Search

Menguak Misteri Kerajaan Tulang Bawang, Saksi Bisu Peradaban Kuno di Tanah Lampung

Jumat, 22 Mei 2026

patung relief 4 marga di Tulang Bawang (ist)

Kalau kita berbicara tentang sejarah Lampung, nama Kerajaan Tulang Bawang pasti langsung muncul sebagai salah satu kisah yang paling menarik untuk dibahas secara mendalam.

Kerajaan purba ini diyakini sudah berdiri sejak abad keempat hingga abad kelima Masehi, sekaligus menjadi bagian yang sangat krusial dalam lini masa perjalanan masyarakat Lampung.

Kisah epik ini sukses memikat perhatian para anak muda pencinta histori lokal yang penasaran dengan akar kebudayaan di Nusantara.

Hal yang lebih unik lagi, legenda berdirinya Kerajaan Tulang Bawang ini sering dikaitkan dengan gelombang perpindahan suku bangsa dari wilayah Vietnam menuju Nusantara.

Proses perpindahan penduduk tersebut terjadi secara bertahap, lalu mereka membentuk kelompok kecil yang akhirnya memilih menetap di beberapa titik wilayah Lampung.

Rombongan pertama yang datang dipercaya langsung membuka lahan pertanian baru di kawasan Gunung Pesagi, sementara rombongan berikutnya lebih memilih untuk menetap di daerah Skala Brak serta wilayah di sekitar aliran Sungai Tulang Bawang.

Silsilah Raja yang Penuh Cerita dan Hubungan Unik Antarsuku

Dari rangkaian perjalanan yang sangat panjang itulah, muncul cikal bakal sebuah kekuasaan besar yang kelak kita kenal sebagai Kerajaan Tulang Bawang.

Selama beratus-ratus tahun lamanya, masyarakat pendatang tersebut hidup berkelompok dan berkembang biak di sepanjang aliran sungai yang subur itu.

Mereka mulai membangun permukiman yang permanen, memperluas wilayah kekuasaan, hingga akhirnya berhasil mendirikan sistem pemerintahan adat yang disebut keratuan di tanah Lampung.

Raja pertama yang memimpin Kerajaan Tulang Bawang diyakini bernama Mulonou Jadi atau yang sering juga disebut Mulonou Aji.

Setelah masa kepemimpinan beliau, mulailah bermunculan nama besar yang legendaris seperti Rakehan Sakti, Ratu Pesagi, hingga sosok Poyang Naga Berisang yang silsilahnya dihormati oleh masyarakat adat Lampung serta Batak.

Salah satu potongan kisah yang paling mencuri perhatian datang dari Rakehan Sakti yang memutuskan untuk menikahi Dayang Metika, seorang putri bangsawan dari daerah Pesagi, yang kemudian menurunkan garis keturunan murni kerajaan hingga menyebar ke Way Kanan dan Komering di Sumatra Selatan.

Peralihan Zaman dari Hindu ke Islam di Sepanjang Aliran Sungai

Seiring berjalannya roda waktu, Kerajaan Tulang Bawang juga mengalami pergeseran dalam hal corak kebudayaan serta sistem kepercayaan masyarakatnya.

Pada masa-masa awal, kerajaan ini sangat kental dengan pengaruh ajaran Hindu yang kuat, sebelum akhirnya perlahan mulai tersentuh oleh syiar agama Islam.

Salah satu tokoh sentral dalam periode peralihan keyakinan tersebut adalah Minak Kemala Bumi, atau yang akrab dipanggil oleh masyarakat dengan nama Haji Pejurit, seorang pelopor penyebar agama Islam di tanah Lampung.

Berdasarkan penuturan cerita rakyat, Haji Pejurit ini konon pernah menimba ilmu langsung kepada Prabu Siliwangi, lalu memperistri Ratu Ayu Kencana Wungu.

Namun sayang, roda kejayaan Kerajaan Tulang Bawang mulai goyah ketika pengaruh dari Kerajaan Sriwijaya semakin mendominasi sekitar abad ketujuh Masehi.

Kekuatan armada Sriwijaya yang berhasil menguasai jalur perdagangan laut membuat banyak kerajaan kecil di Sumatra, termasuk Tulang Bawang, terpaksa tunduk di bawah pengaruh dominasi maritim tersebut.

Jejak Kebudayaan yang Tersisa di Tengah Teka-teki Pusat Pemerintahan

Meskipun perlahan-lahan runtuh ditelan zaman, sisa-sisa peninggalan sejarahnya masih bisa kita temukan lewat keberadaan makam raja kuno di daerah Pagar Dewa, Meresou, dan Panaragan.

Kawasan-kawasan bersejarah tersebut sampai sekarang masih dianggap sakral serta memiliki nilai kebudayaan yang tinggi oleh penduduk setempat.

Hingga hari ini, titik koordinat pasti yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Tulang Bawang memang masih diselimuti teka-teki misteri yang belum terpecahkan oleh para arkeolog.

Namun, mayoritas ahli sejarah memperkirakan bahwa pusat kegiatan kerajaan berada di sekitar Menggala dan Pagar Dewa, yang sekarang masuk ke dalam wilayah administratif Tulang Bawang Barat.

Kerajaan Tulang Bawang pada akhirnya bukan sekadar dongeng usang tentang raja dan kekuasaan semata, melainkan sebuah refleksi dari perjalanan panjang peradaban manusia.

Sebagai generasi muda yang cerdas, mengeksplorasi situs bersejarah lokal tentu jauh lebih berfaedah dan membanggakan daripada waktu luangmu habis hanya untuk merenungi ketidakpastian sikap si dia di media sosial!

3 Poin Penting:

  • Fondasi Kuno Berwujud Hindu: Kerajaan Tulang Bawang diyakini menjadi salah satu pelopor kerajaan tertua di Lampung yang pada masa awal berdirinya memiliki pengaruh kebudayaan Hindu yang sangat pekat.

  • Kaitan Erat dengan Migrasi Kuno: Lini masa sejarah kerajaan ini memiliki hubungan erat dengan gelombang perpindahan suku bangsa dari wilayah Vietnam menuju daratan Sumatra di masa lampau.

  • Pilar Budaya dan Penyebaran Islam: Kerajaan Tulang Bawang memegang peran yang sangat krusial dalam pembentukan tatanan adat, perkembangan budaya lokal, serta menjadi gerbang awal penyebaran agama Islam di Lampung.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan