Inflasi Januari 2026 Tembus 3,55%: Rekor Tertinggi Sejak 2023 Tapi Tetap ‘Chill’

Kamis, 5 Februari 2026

ilustrasi (Foto: Dok. Antara)
ilustrasi (Foto: Dok. Antara)

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) baru saja merilis angka inflasi Januari 2026 yang cukup mencuri perhatian.

Tercatat, inflasi tahunan Indonesia menyentuh angka 3,55% (yoy), sebuah lompatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan posisi Desember 2025 yang berada di level 2,92%.

Angka ini sekaligus menjadi catatan inflasi tertinggi sejak Mei 2023 lalu.

Meskipun angka ini berada di ambang batas atas sasaran inflasi pemerintah yakni 1,5% hingga 3,5%, para ahli menilai situasi ini masih sangat terkendali.

Kenaikan tersebut dianggap sebagai fenomena temporer yang tidak perlu membuat masyarakat panik berlebihan.

Kondisi ekonomi makro kita dinilai masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk meredam riak kenaikan harga yang terjadi di awal tahun ini.

Efek Normalisasi Tarif Listrik dan Kejutan Deflasi Bulanan

Usut punya usut, penyebab utama lonjakan inflasi ini adalah adanya efek basis rendah atau low base effect.

Hal ini terjadi karena adanya normalisasi kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga yang sempat berlaku pada periode Januari hingga Februari tahun 2025 lalu.

Ketika kebijakan diskon tersebut berakhir dan harga kembali normal, secara statistik angka inflasi tahunan pun terlihat mengalami kenaikan yang cukup tajam.

Namun, ada anomali menarik jika kita melihat data secara bulanan (month-to-month). Alih-alih naik, ekonomi Indonesia justru mengalami deflasi sebesar 0,15% pada Januari 2026.

Data ini menjadi bukti valid bahwa daya beli masyarakat sebenarnya masih sangat terjaga dan terjaga dengan baik. Masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya kenaikan harga barang konsumsi secara ugal-ugalan di pasar.

Tekanan Harga Diatur Pemerintah dan Stabilnya Harga Pangan

Jika dibedah lebih dalam berdasarkan komponennya, kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah menjadi penyumbang tekanan terbesar.

Hal ini sejalan dengan kebijakan penyesuaian tarif energi yang memang sudah diprediksi sebelumnya.

Selain itu, komponen inflasi inti juga mengalami sedikit kenaikan yang mencerminkan aktivitas ekonomi yang masih berdenyut kencang di awal tahun.

Di sisi lain, kelompok volatile food atau harga pangan yang biasanya sering bergejolak justru terpantau lebih kalem dan terkendali.

Koordinasi yang apik antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga rantai pasok pangan terbukti ampuh meredam lonjakan harga bahan pokok.

Stabilitas harga pangan ini menjadi kunci penting agar inflasi tidak merembet ke sektor sensitif lainnya yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan harian warga.

Optimisme Bank Indonesia Menuju Kuartal II 2026

Bank Indonesia (BI) tetap menunjukkan sikap optimis dalam menanggapi dinamika inflasi awal tahun ini.

BI memproyeksikan bahwa angka inflasi akan segera melandai kembali dan konsisten berada dalam rentang sasaran 2,5±1% pada kuartal II 2026 mendatang.

Konsistensi kebijakan moneter yang diterapkan oleh bank sentral menjadi jaminan bahwa stabilitas ekonomi nasional tetap akan menjadi prioritas utama.

Langkah-langkah preventif terus disiapkan untuk memastikan inflasi tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan.

Dengan sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter, tantangan inflasi di awal 2026 ini dipandang sebagai fase transisi menuju kestabilan harga yang lebih permanen.

Jadi, buat kalian yang sedang menyusun rencana keuangan tahun ini, tetap tenang dan pantau terus pergerakan data ekonomi secara bijak.

Statement:

Analis Ekonomi Makro

“Meskipun angka inflasi Januari 2026 merupakan yang tertinggi sejak Mei 2023, masyarakat tidak perlu risau. Kenaikan ini bersifat temporer karena faktor low base effect tarif listrik tahun lalu. Faktanya, deflasi bulanan sebesar 0,15% membuktikan bahwa daya beli kita masih sangat aman dan solid.”

3 Poin Penting:

  1. Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% (yoy), tertinggi sejak Mei 2023, namun secara bulanan terjadi deflasi 0,15%.

  2. Penyebab utama kenaikan inflasi tahunan adalah efek basis rendah akibat normalisasi diskon tarif listrik rumah tangga.

  3. Bank Indonesia optimis inflasi akan kembali melandai dan masuk dalam rentang sasaran 2,5±1% mulai kuartal II 2026.

[gas/man]

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir