Search

Kepiting Biola si Pengurai Mikroplastik: Hero atau Ancaman Baru Buat Manusia?

Minggu, 1 Februari 2026

Kepiting biola (phys-org)

Sobat lingkungan, ada kabar gokil sekaligus bikin dahi berkerut dari dunia bawah laut! Sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh tim peneliti dari Universitas Exeter, Inggris, baru saja mengungkap kemampuan luar biasa dari kepiting biola (Uca spp).

Spesies yang sering kita temukan di area mangrove tropis ini ternyata jagoan banget dalam mengurai mikroplastik. Prosesnya pun terbilang ngebut, jauh lebih cepat daripada proses alami sinar matahari atau deburan ombak yang biasanya butuh waktu lama buat memecah plastik.

Kepiting mungil ini nggak cuma sekadar “makan” sampah, tapi juga aktif mengaduk sedimen saat mereka mencari makan atau bikin tempat berlindung.

Kemampuan adaptasi mereka di tengah kontaminasi limbah plastik yang tinggi beneran bikin para ilmuwan geleng-geleng kepala.

Bayangkan saja, di Teluk Uraba yang dikenal sebagai salah satu titik mangrove paling tercemar di dunia, kepiting biola ini tetap bisa hidup santai dan bahkan berkembang biak dengan sukses.

Fragmentasi Nanoplastik dan Bahaya Tersembunyi di Balik Usus

Meskipun terdengar seperti pahlawan pembersih laut, kemampuan kepiting biola ini punya sisi gelap yang cukup ngeri buat kita semua. Saat mereka mengurai mikroplastik, kepiting-kepiting ini justru memecahnya menjadi partikel yang jauh lebih kecil lagi, yaitu nanoplastik.

Proses fragmentasi ini dibantu oleh bakteri pengurai dan sistem pencernaan di usus mereka. Masalahnya, nanoplastik ini ukurannya super mini, sehingga lebih gampang masuk ke jaringan tubuh makhluk hidup lain.

Jose M. Riascos, ahli ekologi kelautan yang memimpin riset ini, menemukan fakta bahwa mikroplastik menumpuk di tubuh kepiting hingga konsentrasi 13 kali lipat lebih tinggi dari sedimen sekitarnya.

Zat berbahaya ini nggak tersebar rata, tapi ngumpul di organ vital seperti hepatopankreas, insang, dan usus belakang. Kalau partikel ini terus naik di rantai makanan, ujung-ujungnya bisa mendarat di piring makan kita dan masuk ke tubuh manusia.

Penjaga Ekosistem Mangrove yang Kebal Polusi

Meski membawa risiko bagi rantai makanan manusia, peran kepiting biola sebagai penjaga alam tetap nggak bisa dipandang sebelah mata.

Adriani Sunuddin, Ahli Biodiversitas Laut dari IPB University, menjelaskan bahwa perilaku kepiting ini sangat membantu pertumbuhan mangrove.

Dengan mengaduk sedimen, mereka memicu pertukaran oksigen di dalam tanah, sehingga hutan mangrove bisa tumbuh lebih sehat dan kuat dalam menahan kenaikan muka air laut.

Selain itu, kepiting biola berperan sebagai scavenger dan decomposer alami yang mengurai bahan organik menjadi nutrien. Menariknya lagi, fragmentasi plastik ini ternyata lebih banyak dilakukan oleh kepiting betina daripada jantan.

Hal ini menunjukkan bahwa hewan-hewan kecil ini bukan cuma komponen pasif di lautan, melainkan agen aktif yang berusaha beradaptasi dengan tekanan polusi atau gangguan antropogenik kronis hasil ulah manusia.

Adaptasi Alamiah dan Potensi Pengendali Limbah di Masa Depan

Ketua Kelompok Riset Perikanan Krustasea BRIN, Ali Suman, menyebut bahwa perilaku memecah benda di hadapannya adalah insting alamiah kepiting, termasuk kepiting biola di Indonesia.

Meskipun populasi kepiting biola di tanah air hanya sekitar 0,9 persen dan jarang dikonsumsi karena ukurannya yang kecil, potensi mereka sebagai pengendali lingkungan mulai dilirik.

Mereka bisa jadi “tim pembersih” alami untuk menekan sebaran mikroplastik di kawasan pesisir.

Namun, Ali tetap mewaspadai dampak jangka panjang jika partikel plastik yang mereka telan masuk ke jenis kepiting lain yang biasa kita konsumsi, seperti kepiting bakau.

Karena kepiting biola punya warna cangkang yang menarik, ke depannya biota ini mungkin lebih pas dijadikan hewan hias atau ornamental ketimbang sumber pangan.

Yang jelas, kehadiran mereka di hutan mangrove adalah pengingat bahwa alam punya cara sendiri buat bertahan, meski kita terus-menerus mengotorinya dengan sampah plastik.

Statement:

Ali Suman, Ketua Kelompok Riset Perikanan Krustasea BRIN

“Hasil penelitian ini mengarahkan pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana hewan beradaptasi dengan polusi dan bagaimana nasib plastik di lingkungan. Namun, patut diwaspadai jika partikel mikroplastik ini masuk ke rantai makanan yang akhirnya dikonsumsi manusia karena sangat berbahaya bagi kesehatan.”

3 Poin Penting:

  • Kepiting biola memiliki kemampuan luar biasa untuk mengurai mikroplastik menjadi nanoplastik dalam hitungan hari melalui proses fragmentasi di sistem pencernaannya.

  • Konsentrasi mikroplastik dalam tubuh kepiting biola ditemukan 13 kali lipat lebih tinggi dibanding lingkungan sekitarnya, yang berisiko mencemari rantai makanan manusia.

  • Selain mengurai plastik, kepiting biola berperan penting sebagai penjaga ekosistem mangrove dengan cara mengaduk sedimen untuk memperlancar sirkulasi oksigen di sistem perakaran.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan