Pecah Rekor Dunia! 5.054 Porsi Ketupat Cap Go Meh Bobon Santoso Guncang Jakarta

Jumat, 6 Maret 2026

Ketupat Cap Gomeh Bobon Santoso (dok. marketeers)

Indonesia baru saja mencatatkan tinta emas di kancah internasional dengan keberhasilan memecahkan Guinness World Record (GWR) melalui sajian Ketupat Cap Go Meh terbanyak sepanjang sejarah.

Sebanyak 5.054 porsi ketupat ludes disajikan dalam gelaran spektakuler bertajuk “Makan Besar Bersama Bobon Santoso” yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, pekan lalu.

Aksi masak raksasa ini tidak hanya mengenyangkan perut ribuan warga yang hadir, tetapi juga membuktikan bahwa kuliner tradisional kita punya daya tawar kelas dunia yang sangat diperhitungkan.

Kategori yang berhasil diamankan oleh Indonesia adalah Most Servings of Ketupat Cap Go Meh Served in 8 Hours.

Pemilihan menu ketupat dalam perayaan Cap Go Meh tahun ini merupakan sebuah bentuk akulturasi budaya yang sangat kental, sekaligus menunjukkan kreativitas dan inklusivitas masyarakat Indonesia.

Di tangan konten kreator Bobon Santoso dan tim, bahan-bahan lokal disulap menjadi mahakarya kuliner yang mampu menarik perhatian mata dunia sekaligus memperkuat identitas bangsa di tengah gempuran tren makanan modern.

Simbol Persatuan Bangsa dan Akulturasi Budaya Menjelang Ramadan

Menariknya, perayaan Imlek dan Cap Go Meh tahun 2026 ini jatuh berdekatan dengan momentum bulan suci Ramadan.

Hal ini menjadikan kegiatan makan besar tersebut bukan sekadar festival rasa, melainkan simbol kuat persatuan bangsa di tengah keberagaman tradisi.

Ketupat yang identik dengan Lebaran bersanding harmonis dengan tradisi Cap Go Meh, menciptakan harmoni visual dan rasa yang merepresentasikan betapa indahnya toleransi di tanah air melalui media kuliner yang universal.

Selain aspek sosial, acara ini juga diposisikan sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi dari sisi ekonomi kreatif. Dengan melibatkan ribuan porsi makanan, terjadi perputaran ekonomi yang signifikan bagi para pemasok bahan baku lokal.

Momentum ini membuktikan bahwa narasi kebangsaan bisa dikemas secara populer melalui konten kreatif yang berdampak nyata, menjembatani tradisi lama dengan cara penyampaian baru yang lebih segar dan diterima oleh lintas generasi, termasuk anak muda.

Kolaborasi Epic UKM dan Konten Kreator di Panggung Dunia

Nilai-nilai kebangsaan tercermin sangat kuat dalam hiruk-pikuk kegiatan di Lapangan Banteng kemarin. Antusiasme dan partisipasi masyarakat yang membeludak membuktikan bahwa industri kreatif bukan hanya milik perusahaan besar semata.

Para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM), komunitas lokal, hingga deretan konten kreator bahu-membahu menyukseskan pemecahan rekor ini.

Mereka hadir bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari ekosistem yang menjaga kekayaan tradisi Indonesia agar tetap relevan.

Kontribusi para UKM dalam menyediakan bahan baku dan tenaga pendukung menunjukkan betapa solidnya jejaring ekonomi kreatif di level akar rumput.

Mereka sangat bersemangat menampilkan kualitas produk lokal sambil tetap setia pada pakem bumbu tradisional.

Melalui event berskala global seperti ini, profil para pelaku usaha kecil otomatis terangkat, memberikan kepercayaan diri bahwa produk lokal mampu bersaing dan diakui secara resmi oleh lembaga pencatat rekor dunia paling bergengsi.

Masa Depan Ekonomi Kreatif Melalui Kuliner Tradisional

Keberhasilan menyabet gelar dari Guinness World Record ini diharapkan menjadi pemantik bagi daerah lain untuk mengeksplorasi potensi kulinernya masing-masing.

Indonesia memiliki ribuan jenis masakan yang masih menyimpan potensi untuk diviralkan dan dijadikan komoditas ekonomi kreatif yang menjanjikan.

Dengan sentuhan kreativitas ala milenial dan Gen Z, kuliner yang dulunya dianggap “biasa saja” bisa berubah menjadi aset bangsa yang mampu mendatangkan wisatawan dan investasi di masa mendatang.

Lapangan Banteng pun menjadi saksi bisu bahwa ketika kreativitas bertemu dengan semangat gotong royong, tidak ada rekor yang mustahil untuk dipecahkan.

Perjalanan 5.054 porsi ketupat ini barulah awal dari kebangkitan kuliner nusantara yang lebih masif.

Kedepannya, tantangan bagi kita semua adalah bagaimana menjaga konsistensi kualitas dan terus berinovasi agar warisan budaya ini tidak lekang oleh zaman dan tetap menjadi kebanggaan di setiap suapannya bagi anak cucu kita nanti.

3 Poin Penting:

  1. Indonesia resmi memecahkan Guinness World Record dengan menyajikan 5.054 porsi Ketupat Cap Go Meh dalam waktu 8 jam di Lapangan Banteng.

  2. Acara bertajuk “Makan Besar Bersama Bobon Santoso” ini menjadi simbol akulturasi budaya dan persatuan karena berdekatan dengan momentum Ramadan.

  3. Kegiatan ini sukses menggerakkan sektor ekonomi kreatif dengan melibatkan UKM lokal, konten kreator, dan komunitas dalam skala internasional.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir