Harga komoditas batu bara dunia akhirnya kembali merangkak naik setelah sempat mengalami penurunan tipis.
Berdasarkan data terkini Refinitiv pada perdagangan Rabu (26/8/2026), harga batu bara ditutup menguat 0,22% ke posisi USD138,7 per troy ons.
Kenaikan positif ini menjadi angin segar bagi pasar energi global yang sebelumnya sempat melemah 0,65% pada hari sebelumnya.
Pendorong utama di balik melesatnya harga si “emas hitam” ini salah satunya bersumber dari melonjaknya permintaan impor batu bara kokas oleh China.
Negeri Tirai Bambu tersebut terpaksa meningkatkan pasokan dari luar negeri untuk menutupi kelangkaan stok domestik di wilayah Provinsi Shanxi, yang merupakan salah satu pusat industri baja dan komoditas energi terpenting di sana.
Jalur Logistik Baru Shanxi dan Impor Mengalir Deras
Guna mengatasi keterbatasan pasokan lokal, pemerintah setempat memaksimalkan penggunaan jalur kereta api langsung yang baru dari Pelabuhan Jingtang dan Caofeidian menuju Shanxi.
Kehadiran rute logistik anyar ini terbukti sangat ampuh memangkas biaya transportasi serta mempercepat waktu pengiriman. Batu bara impor dari produsen utama seperti Australia dan Rusia pun kini mengalir lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan industri.
Langkah masif mengimpor batu bara ini diambil usai terjadinya insiden ledakan gas di tambang Qinyuan pada akhir Mei lalu, yang beruntut pada inspeksi keselamatan ketat di ratusan tambang Shanxi.
Dampaknya sangat signifikan, di mana produksi batu bara kokas olahan di Shanxi pada Juni 2026 sempat merosot tajam hingga 22,54% secara tahunan ke angka 13,41 juta ton, yang menjadi rekor terendah sejak awal tahun 2020.
Pengetatan Pasokan Domestik China dan Kenaikan Konsumsi Pembangkit
Tidak hanya batu bara kokas, harga batu bara termal di pasar China juga ikut terdongkrak naik secara konsisten.
Sejumlah tambang lokal terpaksa mengurangi atau menghentikan operasional sementara akibat telah tercapainya target produksi bulanan, pemeliharaan alat, hingga kendala cuaca hujan deras.
Pengetatan pasokan spot ini membuat belasan pengelola tambang memutuskan untuk menaikkan harga jual rata-rata produk mereka.
Di sisi lain, tingkat konsumsi batu bara oleh pembangkit listrik pesisir di China masih terpantau berada di level yang cukup tinggi. Data coal burn dari enam kelompok pembangkit listrik utama menunjukkan kenaikan harian hingga menyentuh angka 954.900 ton.
Kendati demikian, ruang kenaikan harga diprediksi mulai terbatas seiring meredanya gelombang cuaca panas dan meningkatnya pasokan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Krisis Stok Pembangkit Listrik India Ikut Memanaskan Pasar
Selain dinamika pasar di China, tekanan besar pada industri energi juga melanda India yang kian memperketat kondisi pasar global.
Stok batu bara di pembangkit listrik domestik India per 24 Agustus jatuh ke level terendah sepanjang tahun 2026, bahkan menjadi rekor terendah dalam empat tahun terakhir untuk periode yang sama.
Cadangan yang tersisa kini tercatat hanya cukup untuk memenuhi operasional di bawah 10 hari, jauh di bawah standar aman pemerintah.
Penurunan drastis persediaan energi di India ini dipicu oleh gangguan distribusi logistik akibat tingginya intensitas musim hujan (monsoon).
Jika hambatan pengiriman pasokan ini terus berlarut-larut di tengah tingginya konsumsi listrik masyarakat, India berpotensi menghadapi krisis pasokan energi yang makin serius dalam beberapa waktu ke depan.
3 Poin Penting:
-
Harga Batu Bara Rebound: Harga batu bara dunia bangkit ke posisi US$ 138,7 per troy ons ditopang oleh kenaikan impor batu bara kokas dari China.
-
Krisis Pasokan Domestik Shanxi: Inspeksi keselamatan pasca-kecelakaan tambang memangkas produksi batu bara Shanxi secara drastis, sehingga mendorong efisiensi logistik impor via Pelabuhan Jingtang dan Caofeidian.
-
Stok PLTU India Menipis: Persediaan batu bara pada pembangkit listrik di India menyusut hingga di bawah batas aman 10 hari akibat kendala logistik musim hujan





