Search

Gokil! Harimau Sumatera Ternyata Lebih Betah “Main” di Luar Taman Nasional

Senin, 22 Desember 2025

Harimau Sumatra (Fauna & Flora / KSNP)

Siapa sangka kalau “Si Raja Hutan” ternyata punya selera tempat tinggal yang unik? Selama ini kita mikir harimau sumatera cuma nyaman di dalam kawasan konservasi ketat, tapi riset terbaru dari Figel dan kolega (2025) justru bikin mata melotot.

Ternyata, kepadatan populasi harimau di hutan lindung luar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) malah jauh lebih tinggi, bahkan menyentuh angka 4,1 kali lipat dari biasanya.

Hal ini membuktikan kalau harimau sumatera itu beneran satwa yang gak kenal batas wilayah atau “borderless”.

Selama ketersediaan mangsa kayak babi hutan dan rusa sambar masih melimpah, mereka bakal tetap eksis meskipun lokasinya bukan di “rumah dinas” alias kawasan taman nasional.

Tren ini menunjukkan betapa krusialnya menjaga setiap jengkal hutan Sumatera, nggak cuma yang punya status dilindungi saja.

Dinamika Sosial Harimau yang Super Sehat

Data yang dikumpulin juga nggak main-main, ada sekitar 282 foto kamera jebak yang berhasil menangkap aksi 27 individu harimau secara berulang.

Yang bikin makin optimistis, demografi harimau di kawasan ini didominasi oleh betina produktif yang hobi berkembang biak.

Dari total individu yang terekam, 14 di antaranya adalah betina yang jadi kunci utama pertumbuhan populasi spesies endemik ini ke depannya.

Munculnya kelompok anak harimau yang sehat di tahun 2023 dan terpantau tumbuh dewasa pada 2024 jadi bukti kalau ekosistem luar ini punya kualitas jempolan.

Fenomena ini disebut sebagai source sites, alias lokasi sumber di mana harimau betina menghasilkan “surplus” anak yang nantinya bakal menyebar mencari teritori baru. Kualitas habitat yang oke bikin sistem sosial harimau tetap stabil dan jauh dari kata stres.

Pentingnya Jalur Koneksi Biar Gak Terjebak Nostalgia

Masalahnya, sekarang banyak habitat harimau yang mulai terkotak-kotak alias terfragmentasi gara-gara pembukaan lahan. Iding Achmad Haidir dari Forum Harimau Kita (FHK) menegaskan kalau pendekatan pengelolaan lanskap itu harga mati.

Harimau butuh koridor atau jalur khusus buat mereka pindah dari satu petak hutan ke petak lainnya tanpa harus masuk ke pemukiman atau daerah konflik.

Iding juga menyoroti soal Areal Preservasi yang muncul di UU No. 32 Tahun 2024 sebagai solusi cerdas buat bikin koridor fungsi. Jadi, wilayah perkebunan atau konsesi perusahaan bisa aja dijadiin jalur aman buat satwa.

Kalau konektivitas ini nggak segera dibangun, sub-sub populasi harimau yang ada bakal terisolasi, yang ujung-ujungnya bisa bikin kualitas genetik mereka menurun karena nggak bisa “kenalan” dengan kelompok lain.

Ancaman Pemburu dan Kurangnya Personel di Lapangan

Meski populasinya menunjukkan harapan, tapi ancaman di depan mata masih horor banget. Fakta pahit dari riset ini mengungkap kalau aktivitas pemburu dan penduduk lokal justru lebih sering terekam kamera jebak ketimbang petugas patroli hutan.

Padahal, menjaga populasi mangsa dari penyakit kayak flu babi Afrika dan jerat pemburu itu vital banget buat kelangsungan hidup si kucing besar ini.

Saat ini, jumlah petugas patroli di lapangan masih jauh dari kata ideal, cuma sekitar seperempat dari target yang dibutuhin buat mengcover area seluas itu.

Tanpa pengawasan yang ketat dan dukungan dari semua pihak, harapan buat melihat populasi harimau sumatera pulih bisa aja tinggal kenangan.

Kita butuh langkah konkret supaya “alarm” dari hutan Leuser ini beneran didengar sebelum semuanya terlambat.

Statement:

Iding Achmad Haidir, Ketua Forum Harimau Kita (FHK)

“Adanya sub-sub populasi harimau sumatera yang berada di luar kawasan konservasi, menjadi alarm untuk segera menerapkan konsep pengelolaan lanskap. Temuan ini harus menjadi perhatian, karena selama ini pemerintah masih cenderung mengabaikan kawasan hutan di luar kawasan konservasi,” ujar .

3 Poin Penting:

  1. Kepadatan populasi harimau sumatera di luar kawasan taman nasional (hutan lindung) ternyata jauh lebih tinggi dibanding di dalam kawasan konservasi.

  2. Keberadaan harimau betina yang produktif di wilayah luar menandakan area tersebut berfungsi sebagai source sites yang memasok individu baru bagi populasi liar.

  3. Diperlukan percepatan pembangunan koridor satwa dan pengelolaan berbasis lanskap untuk menghubungkan habitat yang terfragmentasi guna mencegah kepunahan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan