Duka keluarga Muhammad Hasbi Al Aqib atau Aqib, siswa berusia tujuh tahun asal Pemalang, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan.
Sang ibu, Diah Indriyanti (36), mengungkap sejumlah hal yang menurutnya terjadi setelah putranya diduga mengalami kekerasan oleh kakak kelas di SDN 1 Kebondalem Pemalang.
Diah mengatakan Aqib sempat menyampaikan pesan yang membuatnya khawatir kepada sang ibu sehari sebelum meninggal dunia.
Menurut keterangan Diah, putranya diduga mengalami kekerasan pada 19 September 2026 dan kemudian meninggal dunia pada 30 September 2026.
Rangkaian peristiwa tersebut kini menjadi perhatian dan perlu ditelusuri secara menyeluruh oleh pihak berwenang.
Dugaan Sikap Kepala Sekolah
Diah juga menyoroti peran Kepala SDN 1 Kebondalem, Erning Rustini. Ia menduga kepala sekolah tidak memberikan perlindungan yang cukup kepada keluarganya dan masih melindungi salah satu siswa yang diduga terlibat.
Diah menyampaikan keterangannya dalam kanal YouTube Denny Sumargo.
Pernyataan tersebut merupakan kesaksian dari pihak keluarga korban dan masih perlu dikonfirmasi serta dibuktikan melalui proses penyelidikan.
Keluarga Sebut Ada Pemberian Uang
Diah kemudian mengungkap kejadian ketika Erning mendatangi rumah keluarga setelah menerima kabar mengenai meninggalnya Aqib. Menurut Diah, kepala sekolah datang setelah suaminya menghubungi dan memberitahukan kondisi putranya.
Pertemuan tersebut berlangsung ketika keluarga masih berada dalam suasana duka. Ia mengatakan kedatangan kepala sekolah terjadi setelah keluarga menghubunginya mengenai kabar duka tersebut.
Diminta Tidak Memviralkan Kasus
Dalam kesempatan tersebut, Diah mengaku kepala sekolah sempat memberikan sejumlah uang kepadanya. Namun, ia mengatakan tidak menerima uang tersebut karena masih berada dalam kondisi berduka dan berharap putranya dapat kembali.
Diah menyebut uang itu kemudian diletakkan di dekatnya.
Ada Permintaan agar Kasus Tidak Viral
Selain soal uang, Diah menyebut Erning sempat meminta keluarga agar tidak menyebarluaskan kabar mengenai kematian Aqib. Menurut Diah, ucapan tersebut disampaikan kepala sekolah sebelum meninggalkan rumah.
Kasus kematian Aqib menjadi perhatian karena menyangkut dugaan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah.
Berbagai tudingan yang disampaikan keluarga korban perlu diproses secara objektif untuk memastikan kronologi, pihak yang bertanggung jawab, serta langkah perlindungan terhadap siswa.
Hingga kini, keterangan resmi dari pihak sekolah maupun hasil penyelidikan aparat menjadi penting untuk memberikan gambaran yang utuh mengenai kasus tersebut.
Statement:
Diah Indriyanti, Ibunda Aqib
“Kepseknya masih melindungi (pelaku ketiga). (Alasannya) belum tahu. Tiga anak itu (pelaku) dari pihak keluarga itu belum tahu anaknya namanya siapa, orangtuanya siapa. Sampai sekarang (saya belum tahu), cuma tahu fotonya.”
“Pas almarhum malam sudah disucikan itu, kepsek ditelepon sama suami terus datang. Terus (kepsek) kaget kirain udah sehat karena besok mau ketemu. Suami saya sempat emosi, ‘sehat gimana bu, anak saya udah enggak ada’.”
“Beliau (kepsek) itu ngasih uang, tapi saya enggak tahu, saya jatuhin ke bawah, karena saya enggak nerima uang, saya pengin anak saya pulang lagi. Kepsek ngasih uang saya enggak tahu, beliau taruh di samping saya.”
“Beliau kembali masuk ke kamar, saya sama suami udah enggak kuat. Kepsek pas mau pulang bilang, ‘Pak tolong jangan diviralin’.”
3 Poin Penting:
- Aqib, siswa berusia tujuh tahun di Pemalang, meninggal dunia pada 30 September 2026 setelah sebelumnya menurut keluarga diduga mengalami kekerasan oleh kakak kelas.
- Ibu korban, Diah Indriyanti, menuding adanya upaya melindungi salah satu siswa yang diduga terlibat, serta mengungkap dugaan pemberian uang oleh kepala sekolah.
- Keluarga mengaku diminta tidak memviralkan kasus tersebut, sementara berbagai dugaan yang disampaikan keluarga masih perlu dibuktikan melalui penyelidikan dan proses hukum.



