Memasuki puncak musim hujan, warga Jakarta kembali dibuat ketar-ketir dengan bayang-bayang genangan air yang bisa muncul kapan saja.
Padahal, kalau kita melihat data teknis, Jakarta itu punya modal yang nggak main-main buat urusan manajemen air. Ada lebih dari 59 ribu titik saluran drainase yang tersebar di seluruh pelosok kota, mulai dari selokan kecil di depan rumah sampai kanal raksasa yang dirancang buat mengalirkan limpasan air hujan langsung ke laut.
Namun, realitanya sering kali nggak seindah teori di atas kertas. Meski punya puluhan ribu “napas” saluran air, beberapa titik di Jakarta masih saja langganan terendam setiap kali hujan deras mengguyur lebih dari dua jam.
Hal ini tentu memicu pertanyaan besar bagi para netizen dan warga lokal: apakah jumlah drainase itu memang masih kurang, atau ada faktor teknis lain yang bikin air malas mengalir ke tempat yang seharusnya?
Antara Kapasitas Saluran dan Perilaku Buang Sampah
Secara teknis, efektivitas drainase nggak cuma dihitung dari jumlahnya yang mencapai puluhan ribu, tapi juga soal konektivitas dan kebersihannya.
Banyak saluran drainase di Jakarta yang ternyata mengalami penyempitan akibat sedimen lumpur atau tertutup oleh tumpukan sampah plastik.
Ketika saluran tersumbat, air hujan yang harusnya masuk ke bawah tanah justru meluap ke jalanan dan menciptakan drama kemacetan yang bikin kita semua pusing tujuh keliling.
Selain itu, masalah kapasitas juga menjadi tantangan serius bagi pemerintah kota.
Beberapa drainase di pemukiman padat penduduk dibangun puluhan tahun lalu dan belum sempat diperbarui untuk menampung volume hujan ekstrem yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Jadi, meski jumlahnya banyak, kalau diameter salurannya nggak proporsional dengan debit air kekinian, ya tetap saja air bakal mengantre dan menyebabkan genangan di sana-sini.
Ancaman Penurunan Muka Tanah dan Ruang Terbuka Hijau
Faktor lain yang nggak boleh kita abaikan adalah fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) yang terjadi di beberapa wilayah, terutama Jakarta Utara.
Kondisi ini bikin posisi saluran drainase kadang jadi lebih rendah dari permukaan air laut, sehingga air nggak bisa mengalir secara alami menggunakan gravitasi.
Alhasil, pompa-pompa air harus bekerja ekstra keras selama 24 jam penuh buat membuang air keluar dari wilayah pemukiman warga.
Di sisi lain, berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) bikin tanah kehilangan kemampuan buat menyerap air secara alami.
Hutan beton yang makin padat membuat air hujan hampir 100 persen langsung lari ke saluran drainase.
Inilah yang disebut dengan run-off tinggi; beban drainase jadi berkali-kali lipat lebih berat karena nggak ada lagi akar pohon yang membantu “minum” air hujan sebelum sampai ke selokan.
Solusi Modern dan Kesadaran Kolektif Warga Kota
Pemerintah memang nggak tinggal diam dengan terus melakukan pengerukan lumpur (Gerebek Lumpur) dan pengoptimalan sumur resapan.
Namun, teknologi canggih sekalipun nggak akan maksimal kalau kita sebagai warga masih punya kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan ke selokan.
Sinergi antara infrastruktur yang mumpuni dan kesadaran warga buat menjaga kebersihan lingkungan adalah kunci utama biar Jakarta nggak terus-terusan “hobi” banjir.
Langkah mitigasi seperti pembuatan waduk-waduk baru dan revitalisasi kali juga terus dikebut.
Harapannya, 59 ribu drainase tadi bisa terhubung dengan sistem penampungan yang lebih besar sehingga air punya tempat parkir sementara sebelum dialirkan ke muara.
Yuk, mulai sekarang kita lebih peduli lagi dengan saluran air di depan rumah masing-masing biar musim hujan kali ini kita nggak perlu lagi main air di tengah jalan.
3 Poin Penting:
-
Jakarta memiliki lebih dari 59 ribu saluran drainase, namun efektivitasnya sering terhambat oleh sedimentasi lumpur dan sumbatan sampah.
-
Penurunan muka tanah dan berkurangnya daerah resapan air membuat beban drainase meningkat drastis saat puncak musim hujan.
-
Diperlukan kombinasi antara infrastruktur modern (pompa dan waduk) serta kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air untuk mengatasi banjir.
![banjir kampung cogreg [dok. tribun]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/BANJIR-TANGERANG-6H8.jpg-300x169.webp)
![Banjir di U-turn Samsat Jakarta Barat [dok. X/@TMCPoldaMetro]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/full_1772943230180953_806b21a990_berita_pusat-pemberitaan-300x168.webp)
![bantargebang tim sar [Metrotvnews.com/Antonio]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/a_69ad6b9a64b72-300x225.jpg)
![sungai dengkeng [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/KALI-DENGKENG-MELUAP-1-300x200.webp)