Search

Peneliti Sains Mencari Asal-usul Hajar Aswad yang Penuh Kontroversi

Senin, 13 Oktober 2025

Batu Hajar Aswad (istimewa)

Hajar Aswad, batu suci yang tertanam di sudut Kabah, telah menjadi pusat spiritual bagi umat Islam sejak zaman Nabi Ibrahim.

Kisah yang dituturkan secara turun-temurun menyebutkan bahwa batu hitam berkilau ini berasal dari surga—sebuah narasi transenden yang diterima dengan penuh keyakinan.

Namun, di balik keagungan spiritualnya, batu ini juga menarik perhatian para ilmuwan, yang berupaya menyingkap tabir misteri asalnya melalui kacamata sains, khususnya melalui kategorisasi geologisnya.

Penelitian ilmiah, dengan mencoba mencari titik temu antara kisah suci dan fakta material, menyimpulkan satu hipotesis besar: Hajar Aswad kemungkinan adalah batu meteor atau meteorit.

Kesimpulan ini sebagian besar didorong oleh narasi tradisional tentang asal-usulnya yang “dari surga,” yang dalam konteks ilmiah diterjemahkan sebagai benda luar angkasa.

Hipotesis ini juga didukung oleh catatan sejarah tentang adanya jejak-jejak meteorit yang ditemukan di dekat lokasi Kakbah.

Jejak Kawah Wabar dan Komposisi Nikel

Salah satu bukti ilmiah yang paling kuat datang dari studi yang dilakukan oleh E. Thomsen pada 1980. Thomsen merujuk pada temuan peneliti bernama Philby pada tahun 1932 di Al-Hadidah, yang menemukan adanya kawah tumbukan meteor yang kemudian dinamai Wabar.

Kawah ini, yang berukuran lebih dari 100 meter, menyisakan pecahan-pecahan yang tersebar di gurun sekitarnya.

Pecahan-pecahan meteorit dari Wabar ini memiliki komposisi unik: leburan pasir dan silika yang bercampur dengan nikel.

Thomsen mencatat bahwa percampuran zat ini menghasilkan warna putih di lapisan dalamnya, sementara bagian luarnya terbungkus oleh cangkang hitam pekat.

Warna hitam ini disimpulkan berasal dari nikel yang didapatkan dari ledakan nikel dan ferum (besi) di luar angkasa—sebuah ciri yang menurut Thomsen, sangat sesuai dengan gambaran Hajar Aswad.

Kisah Perubahan Warna: Dosa Manusia dan Paparan Zat Kimia

Hipotesis Thomsen bahkan mencoba menjelaskan perubahan warna Hajar Aswad. Secara spiritual, batu suci ini digambarkan awalnya berwarna putih, kemudian berubah menjadi hitam karena menyerap dosa-dosa manusia.

Secara ilmiah, Thomsen berpendapat bahwa bintik putih yang terlihat pada Hajar Aswad kemungkinan adalah sisa kaca dan batu pasir, atau paparan bagian inti campuran zat kimia di dalamnya.

Thomsen menegaskan bahwa lapisan warna putih pada pecahan meteorit Wabar tidak akan tahan lama, yang membuatnya berada di bawah lapisan hitam di permukaan.

Kelemahan Teori Meteorit dan Misteri yang Abadi

Meskipun teori meteorit menawarkan penjelasan ilmiah yang menarik, ia tidak luput dari kritik dan kelemahan. Para ilmuwan yang skeptis menyoroti sifat-sifat batu meteor pada umumnya, yang dikenal sulit untuk mengapung, tidak mudah pecah menjadi pecahan kecil, dan relatif tahan terhadap erosi.

Beberapa ciri ini tidak sepenuhnya cocok dengan kondisi fisik Hajar Aswad. Selain itu, ada penelitian lain yang menyebut usia Hajar Aswad sama dengan jangkauan pengamatan Arab kuno, dan kemungkinan dibawa ke Makkah melalui rute Oman.

Pada akhirnya, kontroversi ilmiah ini justru semakin memperkuat misteri Hajar Aswad, menjadikannya sebuah fenomena unik yang terus menyatukan dimensi spiritual dan empiris.

Statement:

E. Thomsen, peneliti

“Melalui studi material, ciri-ciri pecahan meteorit Wabar yang memiliki cangkang hitam luar dan inti putih di dalamnya sangat sesuai dengan gambaran Hajar Aswad. Meskipun teori ini memiliki kelemahan, ia memberikan jembatan ilmiah yang paling kuat untuk memahami asal-usul ‘batu dari surga’ tersebut.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan