Dini hari yang tenang mendadak berubah mencekam bagi warga di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,6 menguji kesiapsiagaan warga Kabupaten Manggarai dan sekitarnya pada Kamis (20/8/2026) dini hari.
Guncangan yang terjadi di tengah lelapnya tidur warga ini langsung memicu kepanikan dan membuat banyak masyarakat berhamburan keluar rumah demi menyelamatkan diri.
Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), guncangan terjadi tepat pada pukul 00.17 WITA.
Pusat gempa terdeteksi berada di laut pada jarak 43 kilometer arah Utara Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman dangkal 10 kilometer.
Karakteristik gempa dangkal inilah yang membuat guncangan terasa cukup kuat di permukaan tanah.
Jangkauan Getaran Gempa Meluas Hingga Wilayah Pulau Sumba
Guncangan gempa bumi ini dilaporkan merembet luas ke berbagai wilayah di sekitar pusat gempa. BMKG mencatat intensitas getaran mencapai IV MMI di kawasan Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, hingga Nagekeo.
Skala MMI tersebut menandakan getaran dapat dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah hingga membuat gerabah pecah, serta pintu dan jendela berdering cukup keras.
Tidak hanya dirasakan di Pulau Flores, guncangan gempa ternyata juga menjangkau wilayah Pulau Sumba, khususnya di Kabupaten Sumba Timur dengan skala intensitas III-IV MMI.
Banyak warga yang sedang beristirahat terkejut merasakan getaran nyata layaknya ada truk berat yang sedang melintas di dekat kediaman mereka.
Bagian Rangkaian Gempa Susulan Pasca-Bencana M 7,7 di NTT
Kemunculan gempa M 5,6 ini terjadi di tengah gelombang aktivitas gempa susulan (aftershocks) yang masih berlangsung di wilayah NTT. Kawasan tersebut sebelumnya sempat dihantam gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu.
Rentetan peristiwa geologis ini tentu meningkatkan kewaspadaan aparat pemerintah daerah dan tim penyelamat di lokasi bencana.
Kendati getarannya terasa nyata dan mengejutkan, BMKG memastikan bahwa gempa dini hari ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Meski demikian, masyarakat di daerah pesisir tetap diminta selalu sigap dan tidak panik dalam merespons tiap pergerakan tanah yang terjadi.
Imbauan BMKG dan Waspada Isu Hoaks Pascabencana
Hingga berita ini diterbitkan, pihak BMKG dan BPBD setempat masih terus melakukan pendataan teknis mengenai dampak kerusakan bangunan maupun potensi korban jiwa akibat guncangan tersebut.
Petugas lapangan disiagakan untuk memantau titik-titik rawan longsor maupun kerusakan struktur pemukiman warga pascaguncangan.
BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar tetap tenang dan tidak termakan oleh informasi liar atau hoaks yang tidak terverifikasi.
Warga diminta untuk berpatokan penuh pada kanal informasi resmi milik BMKG dan pemerintah daerah guna mendapatkan pembaruan situasi (update) yang terpercaya.
Mitigasi Mandiri dan Pemeriksaan Struktur Bangunan
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak disarankan untuk melakukan pemeriksaan mandiri terhadap kondisi bangunan rumah masing-masing.
Pastikan tidak ada retakan struktural pada dinding atau tiang penyangga yang berpotensi membahayakan keselamatan sebelum kembali beraktivitas di dalam ruangan.
Langkah mitigasi bencana mandiri sangat krusial mengingat potensi gempa skala kecil hingga sedang masih mungkin terjadi di kawasan lingkar pasifik.
Kesadaran dan kesiapsiagaan warga menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko cedera maupun kerugian material.
Statement:
Arief Tyastama, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang
“Gempa bermagnitudo 5,6 terjadi pada koordinat 8,23 derajat Lintang Selatan dan 120,53 derajat Bujur Timur. Pusat gempa berada sekitar 43 kilometer sebelah utara Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman 10 kilometer.”
3 Poin Penting:
-
Kejadian Gempa Manggarai: Gempa bumi M 5,6 mengguncang Manggarai, NTT pada Kamis (20/8/2026) pukul 00.17 WITA dengan pusat gempa 43 km Utara Ruteng di kedalaman 10 km.
-
Dampak Dirasakan Luas: Guncangan terasa hingga skala IV MMI di Manggarai, Manggarai Barat, Nagekeo, serta III-IV MMI di Sumba Timur, namun tidak berpotensi tsunami.
-
Bagian Gempa Susulan: Gempa ini merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan pascabencana gempa M 7,7 yang melanda wilayah NTT pada 15 Agustus 2026.



