Kabar gembira buat konsumen yang doyan belanja, tapi jadi berita buruk buat para peternak lokal. Belakangan ini, harga telur dan ayam potong di pasaran terpantau semakin murah dan merosot tajam.
Fenomena ini sukses bikin komunitas peternak pusing tujuh keliling karena pendapatan mereka otomatis anjlok drastis.
Saat masyarakat menikmati hidangan protein murah, para pelaku usaha peternakan justru harus memutar otak agar tidak gulung tikar.
Kondisi pasar saat ini dinilai sudah tidak sehat bagi keberlangsungan bisnis peternakan skala kecil maupun besar. Penurunan harga yang terjadi secara konstan dalam beberapa pekan terakhir membuat margin keuntungan menipis, bahkan merugi.
Situasi pelik ini dipicu oleh pasokan yang melimpah di pasar global dan lokal, namun tidak diimbangi dengan daya beli masyarakat yang sepadan.
Akibatnya, hukum pasar berlaku dan harga komoditas pangan tersebut langsung terjun bebas.
Dilema Biaya Operasional yang Ogah Turun
Di balik murahnya harga jual ayam dan telur di lapak pedagang, ada jeritan peternak yang menanggung beban produksi super berat.
Masalahnya, ketika harga jual komoditas di pasaran anjlok, biaya operasional dan perawatan di area kandang tetap bertengger di angka yang tinggi.
Komponen biaya seperti pakan ternak, vitamin, hingga upah pekerja tidak mengalami penurunan sedikit pun, sehingga menciptakan ketimpangan neraca keuangan yang serius.
Para peternak kini dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap berproduksi dengan risiko kerugian yang semakin membengkak atau memangkas populasi ternak mereka.
Biaya pakan berbasis jagung dan kedelai impor yang harganya fluktuatif menjadi momok utama yang menyedot modal kerja mereka. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa adanya intervensi dari pihak terkait, stabilitas pasokan pangan di masa depan bisa ikut terancam.
Jeritan Hati dan Statement Nyata dari Peternak
Kondisi riil di lapangan digambarkan secara gamblang oleh salah satu pelaku usaha peternakan ayam petelur asal Jawa Barat, Supardi (45). Beliau mengungkapkan bahwa situasi kali ini merupakan salah satu yang terberat bagi kelangsungan usahanya.
Pengeluaran harian untuk menjaga kualitas ayam tetap prima sudah tidak sebanding lagi dengan uang yang didapatkan dari hasil penjualan harian ke para pengepul.
Menanti Solusi Konkret Demi Stabilitas Pasar
Melihat tren buruk yang sedang berlangsung, asosiasi peternak mendesak pemerintah untuk segera turun tangan menstabilkan harga di tingkat produsen.
Perlu ada regulasi yang jelas mengenai batas harga bawah agar peternak tidak terus-menerus menjadi pihak yang paling dirugikan dalam rantai pasok pangan.
Optimalisasi penyerapan hasil ternak oleh lembaga pemerintah atau korporasi besar dinilai bisa menjadi salah satu solusi jangka pendek yang efektif.
Jika tidak ada tindakan penyelamatan yang cepat, dikhawatirkan banyak peternak mandiri yang akan gulung tikar massal.
Efek domino dari kebangkrutan ini tentu saja adalah pengurangan tenaga kerja di sektor agribisnis dan potensi kelangkaan pasokan di kemudian hari saat peternak berhenti beroperasi.
Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan pemerintah dan pelaku pasar sangat dinantikan guna menciptakan ekosistem bisnis yang saling menguntungkan.
3 Poin Penting:
-
Penurunan Harga Drastis: Harga telur dan ayam potong di pasaran mengalami penurunan tajam yang menguntungkan konsumen tetapi merugikan pihak peternak.
-
Biaya Produksi Tinggi: Peternak mengalami kerugian akibat ketidakseimbangan antara harga jual yang murah dan biaya operasional (terutama pakan) yang tetap tinggi.
-
Ancaman Gulung Tikar: Tanpa adanya intervensi kebijakan atau stabilitas harga dari pemerintah, peternak mandiri terancam gulung tikar akibat kehabisan modal.



