Sebuah kabar yang menenangkan sekaligus menggelitik datang dari lingkaran kekuasaan. Menjelang genap satu tahun masa jabatan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming pada 20 Oktober 2025, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi tampil ke publik dengan laporan evaluasi yang sangat seimbang.
Menurut Prasetyo, capaian positif dan prestasi kabinet selama setahun terakhir ini cukup banyak.
Betapa melegakan! Sebab, di tengah hiruk pikuk politik dan tuntutan publik, mendengar bahwa prestasinya banyak adalah sebuah hiburan tersendiri.
Namun, di sinilah letak sentuhan humanisnya: Mensesneg juga mengakui bahwa masih terdapat sejumlah hal yang perlu diperbaiki karena belum sempurna.
Pernyataan ini menunjukkan kejujuran yang luar biasa. Tentu saja, sebuah pemerintahan yang baru berjalan setahun tidak boleh sempurna.
Jika sudah sempurna, lantas apa lagi yang akan dievaluasi dan diperbaiki?
Justru ketidaksempurnaan ini yang memberi harapan bahwa proyek-proyek pembangunan akan terus berlanjut, memberi banyak headline menarik di tahun-tahun mendatang.
Memohon Doa dan Stimulus: Langkah Strategis di Kertanegara
Dalam suasana yang intim di kediaman Presiden Prabowo di Kertanegara, Jakarta Selatan, Mensesneg Prasetyo meminta dukungan publik dengan sangat singkat dan penuh kerendahan hati: “Mohon doanya.”
Sebuah kalimat yang sungguh humanis dan merakyat, menunjukkan bahwa dalam menjalankan roda pemerintahan, kekuatan doa masyarakat juga menjadi variabel penting, selain data dan anggaran.
Malam itu, Minggu (12/10/2025). Presiden Prabowo memang sedang sibuk melakukan pertemuan strategis dengan para Menteri Koordinator, para Menteri, hingga petinggi lembaga seperti Gubernur Bank Indonesia dan Kapolri. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan sejumlah langkah strategis dan stimulus ekonomi yang akan segera digulirkan pekan depan.
Ini adalah pertanda baik: setelah setahun berprestasi banyak namun belum sempurna, kini saatnya gaspol dengan stimulus baru.
Proyek Ambisius: Dari Dapur Gratis Hingga Ribu Rumah
Meskipun Mensesneg tidak merinci semua prestasi yang “banyak sekali” itu, Sekretariat Kabinet memberikan beberapa contoh konkret yang patut kita banggakan.
Presiden Prabowo menyampaikan keyakinannya bahwa kondisi ekonomi nasional akan terus membaik berkat program-program ambisius yang sudah berjalan.
Di antaranya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah melibatkan lebih dari ribu dapur—sebuah pencapaian logistik yang menakjubkan.
Selain itu, pemerintahan ini juga berhasil merealisasikan pembangunan ribu rumah subsidi—bukti nyata komitmen terhadap papan.
Tidak lupa, pembukaan lahan pertanian baru dan penguatan aktivitas ekonomi dari program yang sedang berjalan.
Seluruh program ini, ditegaskan oleh Presiden, akan terus dikawal agar pelaksanaannya sesuai target.
Sebuah komitmen yang melegakan, sebab dalam konteks pembangunan di Indonesia, pengawalan adalah proses yang sama pentingnya dengan perencanaan.
Pesta Prestasi: Menjaga Keseimbangan Antara Pujian dan Perbaikan
Satu tahun pemerintahan adalah momen krusial untuk menjaga keseimbangan antara memberi pujian (karena prestasinya banyak) dan mengakui kekurangan (karena belum sempurna).
Pendekatan yang dipilih Mensesneg Prasetyo ini patut diacungi jempol.
Ini adalah seni berkomunikasi politik yang elegan: kami sudah bekerja keras, hasilnya banyak, tapi karena kami peduli, kami akan terus memperbaiki beberapa hal.
Intinya, masyarakat diajak untuk bersabar dan optimis. Pemerintahan ini sudah meletakkan fondasi ekonomi dengan program-program masif.
Kini, dengan adanya doa restu dari publik dan stimulus yang baru diputuskan di Kertanegara, diharapkan sisa masa jabatan akan menghasilkan lebih banyak prestasi lagi—semoga kali ini dengan sedikit ketidaksempurnaan yang lebih sedikit.
Statement:
Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara
“Banyaklah, catatan positif dalam artian prestasi selama satu tahun tentu banyak sekali, tapi juga ada beberapa catatan perbaikan yang memang juga harus menjadi fokus kita untuk kita perbaiki.”



