Jakarta Hujan Deras, Gubernur Pramono Anung Curhat Jadi Sering Begadang Demi Pantau Banjir

Jumat, 6 Februari 2026

Gubernur Jakarta Pramono Anung (Kementerian PANRB)

Kabar unik datang dari Balai Kota, di mana Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, buka-bukaan soal kebiasaan barunya sejak menjabat sebagai orang nomor satu di Jakarta.

Ternyata, setiap kali hujan mengguyur ibu kota, Pramono mengaku tidak bisa tidur nyenyak karena dihantui rasa khawatir akan ancaman banjir.

Padahal, sebelum memikul tanggung jawab sebagai Gubernur, momen hujan biasanya ia nikmati untuk beristirahat dengan tenang tanpa beban pikiran yang berat.

Curhatan ini ia sampaikan dalam forum Indonesia Economic Summit di Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026). Pramono bercerita bahwa kini ia dan sang istri sering terlibat diskusi serius saat rintik hujan mulai turun.

Rasa tanggung jawab yang besar untuk memastikan warga Jakarta aman dari genangan membuat waktu istirahatnya tersita demi mengontrol jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar tetap siaga di lapangan.

Siaga Penuh Saat Musim Hujan dan Kontrol Ketat Jajaran Pemprov DKI

Pramono mengakui bahwa pada tanggal-tanggal kritis seperti 12, 18, dan 22 Januari lalu, dirinya hampir tidak memejamkan mata sama sekali.

Ia memilih untuk tetap terjaga demi memantau kesiapan rekan-rekan kerjanya dalam menghadapi potensi banjir besar di berbagai titik rawan.

Baginya, memastikan pompa berfungsi dan personel siap siaga adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar lagi saat cuaca ekstrem melanda Jakarta.

Langkah begadang ini dilakukan agar koordinasi pencegahan banjir bisa berjalan secara real-time dan efektif. Gubernur ingin memastikan bahwa setiap laporan dari masyarakat maupun sensor banjir di lapangan langsung ditindaklanjuti tanpa penundaan.

Hal ini menunjukkan komitmen tinggi dalam mengubah pola penanganan banjir yang biasanya reaktif menjadi lebih preventif melalui pengawasan ketat dari level pimpinan tertinggi.

Solusi Jangka Pendek dan Menengah di Kawasan Rawan Daan Mogot

Dalam peninjauannya, Pramono memberikan contoh spesifik mengenai masalah banjir yang sering terjadi di Jalan Daan Mogot Km 13.

Masalah utamanya ternyata terletak pada sistem pemompaan yang kurang optimal serta kondisi permukaan sungai yang posisinya sudah lebih tinggi dari permukaan jalan.

Fenomena ini membuat air sungai sangat mudah meluap ke badan jalan jika tidak dikelola dengan teknologi drainase yang mumpuni.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pramono langsung mengambil keputusan taktis untuk menerapkan dua skema penanganan sekaligus. Untuk jangka pendek, Pemprov DKI akan mengoptimalkan penggunaan pompa air berkapasitas besar guna menyedot genangan secara cepat.

Sementara untuk solusi jangka menengah, pemerintah berencana menyiapkan pembangunan flyover agar mobilitas warga tidak terputus saat debit air sungai meningkat secara drastis.

Tanggung Jawab Besar dan Komitmen Pembenahan Infrastruktur Jakarta

Pramono menegaskan bahwa menangani banjir di Jakarta merupakan sebuah tanggung jawab besar yang tidak bisa diselesaikan secara instan melalui cara-cara ajaib.

Dibutuhkan pembenahan infrastruktur yang berkelanjutan serta perencanaan yang matang untuk mengurangi risiko bencana secara signifikan.

Ia berjanji bahwa Pemprov DKI akan terus fokus pada perbaikan sistem drainase dan normalisasi sungai di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi langganan banjir.

Gubernur juga mengajak warga untuk ikut serta menjaga lingkungan agar upaya pemerintah dalam membenahi infrastruktur tidak sia-sia.

Baginya, setiap tetes hujan yang turun adalah pengingat untuk terus bekerja keras meningkatkan kesiapan Jakarta menghadapi tantangan iklim.

Meski harus sering begadang, Pramono merasa hal itu adalah konsekuensi yang harus dijalani demi mewujudkan Jakarta yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh penghuninya.

Statement:

Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta

“Sebagai Gubernur, setiap kali hujan turun, saya tidak bisa tidur sekarang. Sungguh, saya tidak bisa tidur. Saya hampir tidak tidur karena mengontrol rekan-rekan saya, bagaimana mempersiapkan diri menghadapi banjir di Jakarta. Bagi saya, ini tanggung jawab besar.”

3 Poin Penting:

  1. Gubernur Pramono Anung mengaku kehilangan waktu tidur karena harus memantau koordinasi penanganan banjir secara langsung saat hujan deras melanda Jakarta.

  2. Identifikasi masalah banjir di Daan Mogot disebabkan oleh sistem pompa yang kurang memadai dan elevasi sungai yang lebih tinggi dari jalan.

  3. Strategi penanganan banjir mencakup solusi taktis jangka pendek melalui pemompaan serta solusi infrastruktur jangka menengah melalui pembangunan flyover.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir