar seismologi

“Gempa tidak harus bermagnitudo besar untuk menimbulkan kerusakan. Peristiwa gempa di wilayah Kabandungan, Sukabumi, dan Pamijahan, Bogor, pada Kamis sore, 15 Oktober 2026, menjadi pengingat penting bahwa gempa kecil dan dangkal yang terjadi dekat permukiman dapat merusak ratusan rumah serta memaksa warga meninggalkan tempat tinggalnya.”

“Ancaman gempa tidak hanya berasal dari zona megathrust di selatan Jawa, tetapi juga dari aktivitas sesar aktif di daratan yang dapat menghasilkan gempa dangkal dekat kawasan permukiman.”

3 Poin Penting:

  • Dua gempa dangkal mengguncang Bogor dan Sukabumi: Gempa M3,5 dan M4,1 pada 15 Oktober 2026 menyebabkan kerusakan ratusan bangunan. Laporan sementara mencatat 349 rumah dan lima fasilitas ibadah rusak di Kabupaten Bogor serta 96 rumah rusak di Kabupaten Sukabumi.
  • Magnitudo kecil bukan berarti dampaknya selalu ringan: Kedalaman gempa, kedekatan sumber dengan permukiman, kondisi tanah, dan kerentanan struktur bangunan dapat memengaruhi tingkat kerusakan.
  • Mitigasi harus dimulai sekarang: Perkuat bangunan sesuai standar tahan gempa, periksa rumah yang rusak sebelum ditempati kembali, siapkan langkah evakuasi, dan ikuti informasi resmi BMKG.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan