Search

Penjualan Lesu, Industri Komponen Otomotif Indonesia Terancam PHK Massal

Minggu, 31 Agustus 2025

Perakitan kendaraan (GIAMM)

Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) melaporkan bahwa industri komponen otomotif nasional menghadapi ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Hal ini dipicu oleh penurunan penjualan kendaraan di pasar domestik yang signifikan, yang tidak tertolong oleh kebijakan impor mobil listrik (BEV) secara utuh atau CBU.

Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, menyatakan bahwa PHK telah mulai terjadi sejak pertengahan 2024.

Berdasarkan laporan dari anggota GIAMM, jumlah karyawan yang terdampak bervariasi, mulai dari 3% hingga 23% dari total pekerja di beberapa perusahaan.

Tuntutan Insentif Pajak

GIAMM telah mengusulkan kepada pemerintah untuk memberikan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM-DTP) bagi produk otomotif yang memiliki kandungan lokal di atas 60%.

Langkah ini dinilai dapat mendongkrak pasar domestik dan meningkatkan pasokan komponen ke pabrikan.

Selain penurunan penjualan mobil konvensional, meningkatnya impor truk CBU untuk sektor pertambangan serta pertumbuhan pasar mobil listrik yang tidak memerlukan banyak komponen juga turut menekan industri.

Akibatnya, total pasar otomotif tergerus lebih dari 38%.

Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penurunan penjualan retail mobil sebesar 10,8% dan penjualan wholesales sebesar 10,1% pada periode Januari-Juli 2025.

Penjualan kendaraan roda dua juga mengalami penurunan di periode yang sama.

Statement:

Rachmat Basuki, Sekretaris Jenderal GIAMM

“Sepertinya gerakannya (pemerintah) kurang cepat, khawatirnya kami kalau kondisi pasar terus turun yang pasti pengurangan karyawan enggak bisa dihindari.”

“GIAMM usul ke Pemerintah kalau bisa ada PPnBM-DTP untuk produk-produk yang punya lokal content di atas 60 persen seperti waktu covid 19 akan menaikkan pasar domestik dan menaikkan suplai komponen ke Pabrik mobilnya.”

“Ya logikanya seperti itu, kalau ordernya berkurang terus, yang bekerja harus dikurangi untuk perusahaan bisa bertahan.”

“Berdasarkan informasi anggota, pengurangan karyawan sebenarnya mulai terjadi di pertengahan 2024. Berdasarkan info per Juli kemarin pengurangan karyawan bervariasi 3-23 persen tergantung dari jenis perusahaan masing-masing.”

“Itu membuat total pasar tergerus lebih dari 38 persen. Dan dengan sangat terpaksa beberapa industry komponen atau part yang tidak bisa export mengurangi karyawannya.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan