Kabar kurang sedap datang bagi para pemburu aset aman (safe haven) di seluruh penjuru dunia. Harga emas dunia dilaporkan mengalami koreksi tajam sekitar 1,5% akibat tekanan hebat dari penguatan performa dolar Amerika Serikat yang kian perkasa di pasar valuta asing.
Tren penurunan nilai komoditas berkilau ini juga dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap rencana kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS dalam waktu dekat.
Melansir data dari Investing.com, pergerakan harga emas spot terpantau anjlok sebesar 1,55% ke level USD4.126,45 per ons. Sejalan dengan kondisi tersebut, kontrak emas berjangka AS juga ikut melemah sebesar 1,63% dan parkir di posisi USD4.142,10.
Koreksi masif ini memutus rantai penguatan pada sesi sebelumnya, di mana logam mulia sempat menguat 0,7 persen berkat optimisme perundingan damai internasional.
Dolar Sentuh Level Tertinggi dan Sikap Keras Kevin Warsh
Keperkasaan indeks dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi dalam 13 bulan terakhir menjadi faktor utama yang meredupkan kilau investasi emas.
Keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam ini didorong oleh sikap kebijakan moneter yang kian agresif (hawkish) dari Federal Reserve pada rapat perdana di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
Penguatan nilai tukar dolar secara otomatis membuat kalkulasi harga emas menjadi jauh lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya.
Meskipun otoritas bank sentral AS saat ini masih mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen, sinyal pengetatan sudah sangat jelas terlihat.
Proyeksi terbaru menunjukkan adanya dukungan emosional yang makin solid di kalangan pejabat internal The Fed untuk mengerek suku bunga setidaknya satu kali sebelum akhir tahun.
Berdasarkan pantauan pasar berjangka, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Desember mendatang kini telah menyentuh angka 90%.
Dinamika Diplomasi Global dan Antisipasi Data Inflasi PCE
Selain faktor kebijakan moneter, perhatian pelaku pasar kini terpecah oleh perkembangan hubungan diplomatik antara Washington dan Teheran.
Langkah AS yang memberikan kelonggaran sanksi selama 60 hari untuk penjualan minyak Iran setelah dialog awal di Swiss dinilai memberikan sentimen baru.
Redamnya tensi geopolitik ini membuat fungsi tradisional emas sebagai instrumen pelindung nilai dari risiko konflik global menjadi sedikit memudar.
Kendati demikian, para investor tidak boleh lengah karena mereka juga tengah mencermati dampak inflasi sekunder yang dipicu oleh fluktuasi harga energi global.
Gejolak harga minyak mentah pada awal tahun sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa inflasi tinggi akan memaksa bank sentral menahan suku bunga tinggi lebih lama.
Pasar kini memilih bersikap waspada sembari menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang menjadi indikator favorit The Fed.
Logam Mulia Komoditas Lain Ikut Terjun Bebas
Sentimen negatif yang melanda sektor komoditas logam ternyata tidak hanya memukul performa investasi emas batangan semata. Di kelompok logam mulia lainnya, harga perak global tercatat terjun bebas sebesar 4,3% menuju level USD62,29 per ons.
Langkah penurunan performa ini diikuti oleh komoditas platinum yang melemah 2,6% ke posisi USD1.639,60 per ons akibat aksi ambil untung massal.
Kondisi lesu juga merembet ke sektor logam industri sekunder yang jamak diperdagangkan di bursa komoditas internasional. Kontrak tembaga acuan di London Metal Exchange (LME) terkoreksi sebesar 1,2% menjadi USD13.486,33 per ton.
Sementara itu, kontrak tembaga berjangka pasar domestik AS menderita penurunan yang lebih dalam yakni sebesar 2,3% ke level USD 6,22 per pon.
3 Poin Penting:
-
Penyebab Utama Penurunan Harga Emas: Harga emas spot dunia merosot sebesar 1,55 persen akibat tekanan penguatan indeks dolar AS dan proyeksi kebijakan moneter ketat (hawkish) dari The Fed.
-
Sinyal Kenaikan Suku Bunga: Pasar finansial memprediksi peluang sebesar 90 persen bahwa Federal Reserve di bawah Kevin Warsh akan menaikkan suku bunga acuan pada Desember mendatang untuk meredam risiko inflasi.
-
Koreksi Massal Logam Mulia dan Industri: Sentimen negatif pasar turut menyeret jatuh harga komoditas lain seperti perak yang anjlok 4,3 persen, platinum, serta kontrak tembaga di bursa London dan AS.



