Selamat Jalan Sang Pahlawan Hutan: Prof. Biruté Mary Galdikas dan Warisan Abadi untuk Orangutan Kalimantan

Senin, 13 April 2026

Prof. Biruté Mary Galdikas [dok. instagram]
Prof. Biruté Mary Galdikas [dok. instagram]

Dunia konservasi internasional dan masyarakat Kalimantan Tengah tengah diselimuti awan duka yang mendalam.

Prof. Biruté Mary Galdikas, seorang tokoh legendaris yang mendedikasikan seluruh hidupnya sebagai pelestari orangutan dunia, dikabarkan telah berpulang pada Selasa, 24 Maret 2026.

Beliau mengembuskan napas terakhirnya di Los Angeles, Amerika Serikat, pada usia 79 tahun, meninggalkan duka yang teramat dalam bagi para aktivis lingkungan dan pemerintah Indonesia yang selama ini menjadi mitra setianya dalam menjaga paru-paru dunia.

Kepergian Prof. Biruté bukan sekadar kehilangan seorang ilmuwan, melainkan kehilangan figur ibu bagi ribuan primata di Borneo.

Selama lebih dari setengah abad, ia telah menjadikan hutan tropis Kalimantan Tengah sebagai rumah keduanya.

Dedikasi tanpa batas ini bermula dari visi besarnya untuk melindungi ekosistem hutan dan menjaga keberlangsungan hidup orangutan melalui pendirian pusat rehabilitasi yang kini menjadi ikon dunia di Taman Nasional Tanjung Puting.

Lebih dari 50 Tahun Mendedikasikan Hidup di Jantung Borneo

Perjalanan panjang Prof. Biruté di Indonesia bukanlah jalan yang mudah.

Sejak dekade 1970-an, ia terjun langsung ke lapangan untuk menyelamatkan, merawat, dan memastikan setiap orangutan yang menjadi korban perburuan maupun deforestasi bisa kembali ke habitat aslinya.

Melalui organisasi Orangutan Foundation International (OFI), beliau berhasil menciptakan standar global dalam upaya konservasi primata besar, menjadikan perlindungan orangutan sebagai isu prioritas di mata masyarakat internasional.

Bagi Indonesia, sosok beliau adalah pahlawan yang tak kenal lelah menyuarakan pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.

Karyanya tidak hanya tertuang dalam jurnal-jurnal ilmiah kelas dunia, tetapi juga dalam jejak kaki yang ia tinggalkan di jalur-jalur setapak hutan Tanjung Puting.

Berkat kegigihannya, ribuan orangutan berhasil diselamatkan dari kepunahan, dan jutaan hektar hutan tropis tetap terjaga sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Warisan Abadi dan Komitmen Melanjutkan Perjuangan Konservasi

Kepergian sang “Pahlawan Hutan Borneo” ini menjadi pengingat keras bagi kita semua akan pentingnya melanjutkan estafet perjuangan yang telah ia rintis.

Pemerintah Indonesia bersama berbagai lembaga swadaya masyarakat berkomitmen untuk terus menjaga standar konservasi yang telah diletakkan oleh Prof. Biruté.

Semangat dan cintanya terhadap alam Kalimantan Tengah diharapkan dapat menginspirasi para peneliti muda dan aktivis lingkungan untuk tidak pernah menyerah dalam menjaga kekayaan hayati tanah air.

Meski raga beliau kini telah tiada, filosofi pengabdiannya akan selalu hidup dalam rimbunnya pepohonan dan suara-suara penghuni hutan di Kalimantan Tengah.

Prof. Biruté telah membuktikan bahwa cinta terhadap alam mampu menembus batas kewarganegaraan dan jarak. Selamat jalan, Prof. Biruté Mary Galdikas.

Dedikasi tulusmu akan selalu menjadi inspirasi yang abadi bagi seluruh pejuang konservasi di seluruh penjuru bumi.

Statement

Budi Lesmana (Aktivis Lingkungan)

“Selama lebih dari 50 tahun, Prof. Biruté mendedikasikan hidupnya untuk menjaga ekosistem hutan tropis dan melindungi orangutan Kalimantan Tengah. Beliau menjadi figur kunci dalam upaya global melindungi primata kebanggaan kita dari kepunahan melalui Orangutan Foundation International.”

3 Poin Penting:

  • Kehilangan Tokoh Besar: Prof. Biruté Mary Galdikas, pelestari orangutan legendaris, wafat pada usia 79 tahun di Los Angeles setelah mendedikasikan lebih dari 50 tahun hidupnya di Kalimantan.

  • Dedikasi di Tanjung Puting: Beliau merupakan pendiri pusat rehabilitasi orangutan di Tanjung Puting dan figur kunci di balik kesuksesan Orangutan Foundation International (OFI).

  • Warisan Konservasi Global: Upaya beliau dalam penyelamatan dan pelepasliaran ribuan orangutan telah menjadi standar internasional dalam menjaga ekosistem hutan tropis dan keanekaragaman hayati.

[gas/man]

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir