Search
Search
Search

Pangandaran Fest Sajikan 1.400 Mangkuk Pindang Gunung, Strategi Promosi Kuliner Lokal Jadi Sorotan

Senin, 26 Oktober 2026

Pindang Gunung (ist)

Sebanyak 1.400 mangkuk sop ikan pindang gunung disajikan dalam parade kuliner di Alun-Alun Paamprokan, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari Pangandaran Fest ini digelar untuk memperingati Hari Jadi ke-14 Kabupaten Pangandaran.

Bukan sekadar pesta makan bersama, parade tersebut menjadi cara pemerintah daerah memperkenalkan kuliner khas kepada masyarakat sekaligus menarik perhatian wisatawan.

Di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin kompetitif, langkah mengangkat makanan tradisional bisa menjadi strategi untuk membuat Pangandaran memiliki daya tarik yang lebih kuat.

Kepala Bidang Industri Pariwisata, Investasi dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Pangandaran, Rico Aprianto Purnama, menjelaskan bahwa jumlah 1.400 mangkuk dipilih untuk menandai usia Kabupaten Pangandaran yang genap 14 tahun.

Konsep ini menunjukkan bahwa perayaan daerah dapat dikemas secara kreatif dengan melibatkan pelaku usaha lokal.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai acara seremonial, melainkan mampu memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Libatkan Pelaku Usaha, Pindang Gunung Berpeluang Naik Kelas

Parade kuliner ini melibatkan pelaku usaha dari sejumlah kawasan wisata, antara lain Karapyak, Pangandaran, Batukaras, Green Canyon, Madasari, dan Batu Hiu.

Setiap peserta diminta menyiapkan pindang gunung sesuai dengan kemampuan masing-masing. Menurut Rico, para pelaku usaha merespons positif ajakan tersebut dan turut mendukung perayaan hari jadi kabupaten.

Setelah melalui penilaian dewan juri dan kunjungan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), hidangan yang disiapkan kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Keterlibatan berbagai kawasan ini menjadi peluang untuk memperluas jejaring usaha sekaligus memperkenalkan variasi penyajian kuliner khas Pangandaran.

Salah satu peserta, Pardodi dari Ideas Villas Pangandaran, mengaku menyiapkan sekitar dua kilogram ikan untuk hidangan yang dibawanya.

Ia mengangkat konsep penyajian berbentuk ikan marlin, tetapi menggunakan daging ikan kakap. Menurut Pardodi, hidangannya memiliki cita rasa gurih, meskipun tingkat kepedasannya masih bisa ditingkatkan.

Kreativitas tersebut memperlihatkan bahwa makanan tradisional dapat dikembangkan melalui inovasi penyajian tanpa harus kehilangan identitas dasarnya.

Ke depan, pelaku usaha dapat didorong untuk meningkatkan kualitas rasa, konsistensi resep, kebersihan pengolahan, dan tampilan hidangan agar pindang gunung semakin mudah diterima oleh wisatawan dari berbagai daerah.

Pindang Gunung Jadi Warisan Budaya, Promosi Tidak Boleh Musiman

Pindang gunung bukan hanya sajian yang meramaikan perayaan hari jadi. Kuliner tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2026, sehingga memiliki nilai budaya yang layak diperkenalkan lebih luas.

Rico mengatakan bahwa parade kuliner menjadi salah satu upaya untuk memperkuat identitas makanan khas daerah.

Pengakuan sebagai warisan budaya merupakan modal penting, tetapi nilai tersebut akan lebih terasa jika diikuti upaya dokumentasi resep, pengenalan sejarah kuliner, serta pelibatan generasi muda dalam menjaga tradisi memasak.

Promosi pindang gunung juga perlu melibatkan hotel, restoran, rumah makan, dan berbagai usaha kuliner lainnya.

Wisatawan akan lebih mudah mengenal makanan khas apabila hidangan tersebut tersedia secara konsisten di lokasi yang mereka kunjungi, bukan hanya saat festival berlangsung.

Pemerintah daerah dapat mendukungnya melalui peta kuliner, promosi digital, paket wisata gastronomi, serta pelatihan bagi pelaku usaha.

Dengan strategi tersebut, pindang gunung berpotensi menjadi alasan tambahan bagi wisatawan untuk menjelajahi kawasan Pangandaran, memperpanjang masa kunjungan, dan membelanjakan uangnya di usaha lokal.

Promosi budaya pun dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Batik Pangandaran Ikut Dipromosikan, Ekonomi Kreatif Perlu Diperluas

Selain parade pindang gunung, Pangandaran Fest menghadirkan kegiatan membatik yang berkolaborasi dengan Bank Indonesia. Program ini mengajak wisatawan mengenal motif batik Pangandaran, termasuk desain yang terinspirasi dari unsur pada uang rupiah.

Motif yang diperkenalkan mencakup unsur Pangandaran, pahlawan, flora, dan fauna. Pengunjung juga dapat melihat serta membeli produk batik dari pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang membuka stan.

Kehadiran kegiatan ini memperlihatkan bahwa promosi pariwisata tidak harus bergantung pada keindahan pantai, tetapi dapat diperluas melalui budaya, kerajinan, dan pengalaman kreatif yang melibatkan wisatawan secara langsung.

Meski demikian, keberhasilan festival sebaiknya tidak hanya dinilai dari jumlah hidangan yang disajikan atau ramainya pengunjung selama acara.

Pemerintah daerah perlu mengukur dampaknya terhadap penjualan pelaku usaha, jangkauan promosi, jumlah wisatawan yang tertarik mencoba kuliner lokal, serta peluang kerja sama setelah festival berakhir.

Rico berharap parade pindang gunung dapat dikembangkan pada pelaksanaan berikutnya, termasuk kemungkinan mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Target tersebut tentu menarik, tetapi nilai yang lebih penting adalah menjadikan pindang gunung dan batik Pangandaran sebagai produk unggulan yang terus berkembang.

Jika promosi dilakukan secara konsisten, Pangandaran Fest dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif sekaligus sarana menjaga warisan budaya daerah.

Statement:

Rico Aprianto Purnama, Kepala Bidang Industri Pariwisata, Investasi dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Pangandaran

“Kenapa 1.400 Pindang Gunung? Kita ingin meramaikan angka 14 dengan mempertimbangkan pelaku usaha yang ada di Pangandaran.”

“Kita ingin mem-branding bahwasanya Pindang Gunung ini menjadi makanan khas dari Pangandaran.”

3 Poin Penting:

  • 1.400 mangkuk pindang gunung disajikan: Parade kuliner dalam Pangandaran Fest digelar untuk memperingati Hari Jadi ke-14 Kabupaten Pangandaran dan melibatkan pelaku usaha dari berbagai kawasan wisata.
  • Pindang gunung diperkuat sebagai identitas daerah: Kuliner khas Pangandaran yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2026 berpotensi dikembangkan melalui promosi berkelanjutan dan kolaborasi dengan sektor perhotelan serta restoran.
  • Batik dan ekonomi kreatif turut diperkenalkan: Kegiatan membatik dan stan UKM melengkapi festival, dengan harapan memperluas pasar produk lokal serta meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan