Search

Lawan Blokade AS, Iran-China Gaspol Perdagangan via Jalur Kereta Api Kargo

Senin, 11 Mei 2026

Jalur kereta api China-Iran (ist)

Hubungan dagang antara Iran dan China makin menunjukkan taringnya di tengah situasi geopolitik yang memanas.

Sebagai upaya cerdas untuk mengakali blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat (AS) yang sudah berlangsung sejak pertengahan April 2026, Iran kini resmi mengandalkan jalur kereta api sebagai jalur logistik utama.

Langkah ini menjadi alternatif yang sangat krusial mengingat ekspor minyak dan impor kebutuhan pokok Iran lewat jalur laut sedang terhambat akibat tekanan ekonomi dari Negeri Paman Sam tersebut.

Fenomena peningkatan aktivitas pengiriman barang ini terlihat jelas pada frekuensi perjalanan kereta kargo dari Kota Xi’an di China menuju Teheran.

Jika biasanya kereta kargo ini hanya ngetem atau beroperasi sekali seminggu, kini jadwalnya makin padat menjadi satu perjalanan setiap tiga hingga empat hari sekali.

Lonjakan ini membuktikan bahwa jalur darat melalui rel menjadi napas baru bagi perekonomian Iran yang sedang berusaha keras menjaga stabilitas domestiknya.

Lonjakan Permintaan Bikin Kapasitas Kargo Ludes Sampai Juni

Managing Director Silkroad-Avrasya Multimodal Logistics, Altan Dursun, mengungkapkan bahwa antusiasme penggunaan jalur kereta ini benar-benar di luar ekspektasi.

Ia menyebutkan kalau kapasitas pengiriman untuk bulan Mei 2026 sudah ludes alias penuh dipesan oleh para pelaku usaha.

Bahkan, pihak pengelola berencana menambah kapasitas baru pada bulan Juni mendatang untuk menampung gelombang permintaan yang terus meroket tajam dari berbagai sektor industri.

Setiap rangkaian kereta yang berangkat dari Xi’an dilaporkan mampu mengangkut sekitar 50 kontainer standar berukuran 40 kaki.

Namun, tingginya permintaan ini juga berdampak pada “harga teman” yang mulai hilang, di mana tarif pengiriman satu kontainer melonjak hingga USD7.000.

Angka tersebut naik sekitar 40 persen dari tarif normal sebelum konflik pecah, mencerminkan betapa mahalnya biaya keamanan dan logistik di tengah situasi krisis saat ini.

Alternatif Darat Belum Sempurna Gantikan Fungsi Pelabuhan Laut

Meskipun jalur kereta yang melintasi Kazakhstan dan Turkmenistan ini sangat membantu, para analis menilai jalur tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan peran vital pelabuhan laut Iran.

Blokade angkatan laut AS tetap memberikan tekanan yang sangat terasa, terutama pada ekspor minyak dan impor komoditas penting seperti gandum.

Hal ini mulai berimbas pada stabilitas ekonomi dalam negeri Iran dan melemahnya nilai tukar mata uang rial secara perlahan.

Saat ini, arus perdagangan di jalur rel tersebut masih didominasi oleh barang-barang kiriman dari China menuju Iran.

Produk-produk seperti suku cadang otomotif, generator, barang elektronik, hingga produk industri lainnya menjadi muatan utama yang mengisi gerbong-gerbong kereta tersebut.

Pemerintah Iran sendiri dikabarkan sedang memutar otak untuk mulai memanfaatkan jalur ini guna mengekspor produk petrokimia dan bahan bakar ke pasar internasional pada tahap selanjutnya.

Ketergantungan Iran Terhadap China Makin Erat Akibat Konflik

Sejak konflik besar pecah pada akhir Februari 2026 akibat serangan AS dan Israel, ketergantungan Iran terhadap China sebagai mitra dagang utama memang makin nyata.

China sendiri tetap pada posisinya yang menyerukan gencatan senjata dan membantah telah mengirimkan bantuan persenjataan kepada Iran.

Posisi China sebagai pembeli utama minyak Iran menjadikan kerja sama ini sebagai hubungan simbiosis yang saling menguntungkan bagi kedua negara di tengah isolasi global.

Kondisi ini memperlihatkan betapa dinamisnya pergeseran peta logistik dunia saat jalur laut tidak lagi aman.

Jalur kereta api kargo lintas negara kini bukan sekadar sarana transportasi, melainkan simbol perlawanan ekonomi dan ketahanan sebuah negara dalam menghadapi embargo internasional.

Kita lihat saja bagaimana kelanjutan strategi “jalur sutra modern” ini dalam menjaga denyut nadi ekonomi Iran di masa-masa sulit yang penuh ketidakpastian.

Statement:

Altan Dursun, Managing Director Silkroad-Avrasya Multimodal Logistics

“Dulu kereta ini bahkan tidak beroperasi sama sekali pada beberapa pekan tertentu, tetapi sekarang seluruh kapasitas untuk Mei sudah penuh. Permintaan pengiriman barang melalui jalur tersebut melonjak tajam, sementara kapasitas tambahan direncanakan mulai tersedia pada Juni mendatang.”

3 Poin Penting:

  1. Jalur Alternatif Strategis: Iran meningkatkan frekuensi kereta kargo Xi’an-Teheran menjadi setiap 3-4 hari untuk mengatasi blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat.

  2. Biaya Logistik Meroket: Tarif pengiriman kontainer melalui jalur darat naik hingga 40 persen atau mencapai USD 7.000 akibat lonjakan permintaan yang ekstrem.

  3. Ketergantungan Dagang: Iran makin mengandalkan China sebagai mitra utama untuk impor kebutuhan industri dan ekspor minyak di tengah tekanan ekonomi global.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan