Proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang biasanya pamer kemajuan infrastruktur futuristik, kini harus menghadapi kenyataan pahit dari alam.
Pada awal Januari 2026, wilayah Kelurahan Mentawir di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, justru terendam banjir yang disebut-sebut sebagai yang terparah dalam 26 tahun terakhir.
Meski pusat pemerintahan atau Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) masih aman terkendali, banjir ini menjadi alarm keras bagi ketahanan lingkungan di sekitar ibu kota baru tersebut.
Kejadian ini langsung memicu perbincangan hangat di media sosial, terutama mengenai apakah pembangunan masif di IKN sudah benar-benar memperhitungkan mitigasi bencana.
Curah hujan yang mengguyur sejak 7 Januari sore hingga pagi berikutnya membuat debit air sungai meluap tak terkendali.
Kombinasi antara cuaca ekstrem dan air laut pasang alias rob menciptakan situasi “double kill” yang melumpuhkan jalan nasional dan merendam pemukiman warga di daerah penyangga.
Antara Faktor Alam dan Dampak Pembangunan yang Ngegas
Pihak Otorita IKN (OIKN) tidak menampik bahwa kondisi ini merupakan perpaduan antara faktor alam dan aktivitas manusia.
Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, menjelaskan bahwa curah hujan yang sangat tinggi menjadi pemicu utama.
Namun, publik juga menyoroti bagaimana pemanfaatan lahan di hulu serta pembangunan cepat di IKN diduga mempercepat erosi dan menyebabkan penyempitan sungai, sehingga air tidak lagi memiliki ruang parkir yang cukup.
Masalah kian pelik ketika rob juga merendam akses jalan penting seperti jalur Margasari-Rantau.
Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah Sepaku memang memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir, terutama dengan adanya perubahan iklim global yang membuat pola hujan makin sulit ditebak.
Banjir di Mentawir yang merendam tiga RT ini pun menjadi bukti nyata bahwa tantangan lingkungan di IKN bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi masyarakat lokal.
Jurus Otorita IKN Jinakkan Air Agar Tak Jadi Langganan
Menanggapi situasi darurat ini, Otorita IKN langsung tancap gas melakukan berbagai langkah respons cepat demi menenangkan keresahan publik.
Mereka tengah fokus menyelesaikan berbagai proyek pengendali banjir, mulai dari pembangunan bendungan hingga sistem drainase yang lebih canggih untuk mengatur debit air.
Harapannya, infrastruktur penyangga ini bisa menjadi benteng pertahanan utama agar kejadian serupa tidak terulang saat intensitas hujan meningkat di masa depan.
Selain fokus pada beton dan konstruksi, OIKN juga mulai gencar melakukan normalisasi dan revitalisasi sungai yang sempat menyempit.
Proses pembersihan dan pelebaran kapasitas aliran sungai terus dikebut agar risiko luapan air ke pemukiman bisa diminimalisir.
Alimuddin menekankan bahwa segala upaya teknis ini harus berjalan beriringan dengan kesadaran lingkungan agar ekosistem di sekitar IKN tetap seimbang meski pembangunan terus dipacu.
Edukasi Warga Jadi Kunci IKN Tahan Bencana Longterm
Tidak hanya soal urusan teknis, Otorita IKN juga menyadari bahwa keterlibatan masyarakat adalah kunci suksesnya mitigasi bencana.
Kampanye pelestarian lingkungan dan pengelolaan sampah mulai dimasifkan untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang berdampak pada risiko banjir.
Kesadaran kolektif tentang bagaimana aktivitas manusia di sekitar hulu sungai memengaruhi hilir menjadi fokus utama dalam program edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Langkah kolaboratif ini diharapkan bisa menciptakan IKN yang tidak hanya megah secara visual, tapi juga tangguh secara lingkungan.
Meskipun awal tahun 2026 dibuka dengan ujian berat berupa banjir besar, komitmen Otorita untuk melakukan evaluasi total diharapkan bisa memberikan rasa aman bagi calon penghuni ibu kota baru nantinya.
Publik kini tinggal menunggu bukti nyata apakah IKN benar-benar bisa menjadi kota yang “tahan banting” terhadap perubahan iklim di masa depan.
Statement:
Alimuddin, Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN
“Banjir ini melanda wilayah IKN secara umum, bukan di KIPP, dengan penyebab utama curah hujan tinggi dan air pasang. Kami punya proyek pengendali banjir, termasuk penyelesaian infrastruktur seperti bendungan dan drainase untuk mengendalikan debit air. Itu terus menerus kami upayakan.”
3 Poin Penting:
-
Banjir di Kelurahan Mentawir, Sepaku, pada awal Januari 2026 merupakan yang terparah dalam 26 tahun terakhir di wilayah tersebut.
-
Penyebab banjir adalah kombinasi curah hujan ekstrem, air pasang (rob), dan penyempitan sungai akibat dampak pembangunan di hulu.
-
Otorita IKN melakukan mitigasi melalui pembangunan bendungan, normalisasi sungai, dan edukasi pelestarian lingkungan kepada masyarakat.


![banjir kampung cogreg [dok. tribun]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/BANJIR-TANGERANG-6H8.jpg-300x169.webp)
![Banjir di U-turn Samsat Jakarta Barat [dok. X/@TMCPoldaMetro]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/full_1772943230180953_806b21a990_berita_pusat-pemberitaan-300x168.webp)