Search
Search
Search

Laut Merah Kembali Memanas, Milisi Houthi Tunjukkan Taji dan Bikin Jalur Pelayaran Dunia Ketar-Ketir

Jumat, 28 Agustus 2026

Milisi Houthi (Reuters)

Perang Yaman kembali membara usai gencatan senjata yang bertahan sekitar empat tahun resmi retak. Kelompok milisi Houthi yang mendapat dukungan dari Iran kembali melancarkan aksi militer agresif berupa serangan rudal dan drone.

Sasaran utama mereka kini membidik kapal-kapal tanker yang terhubung dengan Arab Saudi di kawasan vital Laut Merah, hingga membuat alur pelayaran komersial di Selat Bab al-Mandab hampir lumpuh total sejak pertengahan Juli.

Di darat, posisi Houthi juga terbukti sangat solid dan sulit digoyahkan. Kelompok bersenjata ini menguasai wilayah strategis di Yaman bagian barat laut, termasuk ibu kota Sanaa serta deretan kawasan pesisir penting.

Dengan mengendalikan ruang hidup bagi sekitar 70% total populasi Yaman, Houthi bertransformasi dari sekadar milisi lokal menjadi kekuatan geopolitik yang sangat mumpuni.

Eskalasi Serangan di Pelabuhan Mokha dan Kemandirian Industri Militer

Eskalasi konflik makin meruncing saat rudal Houthi menghantam Pelabuhan Mokha pada 15 Agustus lalu. Hantaman ini menimbulkan kerugian materiil mencapai USD 16 juta sekaligus memaksa pelabuhan strategis tersebut menghentikan operasionalnya.

Langkah ini diambil Houthi guna menekan kekuatan kelompok National Resistance Forces serta menuntut Arab Saudi agar mencairkan gaji pegawai negeri dan melonggarkan blokade pelayaran.

Menariknya, Houthi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan senjata utuh dari Iran seperti di masa awal konflik.

Mereka kini berhasil merangkai jaringan pasokan mandiri dengan menyelundupkan komponen-komponen kecil lewat rute Oman, Uni Emirat Arab, hingga Tanduk Afrika.

Bantuan teknologi baru seperti drone berbasis serat optik juga membuat armada udara mereka kebal dari gangguan jamming sinyal anti-militer.

Benteng Alami Pegunungan dan Ketahanan Organisasi yang Tangguh

Faktor geografi turut menjadi kunci keunggulan taktis Houthi di lapangan. Wilayah dataran tinggi dan pegunungan Yaman yang mereka kuasai bertindak sebagai benteng alami yang sangat sulit ditembus oleh serangan luar.

Selain itu, Houthi memanfaatkan serta memperluas jaringan gua bawah tanah dan bunker peninggalan militer Yaman sebagai tempat bersembunyi sekaligus markas komando rahasia.

Daya tahan organisasi kelompok ini juga teruji sangat tangguh meski terus digempur kampanye militer berskala besar.

Kendati beberapa jajaran pimpinan sipil mereka tewas akibat serangan udara musuh, struktur kepemimpinan Houthi selalu mampu melakukan regenerasi dengan sangat cepat.

Karakter inilah yang membedakan Houthi dari kelompok sekutu regional lainnya di kawasan Timur Tengah.

Tantangan Berat Koalisi dan Reputasi Kuburan Para Penjajah

Meskipun pemerintah Yaman mencoba membangun kembali kekuatan tempur bersama koalisi Arab Saudi dan Amerika Serikat yang unggul secara alutsista, melumpuhkan Houthi secara total terbukti bukan perkara mudah.

Pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, bahkan secara terbuka menegaskan kembali julukan bersejarah Yaman sebagai tempat yang menjadi “kuburan bagi para penjajah”.

Kombinasi antara dominasi wilayah, penguasaan teknologi drone, serta taktik perang gerilya di pegunungan membuktikan bahwa kekuatan Houthi tidak hanya terletak pada daya serangnya semata.

Ketahanan strategis mereka untuk terus bertahan di tengah tekanan global menjadikan konflik di Laut Merah ini makin sulit diprediksi ujungnya.

Statement:

Peter Salisbury, Peneliti dari Columbia University

“Houthi mampu memulihkan kemampuan militernya yang rusak atau hancur jauh lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.”

Abdul-Malik al-Houthi, Pemimpin Kelompok Houthi

“Yaman memiliki reputasi historis yang kuat sebagai kuburan bagi para penjajah.”

3 Poin Penting:

  • Eskalasi Konflik di Laut Merah: Houthi kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke kapal tanker serta Pelabuhan Mokha, yang melumpuhkan alur pelayaran komersial di Selat Bab al-Mandab.

  • Kemandirian Industri dan Teknologi Militer: Houthi tak lagi bergantung pada senjata jadi dari Iran, melainkan berhasil membangun rakitan drone mandiri berteknologi serat optik yang tahan jamming.

  • Pertahanan Geografis dan Organisasi: Menguasai 70% populasi Yaman serta benteng alami pegunungan dan bunker bawah tanah membuat Houthi sangat sulit ditaklukkan oleh koalisi militer mana pun.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan