Search

Menghitung Risiko Gempa Megathrust Selatan Jawa

Senin, 20 Oktober 2025

Ilustrasi lokasi gempa megathrust (x/zakiberkata)

Indonesia, yang secara geografis berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), kini menghadapi ancaman yang semakin mencuat: potensi gempa Megathrust.

Ancaman ini bukan sekadar prediksi, melainkan kalkulasi ilmiah yang mengingatkan kita akan kerentanan sebagai bangsa.

Tanah air kita memiliki 13 segmen Megathrust, namun dua yang paling mengancam adalah di wilayah Selatan Jawa dan segmen Enggano di Sumatera, yang dampaknya dapat memanjang hingga ke Selat Sunda.

Segmen Selatan Jawa, khususnya yang memanjang hingga Selat Sunda, terus mengumpulkan energi yang terkunci di zona subduksinya.

Kisah ancaman ini didukung oleh penjelasan dari Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Nuraini Rahma Hanifa.

Energi yang terakumulasi di bawah permukaan bumi ini, seiring waktu, akan mencapai titik jenuh dan melepaskan diri melalui pergerakan mendadak. Guncangan kuat yang ditimbulkan—jika dilepaskan sekaligus—bisa mencapai magnitudo hingga M 8,7.

Getaran dahsyat ini adalah awal dari bencana yang lebih besar, memicu perpindahan kolom air laut secara masif dan menghasilkan gelombang raksasa yang kita kenal sebagai tsunami.

Gelombang Raksasa 20 Meter: Ancaman bagi Pesisir dan Ibukota

Perhitungan ilmiah menunjukkan betapa besarnya dampak lanjutan dari gempa Megathrust. Goncangan besar ini berpotensi menyebabkan tsunami dengan ketinggian yang sangat mengkhawatirkan, yaitu bisa mencapai 20 meter di beberapa titik.

Tsunami setinggi ini tidak hanya akan menghantam pesisir Selatan Jawa, tetapi juga akan menjalar luas hingga wilayah pesisir lainnya, termasuk Banten, Lampung, dan bahkan ibu kota, Jakarta.

Nuraini Rahma Hanifa melanjutkan perhitungannya dengan ilustrasi yang humanis dan sangat nyata: jika Megathrust di segmen Selatan Jawa (wilayah Pangandaran) pecah, gelombang tsunami setinggi sekitar 20 meter akan melebar hingga masuk Selat Sunda.

Untuk kawasan pesisir Banten, diperkirakan ketinggian tsunami mencapai 4 hingga 8 meter, sementara seluruh pesisir Lampung yang menghadap Selat Sunda juga akan terkena imbasnya. Data ini adalah panggilan darurat bagi kita semua untuk meningkatkan kesiapsiagaan diri dan komunitas.

Hitungan Waktu Tiba: 40 Menit hingga 2,5 Jam

Ancaman ini menjadi semakin genting ketika kita bicara tentang waktu. Nuraini memaparkan perkiraan waktu tiba gelombang tsunami yang sangat singkat.

Untuk wilayah Jawa bagian selatan, tsunami bisa tiba dalam waktu sekitar 40 menit, sementara Lebak hanya memiliki waktu sekitar 18 menit setelah gempa terjadi.

Waktu yang sangat sempit ini menuntut sistem peringatan dini yang sangat cepat dan respons evakuasi yang terlatih.

Bahkan wilayah ibu kota tidak luput dari ancaman ini, meskipun dengan ketinggian yang berbeda. Untuk wilayah Jakarta, tsunami diprediksi akan menerjang pesisir utara dengan ketinggian antara 1 hingga 1,8 meter.

Yang perlu diperhatikan adalah waktu kedatangan: tsunami akan tiba di Jakarta sekitar 2,5 jam setelah gempa terjadi.

Meskipun ketinggiannya lebih rendah, dampaknya di wilayah padat penduduk dan pusat ekonomi seperti Jakarta Utara tetap harus diwaspadai secara serius.

Imbauan BRIN: Bersama Menghadapi Dampak Multidimensi

Mengingat potensi dampak yang sangat besar—mulai dari kematian, cedera, kerusakan infrastruktur, hingga gangguan layanan dasar, dampak sosial ekonomi, dan kerusakan lingkungan—BRIN mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap waspada terhadap risiko Megathrust.

Ancaman ini tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalisir melalui kesiapsiagaan dan edukasi yang masif.

Kisah ancaman Megathrust ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangun kesadaran kolektif. Indonesia sebagai bangsa yang tinggal di Cincin Api memiliki tanggung jawab untuk hidup berdampingan dengan risiko ini.

Memahami potensi Megathrust dan tsunami adalah langkah pertama untuk melindungi diri, keluarga, dan komunitas.

Statement:

Nuraini Rahma Hanifa, Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN

“Kami menghitung bukan untuk menciptakan kepanikan, melainkan untuk memicu kesiapsiagaan yang rasional. Jika Pangandaran pecah, tsunami 20 meter adalah risiko. Jakarta akan terkena imbasnya 2,5 jam kemudian dengan ketinggian 1,8 meter di pesisir utara. Waktu yang singkat ini menuntut kita untuk berubah, dari masyarakat yang pasif menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Kematian, cedera, dan kerusakan masif adalah dampak yang pasti, tetapi pemahaman dan latihan evakuasi adalah software terpenting kita saat ini.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan