Internet Rakyat Rp100 Ribu Ngebut 100 Mbps: Worth It atau Cuma Solusi Jangka Pendek?

Kamis, 27 November 2025

Internet Rakyat (internetrakyat.id)

Guys, siapa sih yang enggak tergiur sama internet murah? Layanan Internet Rakyat lagi jadi perbincangan hangat banget karena nawarin akses super hemat: cuma Rp 100.000 per bulan dengan kecepatan bisa tembus 100 Mbps.

Bayangin, bisa streaming tanpa buffering dan harganya ramah di kantong! Layanan ini digadang-gadang jadi jurus ampuh buat membuka akses internet yang lebih terjangkau buat seluruh lapisan masyarakat.

Tapi, tunggu dulu. Di balik janji manis kecepatan ngebut dan harga miring itu, ternyata ada beberapa tantangan serius yang mengintai lho.

Pengamat telekomunikasi menilai bahwa program Internet Rakyat ini, yang umumnya menggunakan teknologi Fixed Wireless Access (FWA), masih cenderung dilihat sebagai solusi jangka pendek.

Harga murah memang ampuh buat menarik perhatian publik, tapi belum tentu menjamin kualitas layanan yang stabil dan, yang paling penting, keberlanjutan bisnisnya.

Tantangan Finansial dan Strategi Promosi yang Bikin Was-Was

Fenomena tarif super rendah pada layanan FWA seperti ini biasanya adalah strategi promosi awal buat mengenalkan produk, dan seharusnya ada batas waktunya.

Sebab, tantangan finansial buat mengoperasikan layanan ini enggak main-main. Sebagai contoh, penyedia layanan harus nyiapin dana hingga Rp400 miliar per tahun cuma buat bayar pita frekuensi 1,4 GHz ke pemerintah di wilayah Jawa, Maluku, dan Papua.

Meskipun potensi pemerataan akses internet (terutama di daerah yang belum terjamah fiber optik) sangat besar, pertanyaan terbesar tetap ada pada keberlanjutan operasionalnya.

Coba bayangin, kalau biaya operasional gede banget, apa harga Rp100.000 bisa nutup semua pengeluaran dalam jangka panjang?

Ini yang bikin para pengamat agak was-was.

Belajar dari Kasus BOLT!: Pelajaran Mahal soal Frekuensi dan Tunggakan

Kisah layanan BOLT! wajib banget jadi cermin buat Internet Rakyat. BOLT! dulunya adalah pionir 4G LTE yang secara teknis mirip banget sama konsep FWA. BOLT! hadir di 2013 dengan investasi fantastis mencapai USD550 juta (sekitar Rp8 triliun) dan sukses menarik hingga 3 juta pelanggan di tahun 2017.

BOLT! punya kecepatan tinggi, ekspansi jaringan yang agresif, dan bundling produk yang ngena. Namun, kejayaan mereka runtuh setelah dilaporkan menunggak pembayaran izin penggunaan frekuensi (2,3 GHz) selama 2 tahun dengan total tunggakan mencapai Rp343,5 miliar.

Pemerintah pun enggak punya pilihan lain selain mencabut izin frekuensi mereka, dan akhirnya BOLT! resmi menghentikan layanannya pada 28 Desember 2018.

Kualitas Layanan dan Keberlanjutan Harus Jadi Prioritas Utama

Kasus BOLT! adalah contoh nyata bahwa layanan yang berbasis frekuensi dengan biaya operasional super besar enggak akan bisa bertahan kalau model bisnisnya enggak sehat.

Harga murah dan akses cepat memang menggoda hati pelanggan di awal, tapi kalau ujung-ujungnya layanan macet karena masalah finansial atau izin, ya sama saja zonk.

Oleh karena itu, Internet Rakyat perlu banget berkaca pada pengalaman pahit BOLT!. Keberlanjutan operasional harus jadi prioritas nomor satu di atas janji harga murah.

Tanpa model bisnis yang kuat dan sehat secara finansial, harga Rp100.000 per bulan bisa jadi cuma strategi gimmick yang sebentar kemudian hilang.

3 Poin Penting

  1. Harga Murah vs. Keberlanjutan: Layanan Internet Rakyat menawarkan tarif menarik (sekitar Rp 100.000/bulan, 100 Mbps) namun dinilai masih sebagai solusi jangka pendek karena tantangan finansial besar, termasuk kewajiban biaya pita frekuensi tahunan yang mencapai ratusan miliar.

  2. Pelajaran dari Kasus BOLT!: Implementasi Internet Rakyat harus berkaca pada pengalaman BOLT!, layanan broadband wireless serupa yang gagal bertahan karena menunggak kewajiban pembayaran izin penggunaan frekuensi, meski memiliki jutaan pelanggan.

  3. Prioritas Model Bisnis Sehat: Meskipun layanan FWA berpotensi meningkatkan pemerataan akses, kualitas layanan dan keberlanjutan operasional yang didukung model bisnis yang sehat harus menjadi prioritas utama agar layanan tidak berakhir seperti BOLT!.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir