Search

Kedaulatan Energi Rasa Singkong: Bensin E10 Resmi Dicanangkan, Tanah Kosong Siap Laris Manis

Jumat, 17 Oktober 2025

Ilustrasi SPBU Pertamina (istimewa)

Sebuah gebrakan beraroma tapioka baru saja dicanangkan pemerintah untuk menyelesaikan masalah ketergantungan energi nasional. Mulai tahun depan, semua bahan bakar bensin yang beredar di Indonesia wajib mengandung etanol 10% (E10).

Kebijakan ini, kata Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), adalah langkah epik menuju kemandirian energi dan merupakan bagian dari program besar pemerintah untuk mencapai swasembada energi.

Bahkan, Zulhas mengklaim bahwa dengan dorongan ini, Indonesia ditargetkan tidak impor BBM lagi tahun depan. Sebuah klaim yang membuat hati kita menghangat secepat api yang membakar etanol. Selain bensin E10, pemerintah juga akan meningkatkan penggunaan biosolar dari B40 menjadi B50.

Ini semua, kata Zulhas, adalah upaya memperkuat kedaulatan nasional di sektor pangan dan energi. Kita harus bersiap, sebab janji-janji kemandirian energi ini terdengar begitu manis, seolah masalah impor minyak mentah dapat diselesaikan semudah memanen tebu.

Panen Raya Spektakuler: Jagung, Singkong, dan Tanah Kosong

Namun, esensi humanis dari kebijakan ini justru terletak pada dampak yang paling membumi.

Zulhas mengklaim, penerapan bensin E10 akan memacu tumbuhnya industri berbasis bahan baku lokal seperti jagung, singkong, dan tebu. Ini adalah janji surga bagi para petani dan pemilik lahan di seluruh nusantara.

Sungguh visi yang luar biasa! Sebuah utopia pertanian di mana lahan kosong pun menjadi barang langka karena semua orang berlomba menanam singkong.

Kita berharap, euforia panen raya spektakuler ini tidak hanya terjadi di PowerPoint presentasi, tetapi benar-benar di lahan petani, tanpa ada distorsi harga dan kelangkaan pangan karena semua komoditas beralih fungsi menjadi bahan bakar.

Restu Presiden dan Mobil yang Siap Tancap Gas

Kebijakan E10 ini bukanlah wacana belaka. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebelumnya telah mengumumkan bahwa mandatory penggunaan 10% etanol pada BBM bensin sudah disetujui langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Bahlil menambahkan bahwa penerapan E10 akan mengurangi impor minyak dan sekaligus mendukung target energi bersih menuju Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Sebuah langkah maju yang mulia, menggabungkan idealisme lingkungan dengan pragmatisme ekonomi.

Meskipun baru ada satu produk bensin etanol 5% (Pertamax Green) di Pertamina, keyakinan pemerintah begitu kuat.

Untungnya, tidak ada drama dari industri otomotif. Sejumlah produsen kendaraan, termasuk Toyota dan Honda, telah menyatakan kesiapan mereka.

Mereka mengklaim mobil dan motor yang dijual di Indonesia telah kompatibel dengan E10 tanpa perlu penyesuaian mesin. Ini adalah kabar baik, setidaknya kita tidak perlu memodifikasi mesin mobil kita dengan saringan singkong.

Statement:

Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan

“Tahun depan direncanakan, kita sudah mulai pakai premium atau bensin campur, 10 persen, 10 persen etanol atau metanol.”

“Bayangkan, kalau besok kita menuju 10% etanol dan metanol, berarti harus membangun industrinya.”

“Berarti kalau orang menanam jagung akan laku keras, kalau orang tanam singkong akan laris, karena itu untuk etanol dan metanol. Bayangkan, tidak akan ada tanah kosong nanti.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan