Siapa sangka kalau urusan energi bersih bisa jadi sedemikian pelik?
Kebijakan pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang makin memperketat aturan terhadap perusahaan surya dengan keterkaitan asal China, kini mulai memicu huru-hara di industri panel surya domestik AS.
Dampaknya nggak main-main, gengs. Alih-alih bikin industri lokal makin jaya, langkah ini justru mulai menghambat pertumbuhan energi terbarukan di negeri Paman Sam karena ketidakpastian regulasi yang bikin para pemain industri ketar-ketir.
Kabarnya, sejumlah perusahaan raksasa, bank, hingga penyedia asuransi mulai ramai-ramai “angkat kaki” alias menghentikan kerja sama dengan sedikitnya enam pabrik panel surya besar di AS.
Padahal, pabrik-pabrik ini sebelumnya dibangun dengan investasi dari perusahaan China. Mereka takut kalau hubungan bisnis ini malah bikin mereka kehilangan akses ke subsidi energi bersih pemerintah yang nilainya selangit.
Duh, padahal kapasitas produksi yang terancam ini mencapai lebih dari sepertiga total produksi nasional AS, lho!
Ancaman Bumerang Bagi Lapangan Kerja dan Sektor AI
Kebijakan ini sebenarnya bagian dari misi Trump buat membatasi pengaruh China sekaligus memangkas dukungan pemerintah terhadap green energy.
Tapi, banyak pengamat menilai langkah ini bisa jadi bumerang yang mematikan. Kenapa? Karena di saat yang sama, permintaan energi di AS lagi melonjak drastis, terutama buat menyuplai pusat data industri kecerdasan buatan (AI) yang lagi hype banget.
Kalau pasokan panel surya terhambat, otomatis pertumbuhan pembangkit listrik juga bakal mandek.
Gak cuma soal energi, urusan perut alias lapangan kerja juga jadi taruhan. Para pelaku industri memperingatkan bahwa pembatasan ini bisa menghambat pertumbuhan lapangan kerja di sektor manufaktur.
Sunrun, raksasa instalasi panel surya rumah di AS, bahkan sudah mulai main aman dengan menghindari pemasok asal Negeri Tirai Bambu.
Padahal, kenyataannya China masih memegang kendali sekitar 80% produksi peralatan surya secara global. Memutus rantai pasok dari mereka ternyata nggak semudah membalikkan telapak tangan.
Aturan Main One Big Beautiful Bill yang Bikin Bingung
Drama ini makin memuncak setelah Trump mengesahkan undang-undang “One Big Beautiful Bill” pada tahun 2025 lalu.
Aturan ini secara resmi memangkas subsidi era Joe Biden dan membatasi kepemilikan perusahaan China maksimal cuma 25% kalau mau dapat insentif federal.
Masalahnya, Departemen Keuangan AS belum juga mengeluarkan panduan teknis yang jelas soal implementasinya.
Ketidakjelasan ini bikin bank-bank besar kayak JPMorgan Chase dan Goldman Sachs mulai pelit kasih kucuran dana karena takut kredit pajaknya dibatalkan mendadak.
Kondisi “nggantung” ini juga bikin perusahaan asuransi ogah memberikan perlindungan terhadap risiko hilangnya subsidi energi. Akibatnya, banyak proyek energi terbarukan yang harus parkir alias tertunda pengembangannya.
Industri surya AS saat ini benar-benar lagi di persimpangan jalan; mau mandiri tapi belum siap teknologi, mau tetap kerja sama tapi takut kena sanksi pemerintah sendiri.
Strategi Jual Saham Demi Bertahan Hidup
Melihat situasi yang makin nggak kondusif, beberapa perusahaan China akhirnya memilih buat mengalah demi tetap bisa beroperasi di tanah Amerika.
Salah satunya adalah JinkoSolar yang baru saja mengumumkan penjualan 75,1% saham unit usahanya di AS kepada FH Capital.
Langkah restrukturisasi ini diambil supaya mereka tetap bisa dianggap sebagai entitas “aman” dan nggak kehilangan akses ke subsidi pemerintah AS yang krusial bagi kelangsungan bisnis mereka.
Nggak ketinggalan, Illuminate USA yang merupakan hasil joint venture antara LONGi dan Invenergy juga kabarnya sudah menurunkan porsi kepemilikan saham China di bawah ambang batas 25%.
Namun, mereka tetap memberikan peringatan keras bahwa operasional produsen panel surya di Amerika masih sangat berisiko terganggu kalau pemerintah nggak segera kasih kepastian hukum.
Tanpa aturan yang jelas, masa depan energi surya di AS sepertinya bakal tetap mendung dalam waktu yang cukup lama.
Statement:
Keith Martin, pengacara dari Norton Rose Fulbright
“Ini menunda pembiayaan proyek surya dan penyimpanan energi yang sangat dibutuhkan. Ketidakpastian regulasi membuat para investor dan perbankan mengambil langkah yang sangat hati-hati dalam mendanai proyek energi terbarukan.”
3 Poin Penting:
-
Pengetatan Aturan Subsidi: Pemerintahan Trump membatasi kepemilikan perusahaan China maksimal 25% di pabrik panel surya AS sebagai syarat mendapatkan subsidi melalui UU “One Big Beautiful Bill”.
-
Krisis Pembiayaan: Bank-bank besar dan perusahaan asuransi mulai mengurangi dukungan pada proyek tenaga surya karena ketidakjelasan panduan implementasi dari Departemen Keuangan AS.
-
Restrukturisasi Perusahaan: Demi bertahan di pasar AS, perusahaan besar seperti JinkoSolar dan LONGi mulai menjual saham mereka untuk mematuhi aturan batas kepemilikan asing.



![as-iran [dok. Ayatollah Ali Khamenei]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/ff6e9ba0-fce3-11f0-a8b8-bdd2c5f9bcad.jpg-300x169.webp)